25 September 2023, 07:59 WIB

Polbangtan Kementan Jadikan Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan


Media Indonesia | Nusantara

Ist
 Ist
Seminar Nasional bertajuk ┬┤Smart Agriculture, Pendukung Pertanian Masa Depan┬┤ di Polbangtan, Bogor, Jawa Barat.

Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) terutama Polbangtan Bogor menggelar Seminar Nasional bertajuk ´Smart Agriculture, Pendukung Pertanian Masa Depan´ sebagai penutup rangkaian akhir dari perhelatan Dies Natalis ke-5 baru-baru ini di Aula Kampus Cibalagung, Kota Bogor, Jawa Barat.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL)meyakini kaum milenial yang inovatif dan memiliki gagasan yang kreatif mampu mengawal pembangunan pertanian yang maju, mandiri, modern.

Mentan SYL menyampaikan setiap inovasi yang dihasilkan merupakan potensi masa depan untuk membuka lapangan pekerjaan.

Baca juga: Smart Green House Polbangtan Jadi Percontohan Dinas Pertanian OKU Timur

"Generasi Z juga harus bisa mengikuti perkembangan dari zaman, harus berani menjadi petani yang modern atau mendirikan startup pertanian,” katanya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa petani milenial memiliki peran penting melanjutkan pembangunan sektor pertanian.

"Tunjukkan bahwa petani milenial dapat menjadi pionir untuk peningkatan kapasitas pertanian dan petani. Kita harus bekerja keras, cepat, cermat dan akurat. Tinggalkan cara-cara lama dan gunakan cara-cara baru berbasis Internet of Things," katanya.

Baca juga: Berprestasi di Sektor Peternakan, Kementan Raih Tiga Penghargaan Dunia 

Seminar Nasional Polbangtan Bogor tahun ini dikemas secara hibrid dan disiarkan live streaming melalui Youtube Channel Polbangtan Bogor Official menggandeng profesional yang ahli serta praktisi pertanian sebagai keynote speaker.

Narasumber yang hadir antara lain Edi Santosa selaku Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura yang mengulas tentang ´Smart Agriculture Mendukung Pertanian Masa Depan: Recent Status dan Arah Pengembangan´.

Edi Santosa mengatakan bahwa konsep baru dalam pengelolaan sumber daya dan lingkungan pertanian menggunakan teknologi informasi dan komunikasi modern, robotika (instrumentasi), drone, dan kecerdasan buatan [internet of things] secara terintegrasi dengan IoT dalam rangka meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan pertanian.

Menurut Edi, menerapkan Smart Agriculture harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut: 

Pertama, Sensor dan Sensing: mengumpulkan data tanah, cuaca, kelembaban, dan faktor lainnya. Data untuk mengambil keputusan penggunaan sumber daya (air dan pupuk).

Baca juga: Pacu Usaha Petani Milenial, Kementan Gandeng Baznas dan Pegadaian Syariah

Kedua, Analisis Data: Data besar dari sensor dan perangkat lainnya dapat dianalisis untuk memberikan wawasan tentang kondisi pertanian yang sebenarnya.

Ketiga, Otomatisasi/Robot/AI: Penggunaan otomatisasi, robotik dan AI meningkatkan efisiensi dalam tugas-tugas seperti penyemprotan pestisida, panen, dan pemeliharaan.

Keempat, Pemantauan Pertanian Berbasis Drone: Gambaran visual yang jelas tentang kondisi tanaman dan tanah, memungkinkan petani untuk mengambil tindakan yang tepat waktu.

Kelima, Internet of Things: Komunikasi real time untuk mengakses informasi tentang pasar, cuaca, dan praktik terbaik.

Keenam, Pertanian Presisi: Dalam input, proses, panen dan produk. dan ketujuh, Pengelolaan Sumber Daya Berkelanjutan: Menjamin kelangsungan usaha.

Dalam kesempatan yang sama, Abdul Roni Angkat selaku Kepala Balai Pelatihan Pertanian Lampung, memaparkan bahwa dalam menghadapi pertanian di masa depan, ada lima program Kementan yang dapat mendukung smart agriculture.

Baca juga: Mentan SYL Lepas Ekspor Mangga dan Ayam KUB ke Arab Saudi dan Timor Leste

Lima program di antaranya program tentang ketersediaan, akses, dan konsumsi makanan berkualitas, program tentang penambahan nilai dan daya saing industri, program penelitian dan inovasi sains dan teknologi, program tentang pendidikan dan sekolah kejuruan serta program dukungan manajemen.

Selain akademisi dan pegawai Kementan, Prastyo Ruandhito selaku CEO dan Co-Founder BroilerX juga mencuri antusias peserta seminar. Prastyo menegaskan bahwa pemanfaatan aplikasi digital dan internet of things bagi pertanian transformasi digital penting untuk dapat memajukan industri dan menjadi lebih transparan

Selain seminar talkshow, acara ini diramaikan juga oleh presentasi oral dari 46 orang pemakalah yang telah mengumpulkan hasil karyanya dan pemanggilan peserta sudah dilakukan sejak dua bulan sebelumnya.

Adapun cakupan topik untuk paper yang dikompetisikan meliputi agroteknologi, sosial ekonomi pertanian, peternakan dan kesehatan hewan, teknik pertanian dan biosistem, serta penyuluhan dan pemberdayaan. (S-4)

BERITA TERKAIT