08 June 2023, 07:51 WIB

BMKG Petakan Wilayah Kekeringan di Bali


Budi Ernanto | Nusantara

MI/RAMDANI
 MI/RAMDANI
Foto udara warga Hindu Bali mengikuti Upacara Melasti menjelang Nyepi tahun Saka 1945 di Pantai Petitenget, Seminyak, Badung, Minggu (19/3).

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan kebakaran hutan di Bali agar bisa diantisipasi masyarakat dan pemerintah daerah memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan Juli-Agustus 2023.

"Kami sepuluh hari sekali memberikan peringatan dini kepada Pemprov Bali," kata Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar I Nyoman Gede Wiryajaya seperti dilansir dari Antara, Kamis (8/6).

Sedangkan diseminasi informasi cuaca dan iklim, pihaknya rutin memberikannya kepada pemerintah daerah dan instansi terkait setiap hari. Berdasarkan pemetaan BMKG, peringatan dini kekeringan di Bali berpotensi terjadi di Kabupaten Bangli, Buleleng, Jembrana dan Karangasem.

Namun, daerah yang perlu menerapkan kewaspadaan ekstra mengingat berpotensi besar terjadi kekeringan yakni di daerah pesisir Bali bagian utara karena tidak turun hujan lima hingga 25 hari berdasarkan pengamatan per 31 Mei.

Baca juga: BMKG: Sumatra Selatan Bakal Terdampak Kekeringan, Antisipasi Lebih Dini

Lalu, daerah di Pulau Dewata yang diperkirakan mengalami curah hujan rendah di bawah 50 milimeter per 10 hari atau dasarian terjadi di seluruh wilayah yakni di Kabupaten Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Jembrana, Karangasem, Klungkung, Denpasar, dan Tabanan.

Ia menambahkan curah hujan di hampir seluruh wilayah di Bali berkategori rendah dengan sifat hujan di bawah normal. "Ini dapat dipengaruhi oleh kondisi El Nino yang diprediksi mulai akhir Juli namun secara normal Juli-Agustus kecenderungan sebagian besar wilayah Bali sedang kondisi puncak musim kemarau," ucapnya.

Sementara itu, BMKG juga memetakan potensi kebakaran hutan di Bali yang diperkirakan dapat terjadi di antaranya di kawasan hutan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) di Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Jembrana dengan kategori sangat mudah terbakar berdasarkan pemetaan per 4 Juni.

"Kami perkirakan di Bali Barat yang memiliki potensi kebakaran hutan saat kemarau," imbuhnya. Berdasarkan Data Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, total luas hutan di Bali pada 2022 mencapai 136.827,05 hektare.

Baca juga: Jatim Terjunkan Ratusan Petugas Cegah Karhutla di Jatim

Cakupan jenis hutan itu paling banyak hutan lindung mencapai 97.407,95 hektare atau 71,19% dari total luas keseluruhan, hutan konservasi mencapai 30.570,53 hektare atau 22,34%. Hutan konservasi itu paling banyak taman nasional mencapai 23.143,86 hektare atau 16,91%.

Berdasarkan data BPS Bali, jumlah kebakaran hutan dalam tiga tahun terakhir dari hasil statistik tahun 2018 terjadi di 11 lokasi yakni satu lokasi di Kabupaten Bangli, Karangasem (4), dan Buleleng (6). (Z-6)

BERITA TERKAIT