18 August 2021, 15:10 WIB

Catatan dari Garuda Shield 2021


Andi Muhammad Darlis, Widyaiswara Pusdiklat Bela Negara Kementerian Pertahanan  | Opini

Dok pribadi
 Dok pribadi
Andi Muhammad Darlis,

KEGIATAN Joint Exercise of Soldiers the US Army and TNI AD pada 1-14 Agustus 2021 patut menjadi catatan sejarah bagi prajurit TNI khususnya Angkatan Darat karena melibatkan banyak prajurit dari kedua negara. Tercatat jumlah prajurit TNI AD yang terlibat 2.246 orang, sementara US Army melibatkan 2.282 personelnya. Sedangkan materi latihan terdiri dari staff exercise, field training exercise, live fire exercise, medical exercise dan aviation.  

Latihan ini mencatatkan sejarah karena selain jumlah pasukan yang terlibat cukup banyak juga dilaksanakan di tiga tempat yaitu Batu Raja (Sumsel), Amborawang (Kaltim) dan Makalisung (Sulut). Dalam konteks kerja sama militer kedua negara kegiatan latihan ini merupakan ajang untuk saling mempererat hubungan persahabatan yang sudah lama terjalin. Kegiatan ini pun menjadi bagian dari diplomasi pertahanan antar kedua negara. Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah beberapa kali mengadakan latihan gabungan dan di 2021 ini merupakan latihan yang ke-15 serta terbesar dari segi jumlah personel dan medan yang berbeda. 

Dalam latihan gabungan tersebut ada beberapa poin yang perlu dicermati yaitu; pertama, lokasi latihan yang dipilih untuk menjadi arena combat exercise adalah pulau-pulau besar Indonesia; Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi yang berjarak cukup jauh satu sama lain dan berlangsung secara simultan. Konsep latihan gabungan seperti ini tentu merupakan hal baru bagi TNI (TNI AD) karena latihan-latihan reguler termasuk latihan gabungan Tri Matra TNI biasanya dilakukan disuatu kawasan latihan tertentu.   

Latihan pertempuran dengan lokasi yang berjauhan tentu memerlukan koordinasi yang tidak mudah. Perkembangan situasi lapangan serta kebutuhan-kebutuhan mendesak yang perlu diketahui oleh Komando Atas tentu membutuhkan perhitungan dan kecermatan yang memerlukan kemampuan manajemen level tinggi. 

Kedua, latihan gabungan ini akan meningkatkan pengalaman bagi prajurit TNI AD khususnya bagi pasukan Lintas Udara karena melaksanakan terjun bersama dengan pasukan 82nd Air Borne Division US Army yang kenyang pengalaman tempur. Prajurit Lintas Udara TNI AD sudah berada di Fort Bragg Carolina Utara, tempat 82nd Air Borne Divison bermarkas sejak 16 Juli 2021 untuk kemudian melakukan terjun bersama di Batu Raja.  

Pengalaman ini tentu sangat berharga bagi prajurit TNI AD khususnya dalam meningkatkan skill lintas udara. Dalam sejarah, tercatat 82nd Air Borne Divison US Army ikut terlibat dalam Perang Dunia I dan II, Operasi Market Garden, Operasi Golden Pheasant, Grenada, Iraqi Freedom, Bosnia dan sejumlah operasi di belahan dunia lain. Hal ini tentu saja menjadi pengalaman berharga bagi TNI AD. Berlatih di tiga tempat berbeda juga menjadi keuntungan bagi prajurit US Army. Mereka juga dipastikan mendapatkan banyak pengalaman di tiga tempat berbeda di Indonesia karena dapat merasakan medan latihan yang lain  dari biasanya  karena beriklim tropis yang terdiri dari rawa, laut, sungai dan pantai (ralasuntai).
 
Ketiga, pemilihan lokasi yang berbeda dan lintas kepulauan menjadi catatan penting karena sejauh ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Latihan ini tentu akan memberikan nilai tambah, pengalaman dan dapat menjadi acuan ke depan dalam melakukan peperangan, dan tentu saja hal ini diharapkan dapat meningkatkan dan memperbaiki performa TNI AD dalam melakukan pertempuran  konvensional. 

Mengatasi perbedaan 

Arena latihan berada di lokasi yang cukup berjauhan dan berada dalam dua zona waktu berbeda yaitu waktu Indonesia barat (WIB) dan waktu Indonesia tengah (Wita), sehingga mampu menciptakan nuansa yang berbeda dari sebelumnya yang hanya dilakukan di satu lokasi sebagaimana yang biasa dilakukan TNI selama ini. Batu Raja berada di zona waktu WIB sementara Amborawang dan Makalisung berada di zona WITA, perbedaan waktu 1 jam. Kondisi ini akan memberikan cara pandangan bagi prajurit dan juga pimpinan militer Indonesia untuk dijadikan pembelajaran dan ini sebagai momentum bagaimana menerapkan manajemen pertempuran yang berjarak jauh  tersebut.  

Pertempuran yang berlangsung secara bersamaan di lokasi yang memiliki jarak cukup jauh, dapat menjadi bahan analisa bagaimana jika perang dengan kondisi saat ini benar-benar terjadi. Bagaimana menghitung logistik, personel, alutsista dan perangkat pendukung lainnya yang dibatasi oleh jarak dan waktu tersebut. Hal ini penting untuk dicermati oleh TNI (TNI AD) ke depan.

Keempat, berikutnya lagi yang perlu dicermati adalah lokasi latihan adalah merupakan kawasan strategis Indonesia karena berada di posisi alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Batu Raja dekat dengan ALKI I, Amborawang berhadapan langsung dengan ALKI II (Selat Makassar)dan Makalisung juga berada di ALKI III yang mengarah dan bermuara langsung ke Samudera Pasifik. Latihan ini harus menjadi perhatian bagi prajurit TNI (TNI AD) untuk memberikan perkuatan di kawasan itu karena wilayah tersebut adalah merupakan chokepoint yang bernilai strategis. Perlu diketahui bahwa terdapat 9 chokepoint di dunia dan 4 di antaranya berada di Indonesia (Selata Malaka, Sunda, Makassar dan Lombok). Hal itu menjadikan geopolitik dan geostrategis Indonesia selalu menjadi perhatian banyak negara khususnya di era Indo-Pasifik.

Kelima, kegiatan latihan gabungan yang digelar tersebut berlangsung di tengah memanasnya situasi di LCS (Laut Cina Selatan). Sebelum latihan gabungan ini digelar kapal-kapal perang dari sekutu AS seperti Inggris, Jerman, Belanda dan India telah memasuki kawasan LCS, seolah-olah AS memberikan sinyal kepada Tiongkok bahwa Indonesia bersama sekutu. Tak pelak kesan ini seperti sengaja dibangun AS sebagai bagian dari upaya menghadapi Tiongkok yang semakin asertif. Upaya AS ini tidak hanya di kawasan Indo-Pasifik tetapi juga berusaha membendung kerja sama Shanghai yang terdiri dari Tiongkok, Rusia, Kazakztan, Kirgiztan, Tajikiztan dan Uzbekistan. 

Bukan hal mengejutkan bila AS disebut berupaya menahan secara ekonomi dan sanksi, kampanye disinformasi dan menciptakan ketegangan jangka panjang. Terhadap upaya AS di kawasan Asia Tenggara patut dicermati pernyataan dari Menhan Rusia Sergey Kuzhugetovich Shoygu beberapa waktu lalu; "Bahwa ada niat buruk yang tengah dilakukan AS. Niat buruk itu dilakukan di kawasan Indonesia saat ini berada yakni Asia Tenggara. Niat buruk AS ini disinyalir dapat menjadi pemicu ketegangan jangka panjang di kawasan strategis tersebut." 

Pernyataan Kuzhugetovich itu muncul setelah ada pertemuan antara Menlu AS Antony Blinken dan Menlu RI Retno LP Marsudi di Washington. Dari pertemuan itu disepakati meningkatkan kerja sama bilateral dan bantuan Pusat Pelatihan Maritim di Batam untuk membantu mengamankan LCS. Sehingga wajar saja kalau hal itu menjadi perhatian Rusia dan Tiongkok. Demikian pula kunjungan AS ke Indonesia dimaknai oleh Rusia untuk menggalang dukungan dalam menghadapi Tiongkok.

Dalam pandangan Rusia, ketidakstabilan paling akut berada di Asia Tenggara di mana AS memaksa negara-negara di kawasan itu untuk membentuk struktur yang mirip NATO. Posisi Indonesia seperti 'gadis cantik yang diperebutkan banyak jejaka' tentulah membuat Pemerintah sangat menyadari hal tersebut. Terlebih Indonesia masih menganut prinsip non alignment atau non blok, sudah tepat hal ini terus dipertahankan. 

BERITA TERKAIT