21 June 2022, 10:15 WIB

Soal Atlet Transgender, Presiden Atletik Dunia Pilih Keadilan Ketimbang Inklusi


Basuki Eka Purnama | Olahraga

AFP/Simon MAINA
 AFP/Simon MAINA
Presiden Atletik Dunia Sebastian Coe

PRESIDEN Atletik Dunia Sebastian Coe menegaskan atletik bisa mengikuti langkah renang untuk memberlakukan kebijakan yang tegas terhadap atlet transgender yang ingin berkompetisi.

Sebelumnya, Minggu (19/6), Asosiasi Renang Dunia (FINA) mengumumkan bahwa mereka akan menydiakan kategori terbuka agar atlet transgender tidak bersaing dengan perenang putri.

Berdasarkan aturan baru FINA itu, atlet transgender dilarang bertanding di kelas putri kecuami mereka bisa membuktikan tidak pernah mengalami pubertas sebagai putra.

Baca juga: Grand Prix Para-Atletik di Swiss Ajang Pemanasan ASEAN Para Games 2022

Keputusan itu diambil setelah perenang Amerika Serikat (AS) Lia Thomas menjadi petenis transgender pertama yang menjadi juara di kejuaraan antarkampus di AS, Maret lalu.

Thomas, yang bertanding di nomor gaya bebas, sempat membela tim putra Universitas Pennsylvania antara 2017 dan 2019.

Federasi Balap Sepeda Internasional (UCI) juga memperketat aturan mengenai atlet transgender dengan menggandakan waktu tunggu bagi atlet yang berganti kelamin dari laki-laki menjadi perempuan sebelum diizinkan bertanding.

"Tugas saya adalah menjaga integritas olahraga putri dan kami memandang serius hal itu. Jika itu berarti kami harus mengubah protokol, kami akan melakukannya," tegas Coe.

"Saya selalu dengan tegas mengatakan jika kami dipaksa memilih antara keadilan atau inklusi, kami akan selalu memilik keadilan."

"Kami selalu dengan jelas memastikan bahwa biologi mengalahkan gender dan kami akan selalu mengambil keputusan berdasarkan hal itu," lanjutnya.

Berdasarkan aturan Atletik Dunia, perempuan transgender harus menunjukkan mereka memiliki kadar testosteron rendah selama sedikitnya 12 bulan sebelum berkompetisi.

"Kami terus belajar, menyelidiki, dan memastikan bahwa ada bukti bahwa testosteron adalah penentu performa atlet," pungkasnya. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT