16 June 2021, 05:05 WIB

Phubbing, Tantangan Hari Media Sosial


A Margana Wartawan, pegiat komunikasi sosial, Komisi Komsos KWI | Opini

A Margana Wartawan, pegiat komunikasi sosial, Komisi Komsos KWI
 A Margana Wartawan, pegiat komunikasi sosial, Komisi Komsos KWI
 

FENOMENA phubbing kini marak ditampilkan di berbagai media sosial. Phubbing ialah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang asyik mengulik handphone-nya dan tidak mengacuhkan atau cuek bebek terhadap teman atau orang di sekitarnya. Apa sumbangan Hari Media Sosial 10 Juni bagi fenomena phubbing tersebut?

Di media sosial ada tayangan seorang ibu duduk di taman asyik dengan handphone-nya. Anaknya, usia dua tahunan, main sendiri. Seorang pencuri anak membujuk anak itu dan membawanya lari. Si ibu baru sadar bahwa anaknya raib setelah perhatiannya terlepas dari layar handphone.

Ada lagi, seorang bapak menuruni tangga sebuah mal bersama istrinya yang lagi hamil. Si bapak asyik dengan handphone dan cuek dengan kondisi istrinya yang nyaris terjatuh. Untung ada pria lain yang memperhatikan, menyelamatkan ibu itu. Suaminya terus menuruni tangga sambil main handphone tak peduli dengan istrinya. Si penolong marah, merebut HP itu dan membantingnya berkeping-keping. Suaminya baru tahu istrinya tertinggal di tangga atas, dikerubuti dan ditolong orang banyak.

Gambaran lain juga suka ditayangkan di berbagai media sosial, misalnya, orang yang asyik melakukan phubbing sering menjadi sasaran pencurian dan copet. Tas atau dompet disambar pencuri tanpa dia sadari. Pelaku phubbing atau phubber juga digambarkan sering menjadi korban kecelakaan lalu lintas.

Masih banyak tayangan di media sosial tentang dampak negatif phubbing, untuk menyadarkan orang agar tidak terlalu larut dengan handphone, tak mengacuhkan kondisi di sekitar mereka. Kepedulian dengan orang lain dan kondisi sekitar jangan sampai dilupakan hanya demi keasyikannya di layar handphone.

Phubbing menjadi terkenal setelah asisten profesor pemasaran Meredith David dari Baylor University, Texas, memopulerkan sebagai kependekan dua kata, phone dan snubbing. Kata itu menggambarkan tindakan tidak acuh seseorang yang kelewat asyik dengan gawainya ketimbang berinteraksi dengan orang lain atau lingkungannya.

Phubbing disebutkan telah menghancurkan hubungan dengan sesama. Secara khusus, penelitiannya menunjukkan hubungan dengan pacar atau pasangan hidup terganggu dan berpotensi rusak karena phubbing.

Selain itu, phubbing mengganggu hubungan dengan orang di lingkungan mereka. Misalnya dalam suatu pertemuan di restoran atau meja makan. Mereka mestinya bercanda dan berkomunikasi secara langsung. Namun, kalau ada yang melakukan phubbing, pasti kelakuan itu akan merusak suasana kebersamaan. Di satu sisi, ia mengasingkan diri dari lingkungannya dan di pihak lain teman atau mitranya yang dicueki juga kesal dengan perlaku si phubber.

Penelitian terhadap mahasiswa Universitas Diponegoro oleh Ita Musfirowati Hanika (Jurnal Interaksi, Volume 4 Januari 2015), menemukan sebagian besar responden (60 orang) memang belum mengenal istilah phubbing, tetapi mereka sudah melakukannya. Alasan melakukan phubbing ialah menerima panggilan (54%), membuka chat/medsos (32%), dan bosan dengan pembicaraan (12%). Walaupun mereka suka melakukan phubbing, 64% mengaku terganggu kalau ada orang lain melakukannya. Sebelum melakukan phubbing, hanya 36% yang minta izin kepada temannya, sementara 64% tak minta permisi.

 

Kecanduan phubbing

Beberapa ahli menyebutkann phubbing merupakan suatu pertanda dari kecanduan smartphone. Kecanduan tentu memiliki efek pada otak, sama seperti orang kecanduan rokok atau narkoba. Kalau ada pemblokiran atau larangan agar mereka tidak menggunakan handphone, dampaknya bisa serupa dengan pecandu obat-obatan.

Efek buruk dari phubbing bukan hanya menimpa pelaku. Korban phubbing akan membalas dengan menggunakan handphne-nya sendiri. Rasa kecewa dan terluka akibat diacuhkan phubber itu akan mendorongnya untuk mengakses media sosial agar ia juga merasa lebih aktif dalam berinteraksi di dunia maya.

Phubbing bukan hanya dilakukan mahasiswa atau remaja. Phubbing sudah menjalar ke berbagai usia. Secara umum, phubbing menimbulkan efek buruk pada hubungan antarmanusia, baik pertemanan, pernikahan, atau percintaan. Orang akan kecewa dicuekin dan ditinggalkan karena phubber lebih mementingkan komunikasi dengan orang lain di dunia maya ketimbang partner yang ada di depan matanya.

 

Kegiatan phubbing

Banyak ragam kegiatan yang masuk kategori phubbing. Misalnya melihat handphone saat melakukan perbincangan dengan teman atau mengecek handphone saat pembicaraan terhenti, bahkan memotong pembicaraan untuk menjawab panggilan. Umumnya phubbing dilakukan seseorang untuk mengecek isi media sosial, mengunggah swafoto, mengirim pesan, atau bermain gim.

Semua kegiatan phubbing akan membuat partner merasa kurang diperhatikan dan menyebabkan pembicaraan tatap muka kurang bermakna. Kampanye untuk mengehentikan phubbing digencarkan agen periklanan McCann pada 2012. Setelah itu, istilah phubbing itu didaftarkan dalam kamus Macquarie.

Phubbing juga sering dijadikan alasan bagi seseorang untuk menjauhkan lawan bicara mereka dengan sengaja. Hal itu bisa terjadi apabila ada orang baru yang tidak disukai atau tidak membuat rasa nyaman dalam obrolan. Bagi pasangan, hal itu dilakukan apabila sedang merasa bosan dan lebih memilih mencari keasyikan dengan orang ketiga di media sosial.

Phubbing, apabila dilakukan sekali-dua, mungkin masih bisa dimaafkan pasangan atau teman. Namun, apabila dilakukan secara terus-menerus dan tak peduli dengan teman atau lingkungan, itu akan merusak hubungan sosial orang. Kebiasaan atau perilaku yang bersangkutan menghindar dari hubungan antarpersonal akan menjadi-jadi. Efek terburuk bagi phubber ialah ia akan dikucilkan atau ditinggalkan teman atau lingkungannya.

Hubungan sosial akan bermasalah karena akses informasi semakin sulit karena terbatasnya kemampuan mendengar dan membuka diri terhadap informasi dari teman yang dia tidak acuhkan selama ini. Kedua, respons lemah dalam memahami apa yang disampaikan lawan bicara dan maksud yang disampaikan dan, ketiga, keterlibatan sosial semakin kurang karena ia tak mampu menangkap apa yang mesti dilakukan.

Phubbing merupakan dampak ketika pengguna tak mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak. Hal itu menjadi pilihan ketika seeorang bosan dan enggan menyimak pembicaraan orang lain. Rendahnya kesadaran untuk mendengarkan membuatnya semakin acuh tak acuh.

Degradasai adab akibat phubbing akan terus terjadi apabila para phubber tak memiliki rasa simpati dan saling menghargai. Kebiasaan itu dapat dikurangi, dimulai dengan memupuk kesadaran diri dalam menggunakan handphone dan media sosial secara bijak.

Kesadaran untuk bersosialisasi dan berkomunikasi antarpersonal menjadi sangat penting dalam kehidupan bersama. Kita harus ingat bahwa manusia ialah insan sosial, bukan budak teknologi.

BERITA TERKAIT