12 May 2021, 05:40 WIB

Larangan Mudik dan Transmisi Internal


Iqbal Mochtar Dokter dan doktor bidang kedokteran dan kesehatan Pemerhati masalah kesehatan | Opini

Ilustrasi MI. Seno
 Ilustrasi MI. Seno
 

ADA berita mencemaskan. Pemerintah melakukan tes acak kepada masyarakat yang nekat mudik. Hasilnya, dari 6.742 yang dites, 61% di antaranya terkonfirmasi positif covid-19. Proporsi ini amat besar. Bila tes ini benar, figur ini tentu sangat mengkhawatirkan. Bila pemudik ini lolos, mereka sangat berisiko menularkan virus ke kampungnya.

Untung mudik memang dilarang. Artinya, pemerintah meredam transmisi antardaerah (transmisi eksternal) dan pelebaran episentrum covid-19. Ini patut dihargai.

Namun, pada saat yang sama, hal kontradiktif terlihat. Saat mudik Lebaran dilarang, masyarakat justru tumpah ruah di pasar-pasar, mal-mal, dan pusat perbelanjaan. Pasar Tanah Abang diserbu pengunjung yang sempat mencapai 100 ribu orang. Di Bandung, pengunjung rela antre dan berdesak-desakan sampai di jalanan hanya untuk masuk ke sebuah mal. Pada keadaan ini protokol kesehatan terabaikan; masker tidak digunakan secara benar dan tidak ada penjagaan jarak. Ironis, tapi nyata. Masyarakat memang tidak mudik, tetapi mereka justru terkongregasi di daerahnya dan melakukan interaksi lebih intens dengan komunitas sekelilingnya.

 

Superspreading event

Ledakan penyebaran virus dapat terjadi dalam periode singkat dan dipicu kegiatan tertentu. Ini dikenal sebagai superspreading event. Pemicu ledakan tidak harus event atau kegiatan massal. Kegiatan kecil, apalagi yang dilakukan secara intens dan berulang, dapat memicu penyebaran masif.

Superspreading event terutama dipicu komponen 3C; closed space (ruangan tertutup), crowded setting (suasana keramaian), dan closed contact (kontak erat dan lama dengan orang). Interaksi dalam ruangan tertutup, seperti pada rumah ibadah, mal, dan sekolah, meningkatkan risiko terinfeksi 18 kali lipat jika dibandingkan dengan ruangan terbuka. Melakukan kontak selama 10-15 menit dengan orang terkonfirmasi positif berpotensi besar menularkan covid-19.

 

Para ahli telah membuat daftar aktivitas yang berpotensi memicu ledakan infeksi. Menghadiri acara dalam ruang tertutup atau berdesak-desakan di mal termasuk dua kegiatan berisiko tinggi. Di Boston, Amerika Serikat, lebih 200 ribu orang diperkirakan terinfeksi setelah penyelenggaraan sebuah pertemuan yang dihadiri 195 orang. Pada event ini, semua komponen pemicu terpenuhi; ruangan tertutup, suasana keramaian, dan kontak erat.

 

Momen Lebaran 

 

Menjelang Lebaran, dua momen penting perlu mendapat perhatian; pengumpulan massa (mass gathering) seperti membeludaknya pengunjung mal dan pelaksanaan salat id di dalam masjid serta pengumpulan keluarga (family gathering).

 

Membeludaknya pengunjung mal berpotensi besar menjadi superpreading event. Kegiatan ini memenuhi ketiga komponen penyebaran infeksi; ruangan tertutup, suasana keramaian, dan kontak lama. Apalagi bila malnya merupakan fully indoor mall, tanpa ventilasi yang adekuat, tidak terlalu luas, dan dipadati pengunjung.

Idealnya, aktivitas mal harus ditutup atau dibatasi. Kalaupun terpaksa harus dibuka, setiap mal harus mengimplementasikan protokol kesehatan yang ketat; jam operasionalnya dibatasi, jumlah pengunjung dibatasi, pengunjung harus menggunakan masker, dan dianjurkan tidak berlama-lama di dalam mal.

Pelaksanaan salat id di masjid juga berpotensi berisiko. Besar risikonya tergantung pada luas masjid, jumlah jemaah, lama ibadah, serta ventilasi masjid. Idealnya salat id dilakukan di tanah lapang atau pada ruangan terbuka.

Bila dilaksanakan di masjid, protokol kesehatan mesti diberlakukan; jumlah jemaah dibatasi, jemaah berwudu dari rumah, membawa sajadah sendiri, dan menggunakan masker. Masjid juga harus menyiapkan hand sanitizer, mengatur jarak salat, membuka jendela, dan pelaksanaan ibadah tidak terlalu lama. Setelah selesai, jamah pulang tanpa melakukan salam dan peluk-pelukan.

Acara kumpul keluarga sering dianggap momen tanpa risiko. Alasannya, semua yang berkumpul ialah keluarga sendiri dan mereka pasti jujur apabila memiliki keluhan atau terkonfirmasi covid-19. Mereka merasa berada di family bubble yang aman. Karena itu, mereka berkumpul, bercengkerama, makan Bersama, dan berkomunikasi dalam waktu lama tanpa protokol kesehatan.

 

Padahal, sejatinya acara ini berpotensi menimbulkan superspreading. Ketika beberapa orang berkumpul bersama, dalam waktu lama dan tanpa protokol kesehatan, risiko penularan covid-19 menjadi meningkat. Tidak adanya gejala pada anggota keluarga bukan jaminan mereka bebas covid-19.

Proporsi orang positif tanpa gejala cukup besar pada komunitas, yaitu antara 30% dan 60%. Artinya, walaupun keluarga yang datang tidak memiliki keluhan, tetap ada kemungkinan mereka menderita covid-19 dan dapat menularkan ke keluarga. Studi menemukan bahwa 40% penyebaran covid-19 justru dilakukan orang yang tidak memiliki gejala.

Penyebaran ini akan lebih cepat bila acara dilakukan dalam ruangan tertutup dan dihadiri lebih 20-30 orang. Risiko lebih besar lagi apabila acara dihadiri orang yang tidak berasal dari satu rumah atau berasal dari daerah yang jauh. Para ahli mengategorikan risiko kumpul keluarga ini sebagai level 6 dari skala risiko 1-10.

Idealnya, acara kumpul keluarga sebaiknya dilakukan secara daring. Kalaupun terpaksa harus bertemu langsung, perlu mengimplementasikan protokol kesehatan. Ini memang tidak nyaman, tapi penting untuk menjaga penularan covid-19.

 

Transmisi internal

 

Program larangan mudik patut diapresiasi. Larangan ini dapat mencegah penularan infeksi antardaerah (transmisi eksternal) dan perubahan episentrum pandemi. Namun, larangan ini perlu lebih dipertajam dengan membatasi pengumpulan massa di tiap-tiap daerah, termasuk pembatasan atau penutupan mal. Bila tidak, pemerintah terkesan hanya mengendalikan transmisi antardaerah (transmisi eksternal), tetapi lalai mengontrol transmisi intradaerah (transmisi internal).

Strategi pembatasan pengumpulan massa ini mungkin tidak populer, tetapi penting. Pemerintah mesti fokus pada transmisi eksternal dan transmisi internal. Pemerintah jangan hanya mengecek jumlah pemudik yang terkonfirmasi positif, tetapi juga mengecek jumlah pengunjung mal yang terkonfirmasi positif. Melarang mudik tanpa melarang kegiatan berkumpul saat Lebaran tidak akan efektif mengurangi transmisi infeksi. Transmisi internal dan eksternal sama pentingnya dalam penyebaran virus.

 

BERITA TERKAIT