07 December 2020, 21:30 WIB

Spirit 1 Juta Barrel Minyak


Suhendra Atmaja | Praktisi Komunikasi Perminyakan | Opini

Dok. Pribadi
 Dok. Pribadi
Dok. Pribadi

   PERHELATAN 2020 International Convention on Indonesian Upstream Oil & Gas (IOG) baru saja usai pada Jumat (25/12) lalu. Perhelatan terbesar, yang digelar oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (SKK Migas) tersebut, dinilai cukup sukses. Karena, mampu menghadirkan 12 Ribu partisipan dari berbagai elemen, termasuk juga investor dari 57 Negara. Apalagi, kegiatan dilakukan secara virtual, mengingat Indonesia masih menjadi negara yang terdampak covid-19.

    Kesuksesan penyelenggaraan Indonesia Oil and gas (IOG Covention) 2020 ini paling tidak, membuktikan, bahwa sektor minyak dan gas bumi menjadi sektor yang penting di semua negara, termasuk juga Indonesia. Migas masih sebagai salah satu pendapatan negara terbesar.

    Pentingnya event ini, juga karena acara ini disupport oleh sejumlah Menteri, di antaranya, Menko Bidang  Investasi dan penanaman modal Luhut B Panjaitan, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Energi sumberdaya Mineral, Arifin Tasrief. Kehadiran para Menteri ini,  menunjukan keseriusan pemerintah, untuk mewujudkan program Produksi minyak 1 juta minyak pada tahun 2030.

     Untuk mewujudkan program 1 juta barrel minyak tahun 2030, SKK Migas tentu tidak bisa bekerja sendiri. Namun, harus didukung oleh semua pemangku kepentingan, stakeholder dan KKKS (Kontraktor Kontrak Kerjasama), pemerintah provinsi, kabupaten dan masyarakat. Jika tidak  didukung, program peningkatan produksi minyak ini tentu akan sia-sia.

     Penulis menilai, program 1 juta barrel minyak dilakukan, karena kebutuhan energi Indonesia tiap tahun terus mengalami peningkatan komsumsi. Saat ini, Produksi minyak Indonesia (data Juni 2020-red) hanya mencapai 720 ribu BOPD (Barrel Oil Per day). Sementara, komsumsi minyak mencapai 1,8 Juta (BOPD) Barrel Oil Per Day. Artinya, ada sekitar 1 juta lebih minyak, yang harus diimport Indonesia melalui Pertamina atau usahanya.

     Target 1 juta barrel pada tahun 2030, tentu juga tidak akan menutup komsumsi minyak Indonesia. Karena, pada tahun 2030 tentu komsumsi minyak Indonesia bisa mencapai 2,3 juta BOPD (www.skkmigas.go.id), jika Produksi minyak Indonesia tahun 2030 mencapai 1 juta Barrel Oil Per Day, tentu juga sebenarnya tidak menutupi ketergantungan import minyak Indonesia. Namun, hanya mengurangi atau Indonesia tetap kekurangan 1,3 juta BOPD.

     Lantas, akankah target produksi 1 juta minyak ini akan terwujud? Spirit 1 juta barrel minyak, memang harus terus didengungkan agar semua potensi paham dan mengerti, bahwa, Indonesia wajib melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumur baru, dan pengembangan sumur lama.      

      Saya menilai, hal yang sangat urgent untuk mewujudkan target tersebut adalah dengan melakukan eksplorasi dan eksploitasi secara masif. Untuk mewujudkan ini, tentu harus ada stimulus, agar perusahaan-perusahaan minyak baru berniat melakukan pengeboran di Indonesia, dan tidak mengandalkan sumur-sumur lama yang sudah eksisting.

     Dalam sebuah diskusi ringan dengan journalis energi dan teman-teman praktisi perminyakan, target tersebut sebenarnya bukan sesuatu yag mustahil dan bisa saja tercapai. Penulis mencontohkan, apa yang dilakukan oleh Oman, sebuah negara asia, yang letaknya Tenggara Jazirah Arab Asia Barat Daya. Pada tahun 2007, Produksi minyak Oman hanya mencapai 710 ribu BOPD. Namun, dengan keinginan kuat menambah Produksi, 7 tahun kemudian Produksi minyaknya mencapai 920 Ribu BOPD, dan kini menurut data Global Fire Power Produksi minyak Oman tahun 2020 mencapai 970 ribu BOPD.

    Apakah Indonesia, bisa seperti Oman? Tentu saja bisa, dengan cara memberikan kemudahan  berinvestasi dan pemberian stimulus yang bisa memicu agar KKKS atau perusahaan minyak baru, mau memanfaatkan cekungan minyak Indonesia untuk di eksplorasi.

    Saat ini terdapat sekitar 12 titik cadangan migas baru yang siap untuk dieksplorasi. Di antaranya, terletak di  Sumatera Utara, Sumatera bagian tengah, Sumatera Selatan, North East Java-Makassar Strait, lepas pantai Tarakan, lepas Pantai Kutai, lepas Pantai Buton, Selat Makassar, Timor-Tanimbar-Semai, serta, Papua bagian utara, Tubuh Burung, dan Warim.

    Kita tidak ingin, penyelenggaraan IOG 2020  menjadi perhelatan wacana apalagi pencitraan semata. Indonesia ingin agar produksi minyak benar-benar meningkat, dan semua pihak bekerja. Sehingga, event IOG tidak hanya orgasme sendiri tanpa implementasi atau realiasi target Produksi 1 juta barrel tahun 2030.

    Seperti keyakinan Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, visi 1 juta BOPD bukan merupakan hal yang mustahil. “Semua harus bertranformasi agar mampu mengatasi tantangan tersebut, sehingga Lembaga ini terpacu untuk mewujudkannya,” kata Dwi.

     Penulis juga optimistis, program 1 juta barrel harus bisa direalisasikan dan menjadikan tantangan semua pihak. Bahkan, jika perlu Produksi minyak 2030, tidak hanya diangka 1 juta BOPD tapi bisa mencapai 1,2 -1,3 juta BOPD, dan jika ini terwujud, akan menjadi catatan  dan sejarah panjang produksi minyak, dan, mengembalikan kejayaan minyak Indonesia. Seperti Monumen pompa angguk di Duri, Riau yang saat itu memproduksi 1 juta - 2 Juta barrel minyak per hari, wallahualam bissawab.

BERITA TERKAIT