22 April 2022, 10:37 WIB

Rublev Kecam Larangan Petenis Rusia dan Belarus Ikuti Wimbledon 2022


Rifaldi Putra Irianto | Olahraga

 Valery HACHE / AFP
  Valery HACHE / AFP
Petenis Rusia Andrey Rublev bereaksi saat mengikuti turnamen Monte-Carlo ATP Masters Series di Monako, Kamis (14/4/2022).

PETENIS peringkat ke-8 dunia Andrey Rublev mengecam larangangan pihak Wimbledon yang melarang petenis Rusia dan Belarus untuk tampil di kejuaraan grand slam lapangan rumput tersebut.

Rublev yang merupakan petenis asal Rusia, menyatakan, hal tersebut merupakan bentuk dari diskriminasi penuh kepada atlet Rusia dan Belarus.

"Alasan yang mereka (Wimbledon) berikan kepada kami tidak masuk akal, itu tidak logis," kata Rublev di sela acara ATP Beograd, dikutip dari AFP, Jumat (22/4).

"Apa yang terjadi sekarang adalah bentuk diskriminasi penuh terhadap kami," jelasnya.

Wimbledon pada hari Rabu (20/4) menyatakan, pihaknya melarang semua pemain Rusia dan Belarus untuk ambil bagian dalam acara Grand Slam Wimbledon tahun ini, sebagai tanggapan atas invasi Ukraina.

Baca juga: Federasi Tenis Belarus Klaim Larangan Tampil di Wimledon akan Picu Kebencian dan Intoleransi

Keputusan itu akan membuat Rublev serta petenis lainnya, seperti petenis nomor dua dunia Daniil Medvedev dan petenis putri peringkat keempat dunia Aryna Sabalenka (Belarus), akan absen pada turnamen yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Juni-10 Juli.

Bagi Rublev, melarang petenis Rusia dan Belarus untuk mengikuti kejuaraan Wimbledon tidak akan mengubah apapun. Dia menyarankan, sebaiknya Wimbledon menyumbangkan dana hadiah turnamen untuk para korban konflik.

"Melarang pemain Rusia atau Belarusia, tidak akan mengubah apa pun," ujar Rublev.

"Mengalihkan dana hadiah Wimbledon, yang tahun lalu mencapai 35 juta poundsterling (Rp655 miliar) akan memiliki efek yang lebih positif," imbuhnya.

"Menyumbangkan hadiah uang untuk bantuan kemanusiaan, kepada keluarga yang menderita, kepada anak-anak yang menderita, saya pikir itu akan berdampak pada perubahan, setidaknya sedikit," imbuhnya

"Jika itu dilakukan, Tenis akan menjadi olahraga pertama dan satu-satunya yang menyumbangkan uang sebanyak itu dan itu adalah Wimbledon, sehingga Wimbledon akan mendapat pujian," jelasnya.

Tidak hanya Rublev, Legenda tenis Amerika Serikat Billie Jean King, yang juga merupakan pendiri WTA, mengatakan dia tidak dapat mendukung keputusan Wimbledon.

Baginya semua petenis, berhak memiliki tempat untuk bersaing, dan tidak bisa melarang seorang petenis untuk berkompetisi hanya karena status kebangsaan mereka.

"Salah satu prinsip dasar pendirian WTA adalah bahwa gadis mana pun di dunia, jika dia cukup bagus dalam hal tenis, dia akan memiliki tempat untuk bersaing," kata juara Wimbledon enam kali itu.

"Saya mendukung itu pada tahun 1973 dan saya mendukung itu hari ini. Saya tidak dapat mendukung pelarangan atlet individu dari turnamen apa pun, hanya karena kebangsaan mereka," tegasnya. (Rif/AFP/OL-09)

BERITA TERKAIT