13 September 2021, 09:33 WIB

Gagal Sapu Bersih Gelar Grand Slam dalam Setahun, Djokovic Malah Mengaku Lega


Rifaldi Putra Irianto | Olahraga

AFP/Kena Betancur
 AFP/Kena Betancur
Petenis Serbia Novak Djokovic

KEKALAHAN Novak Djokovic di final Amerika Serikat (AS) Terbuka membuat dia gagal menyapu bersih Grand Slam kalender 2021. Meski begitu, petenis nomor satu dunia asal Serbia itu justru senang tekanan untuk mengejar kesempurnaan itu akhirnya berakhir.

Djokovic meneteskan air mata setelah upayanya yang melelahkan -- baik secara fisik maupun emosional -- untuk menjadi orang pertama sejak 1969 yang memenangi empat Grand Slam dalam satu tahun berakhir dengan kekalahan yang mengejutkan dari unggulan kedua asal Rusia Daniil Medvedev.

"Lega," kata Djokovic, yang berusia 34 tahun, ketika ditanya bagaimana perasaannya usai pertandingan.

Baca juga: Djokovic Berterima Kasih pada Pendukung di Final AS Terbuka

"Saya senang ini sudah berakhir karena persiapan untuk turnamen ini dan segala sesuatu yang secara mental, emosional harus saya tangani sepanjang turnamen dalam beberapa pekan terakhir ini sangat banyak. Banyak yang harus ditangani," lanjut Djokovic.

Sejak awal, Djokovic tidak mampu menyamai level yang dibawa Medvedev, yang membuktikan keberaniannya dan semakin kuat saat pertandingan berlangsung kecuali beberapa ketegangan di akhir pertandingan ketika dia mencoba meraih gelar Grand Slam pertamanya.

Djokovic mengaku bahwa waktu yang dihabiskan di lapangan tahun ini akhirnya memakan korban dan dia merasa kekurangan energi.

"Kaki saya tidak ada di sana. Saya mencoba. Saya melakukan yang terbaik. Ya, saya membuat banyak kesalahan sendiri. Saya tidak punya servis yang benar-benar bagus," kata Djokovic.

"Jika Anda bermain melawan seseorang seperti Medvedev, yang memukul dengan sangat baik, ace, mendapat banyak poin gratis pada servis pertamanya, Anda terus-menerus merasakan tekanan pada permainan servis Anda."

"Saya berada di bawah standar, sejujurnya. Jadi ini adalah salah satu hari kurang beruntung, ya, belum jodohnya," lanjutnya.

Selama pertandingan final, yang juga memupuskan harapan untuk meraih rekor Grand Slam ke-21, emosi menguasai petenis Serbia yang memegang handuk di wajahnya dan menangis, kewalahan oleh dukungan yang dia dapatkan dari penonton.

Djokovic, yang belum mendapatkan tingkat kekaguman yang sama seperti yang diberikan kepada rivalnya Roger Federer dan Rafael Nadal, mengatakan air mata adalah hasil dari perasaan yang belum pernah dia alami sebelumnya dari penonton New York.

"Penonton membuat saya sangat istimewa. Mereka mengejutkan saya. Saya tidak tahu, saya tidak mengharapkan apa pun, tetapi jumlah dukungan, energi, dan cinta yang saya dapatkan dari penonton adalah sesuatu yang akan saya ingat selamanya," kata Djokovic.

"Maksud saya, itulah alasan saya menangis. Emosi, energinya sangat kuat. Maksud saya, sekuat memenangi Grand Slam ke-21. Itulah yang saya rasakan, jujur. Saya merasa sangat, sangat istimewa," tambahnya. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT