04 October 2021, 18:38 WIB

Papua Pecah Rekor Perolehan Emas PON


Akmal Fauzi | Olahraga

ANTARA FOTO/Indrayadi TH
 ANTARA FOTO/Indrayadi TH
Atlet binaraga Papua Oto Gidion Wantik

KONTINGEN Provinsi Papua berhasil memecahkan rekor emas selama keeikutsertaan di Pekan Olahraga Nasional (PON). Tuan rumah optimis bisa menembus lima besar di PON XX.

Sejak dimulainya pertandingan pertama pada 22 September lalu, kontingen Papua sudah mengantongi 32 emas, 15 perak dan 31 perunggu (data pukul 20.00 WIT). Pencapaian itu cukup fantastis dari hasil PON sebelumnya. Padahal, perhelatan olahraga paling akbar di Tanah Air itu masih menyisakan waktu 11 hari lagi.

Dalam catatan Panitia Besar PON XX, pencapaian terbaik Papua pada PON XI di Jakarta tahun 1985. Ketika itu, Papua finis di peringkat kelima dengan mengoleksi 23 medali emas, 24 perak dan 26 perunggu dengan total 66 medali.

Kontingen Papua juga tercatat pernah meraih 23 medali emas di ajang PON, yakni di PON XII tahun 1989 di Jakarta dan PON XVI Sumatera Selatan tahun 2004.

Baca juga: Kemendagri Perkuat Gerakan Pembagian Masker di PON XX Papua

Sekretaris Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Papua, Kenius Kogoya mengatakan dukungan sebagai tuan rumah membuat Papua berambisi finis di posisi lima besar pada PON XX ini dengan menargetkan 84 medali emas.

"Target yang diharapkan bisa mendapatkan 84 medali emas pada PON XX dari 37 cabor dan 56 disiplin yang akan kita ikuti," kata Kenius.

Tim sepatu roda Papua mendominasi perolehan medali tuan rumah, dengan jumlah 8 medali emas, 2 medali perak dan 5 medali perunggu, diikuti oleh tim Muay Thai yang menggondol 6 medali emas, 4 medali perak dan 3 perunggu.

Pada Senin (4/10), tuan rumah berhasil menyabet tiga medali emas di cabang olahraga binaraga. Binaragawan Cornelis Amo mengawali capaian medali emas tim Bumi Cenderawasih dengan memenangi kelas 60 kg.

Kesuksesan Cornelis Amo diikuti Oto Gidion Wantik yang menyabet medali emas di kelas 65 kg. Medali emas ketiga tuan rumah dipersembahkan Edoardus Apcowo yang turun di kelas 70 kg.

Kontingen Papua masih berpeluang besar menambah pundi-pundi medali emasnya di sejumlah cabang.

Sementara itu, DKI Jakarta masih kokoh di puncak klasemen dengan meraih 37 emas, 24 perak dan 29 perunggu.

Ketua Komite Olimpiade Indonesia Raja Sapta Oktohari memuji fasilitas olahraga yang digunakan untuk penyelenggaraan PON XX. Pria yang karib disapa Okto ini bakal berupaya membawa event olahraga level Asia atau Internasional ke Bumi Cenderawasih.

Fasilitas olahraga yang digunakan untuk penyelenggaraan PON Papua beberapa telah berstandar Internasional. Di antaranya, Stadion Utama Lukas Enembe yang telah mengantongi sertifikasi kelas 1 Federasi Asosiasi Atletik Internasional (IAAF), venue akuatic yang juga telah berstandar Federasi Akuatik Internasional (FINA), serta venue kriket yang sudah mendapat akreditasi dari Dewan Kriket Internasional (ICC).

Okto menilai dengan modal tersebut, Papua berpotensi menjadi jantung olahraga di Asia Pasifik. Dengan catatan, venue ini dapat terpelihara dengan baik setelah penyelenggaraan PON dan penggunaannya dioptimalkan dengan cara mengadakan turnamen level Asia atau pun dunia.

“Venue sudah ada, kini bagaimana caranya agar ini semua digunakan untuk menggelar event berstandar Internasional ke depannya, jadi tak sekadar tarkam semata,” kata Okto.

“Komite Olimpiade Indonesia saat ini aktif menjemput bola ke International Federation, Dewan Olimpiade Asia , hingga Komite Olimpiade Internasional dalam upaya diplomasi olahraga sehingga nantinya Indonesia ini tak sekadar jago kandang, tetapi juga harus bisa membuat event-event berstandar interansional. Kalau bisa, kita bawa kualifikasi Olimpiade ke Papua,” ujar Okto. (OL-4)

BERITA TERKAIT