07 November 2021, 05:00 WIB

Squid Game, Pinjol, dan Ketimpangan


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

MI/Ebet
 MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

SERIAL drama survival Korea Selatan, Squid Game, menjadi yang terpopuler di Netflix. Pada bulan pertama sejak pemutarannya pada pertengahan September lalu, serial itu telah ditonton kurang lebih 140 juta orang di seluruh dunia. Sejumlah media Amerika Serikat menyebut dengan ongkos produksi sebesar US$21 juta (sekitar Rp300 miliar), Netflix meraup untung hingga US$900 juta (sekitar Rp12,5 triliun) dari pertumbuhan pelanggan dan meroketnya harga saham perusahaan.

Kilau kesuksesan itu sebenarnya berbanding terbalik dengan realitas muram yang menjadi inti serial tersebut. Persoalan utang dan jurang kesenjangan di Korea yang begitu menganga menjadi ide dasar sang sutradara Hwang Dong-hyuk mengangkat persoalan itu ke dalam karyanya. Sama seperti halnya Parasite, film Korea peraih Piala Oscar tahun lalu, yang mengangkat masalah ketimpangan yang jomplang di 'Negeri Ginseng'. Ketika Parasite dikemas sebagai drama rumah tangga, Squid Game divisualkan dalam bentuk drama survival.

Inti ceritanya berpusat pada sejumlah orang yang terlilit oleh utang dan persoalan finansial lainnya di Korea. Untuk lepas dari persoalan tersebut, mereka mengikuti sebuah lomba/permainan untuk mendapatkan hadiah sekitar US$38 juta (Rp532 miliar). Namun, uang tersebut hanya untuk satu pemenang di akhir permainan. Sementara itu, ratusan peserta lainnya mesti berusaha sekuat tenaga bertahan jika tak ingin tereliminasi atau mati. Drama survival yang dikemas secara brutal itu merupakan satire atas realitas kehidupan kelam sebagian warga Korea yang terjerat oleh utang.

Menurut The Guardian, utang rumah tangga di Korea Selatan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan sekarang setara dengan lebih dari 100% dari PDB negeri tersebut. Melonjaknya utang itu seiring dengan kesenjangan pendapatan yang kian melebar dan diperburuk meningkatnya pengangguran kaum muda dan harga properti di kota-kota besar di luar kemampuan kebanyakan pekerja biasa di Korea.

Lee In-cheol, kepala eksekutif lembaga thinktank Real Good Economic Research Institute, menyebut jumlah warga yang berutang itu bahkan sudah dalam taraf mengkhawatirkan. "Jumlah total utang yang dijalankan warga Korea Selatan biasa melebihi PDB sebesar 5%," katanya. “Dalam istilah individu, itu berarti bahwa bahkan jika Anda menabung setiap sen yang Anda peroleh selama satu tahun penuh, Anda masih tidak dapat membayar utang Anda,” katanya seperti dikutip The Guardian, akhir pekan lalu.

The Strait Times menyebut utang rumah tangga di Korea mencapai rekor tertinggi 1.805 triliun won (sekitar Rp21,6 triliun) pada Juni lalu, hampir dua kali lipat dari angka 10 tahun lalu. Hal itu disebabkan meningkatnya pinjaman karena orang bergegas membeli rumah baru lantaran takut harga properti semakin melambung. Sebagian dari mereka itu terperangkap oleh bujuk rayu lembaga pinjaman, yang begitu mudahnya menawarkan dana semudah menyeduh kopi.

Oleh karena itu, kata Lee, lembaga komisi jasa keuangan dan layanan pengawasan keuangan di negeri itu kini berupaya turun tangan agar tidak semakin banyak warga terjerumus dalam pusaran utang. Fenomena itu mungkin seperti di Indonesia yang membuat seorang ibu muda di Cinere, Depok, Jawa Barat, belum lama ini gantung diri lantaran terjerat oleh pinjaman online. Pemerintah pun sampai harus turun tangan memberantas para rentenir online tersebut.

Melalui Squid Game, Hwang sang sutradara ingin menegaskan betapa suramnya terperangkap dalam jerat utang dan pesan karyanya itu menyadarkan para pemirsa di seluruh dunia bahwa sisi gelap kapitalisme (baca: ketimpangan) itu nyata, bukan sekadar kisah fiksi di layar kaca.

BERITA TERKAIT