22 November 2022, 10:45 WIB

Indonesia Incar Juara Umum di IESF World Esports Championship Bali


Basuki Eka Purnama | Olahraga

ANTARA/Bayu Pratama S
 ANTARA/Bayu Pratama S
Ilustrasi--Pertandingan esport

PENGURUS Besar Esports Indonesia (PB ESI) menargetkan timnas Indonesia menjadi juara umum pada kejuaraan dunia esport, IESF World Esports Championship 2022, yang akan berlangsung di Bali, 2-11 Desember 2022 mendatang.

"Indonesia kalau tanding selalu targetnya juara umum. Kita tidak pernah pergi dengan target di bawah-bawah," tegas Wakil Ketua Bidang Atlet dan Prestasi PB ESI Yohannes P Siagian dalam konferensi pers virtual, Senin (21/11).

"Salah satu yang kita yakinkan adalah Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara dominan di esport dunia, dan semua target kita menjadi turunan daripada kepercayaan itu," lanjutnya.

Baca juga: Battle of Guardians Gemilang di Piala Presiden Esports 2022

Kejuaraan dunia esport tersebut mempertandingkan enam jenis gim yaitu Tekken 7, DOTA 2, Mobile Legends: Bang Bang, PUBG Mobile, eFootball 2022, dan CS:GO. 

Khusus untuk CS:GO akan mempertandingkan kategori CS:GO Male dan CS:GO Female.

Yohanes mengatakan tidak ada strategi khusus untuk menggembleng para atlet yang saat ini sedang melakukan pemusatan pelatihan. Namun, pelatihan difokuskan pada hal-hal di luar teknis gim.

"Strategi khusus tidak ada, karena kita percaya pada atlet-atlet kita. Apalagi, di Mobile Legends, PUBGM, ya memang atlet-atlet terbaik dunia ada di Indonesia di cabang-cabang ini," kata Yohanes.

"Yang paling kita fokuskan adalah out game-nya sebetulnya. Membiasakan mereka dengan jam-jam bertanding. Jadi, kita mulai membiasakan mereka di suatu jadwal yang paling menstimulasikan keadaan di Bali nanti," imbuhnya.

Yohanes menambahkan PB ESI juga membekali para atlet dengan program-program untuk meningkatkan komunikasi, juga pendampingan psikolog untuk memperkuat mental para atlet.

"Kita mencoba mendapatkan sebanyak mungkin informasi lawan-lawan kita siapa, karena dengan model IESF ini banyak sekali tim-tim lawan yang tidak ada datanya. Beda dengan SEA Games di mana semua lawan-lawan kita bisa menemukan videonya atau game play-nya," ujar Yohanes.

"Kita tidak mau terlalu lengah tidak mau meremahkan siapa pun juga hanya karena kita tidak tahu timnya." tambahnya.

Tidak seperti pelatnas SEA Games Vietnam saat timnas dibentuk dari pemain yang berbeda klub, pembentukan timnas dalam menghadapi kejuaraan dunia esport kali ini diambil langsung dari tim pemenang yang berlaga dalam sebuah liga.

Hal itu, menurut Yohanes, dilakukan karena keterbatasan waktu saat IESF World Championship semakin dekat sementara beberapa liga besar masih berlangsung.

"Jadi, otomatis full player akan langsung kita panggil karena akan sangat sulit membangun chemistry dan kerja sama tim dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu diputuskan untuk memanggil tim utuh," ujar Yohanes.

"Yang kedua, karena banyak input dari SEA Games. Karena pemanggilan timnas esport ini sebetulnya masih sangat muda di Indonesia. Ini baru yang ke beberapa kali, dan kita belum menemukan metode yang tepat, waktu itu kita sudah memanggil tim gabungan, tim all star kalau komunitasnya bilang, sekarang kita mencoba tim utuh yang dikirimkan," lanjutnya.

Sementara itu, untuk beberapa nomor gim yang kompetisinya tidak rutin berlangsung di Indonesia, seperti DOTA 2 dan CS:GO, PB ESI akan melakukan pemanggilan kepada sejumlah pemain yang berprestasi. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT