08 December 2022, 13:10 WIB

Semua Berawal dari Cita-cita Ingin jadi Guru


Benny Bastiandy | Nusantara

MI/Benny Bastiandy
 MI/Benny Bastiandy
Widi Asgaranis (ketiga dari kanan) sedang menerjemahkan bahasa verbal Kapolres Cianjur Ajun Komisaris Besar Doni Hermawan melalui isyarat sa

PEKERJAAN sebagai penerjemah bahasa isyarat terbilang cukup langka. Apalagi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang notabene mungkin belum banyak yang meminati pekerjaan tersebut.

Terasa asing mungkin iya. Tapi bagi sebagian orang, mempelajari bahasa isyarat sudah menjadi passion karena bisa menjadi alat berinteraksi, terutama dengan orang berkebutuhan khusus.

Adalah Widi Asgaranis. Perempuan berusia 33 tahun itu mungkin satu di antara sedikit warga Kabupaten Cianjur yang menekuni bahasa isyarat.

Kemampuannya menguasai bahasa isyarat tak terlepas cita-cita yang diidamkannya sejak dulu. Perempuan kelahiran 22 Mei 1989 ini memang bercita-cita ingin menjadi seorang guru.

"Awal mulanya bercita-cita sebagai guru. Tapi waktu itu masih bingung mau jadi guru apa," kata Widi bercerita mengawali pembicaraannya dihubungi, pekan lalu.

Selepas lulus SMA pada 2007, Widi mencoba peruntungannya dengan mengikuti tes seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Tiba saatnya pengumuman SPMB, kegembiraan Widi membuncah lantaran ia diterima di UPI Bandung.

Keinginannya yang kuat menjadi guru pun sudah di depan mata. Minimal, ia sudah diterima di perguruan tinggi sebagai jalan mewujudkan cita-citanya.

"Saat itu bagi saya yang penting bisa kuliah di universitas negeri karena (biayanya) lebih ringan dibandingkan swasta," alasannya.

Widi pun mengambil program studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) di UPI Bandung. Ia mengambil prodi itu atas rekomendasi guru mengajinya saat masih duduk di bangku SMA.

"Sebetulnya saya juga pernah ikut tes PGSD (Pendidikan Guru SD) di UPI Bandung. Tapi waktu itu tidak keterima. Akhirnya saat ikut tes SPMB pada 2007 saya lulus. Salah satunya ada pilihan PLB. Alhamdulillah, sudah rezekinya ngambil PLB karena guru liqo (ngaji) waktu di SMA juga merekomendasikan saya itu (PLB) lantaran masih minim peminat. Tapi sekarang dari tahun ke tahun PLB sudah banyak peminatnya," tuturnya.

Di saat kuliah itulah Widi mempelajari bahasa isyarat. Pada program studi PLB, ucap Widi, ada spesialisasi terdiri dari jurusan A untuk tunanetra, jurusan B untuk tunarungu, jurusan C untuk tunagrahita, jurusan D untuk tunadaksa, dan jurusan E untuk tunalaras.

"Saat itu saya mengambil jurusan B untuk anak tunarungu. Di situ saya mulai mempelajari bahasa isyarat," terangnya.

Menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd), Widi berhasil menyelesaikan studinya pada 2012. Ia pun mulai bergabung menjadi tenaga pengajar di SLB Permata Ciranjang dengan status honorer sampai saat ini.

Widi menceritakan banyak suka dan duka menjadi pengajar di SLB. Namun Widi mengaku banyak sukanya dibanding dukanya. "Saya enggak menyangka, full senyum setiap hari melihat perilaku atau karakteristik anak yang berbeda-beda," ungkapnya.

Di SLB pun Widi pada akhirnya belajar menjadi pribadi yang harus ekstra sabar serta dituntut harus lebih kreatif. Pasalnya, menjadi guru di SLB harus betul-betul memahami kondisi anak lantaran masing-masing di antara mereka memiliki potensi dan kelebihan.

"Jadi, sebelum ke tahap KBM (kegiatan belajar mengajar), guru di SLB itu harus asesmen terlebih dulu ke setiap anak didik. Ini dilakukan untuk mengetahui kekurangan atau yang belum bisa dan kelebihan apa yang sudah bisa. Dari asesmen ini nanti bisa dijadikan program memberikan materi pembelajaran," bebernya.

Kemampuan Widi menguasai materi bahasa isyarat membuat ia dilirik Polres Cianjur. Pada setiap kegiatan konferensi pers, Widi selalu diikutsertakan mendampingi penjelasan baik dari Kapolres maupun jajarannya saat memberikan keterangan kepada media.

Widi diperbantukan menerjemahkan pernyataan yang diungkapkan jajaran Polres Cianjur melalui bahasa isyarat. Langkah ini dilakukan agar penonton, terutama yang menyandang tunarungu, bisa memahami yang tengah disampaikan.

Menurut Widi, ia belum lama membantu Polres Cianjur menerjemahkan pernyataan resmi saat konferensi pers melalui bahasa isyarat. "Kurang lebih baru sekitar enam bulan saya dimintai bantuan jadi penerjemah bahasa isyarat di Polres Cianjur," terangnya.

Baru Satu Semester

Tak hanya di Polres Cianjur, Widi pun pernah diperbantukan di Puskesmas Karangtengah mengisyaratkan pelayanan kesehatan bagi kalangan disabilitas. "Puskesmas Karangtengah itu kan sudah ramah disabilitas. Nah saya pernah membantu mengisyaratkan program pelayanan di Puskesmas Karangtengah kepada para penyandang disabilitas," jelas Widi.

Widi mengaku penerjemah bahasa isyarat biasanya dibutuhkan juga ketika ada kegiatan yang melibatkan kalangan disabilitas dalam jumlah banyak. Termasuk setiap kali digelar pemilihan umum yang biasanya para penerjemah ini akan dibutuhkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat mendampingi sosialisasi kepada kalangan disabilitas.

"Termasuk juga saat pemilihan kepala desa. Kita bantu menerjemahkan melalui bahasa isyarat kepada pemilih disabilitas. Untuk kegiatan pemilu itu biasanya kita bantu menerjemahkan tata cara pendaftaran hingga pencoblosan di TPS," imbuhnya.

Ada asa yang ia gantungkan dengan menekuni profesi guru maupun sebagai penerjemah bahasa isyarat. Widi berharap agar anak berkebutuhan khusus bisa lebih mengembangkan potensi mereka.

"Harapan saya, mereka (anak berkebutuhan khusus) memiliki kemampuan mumpuni sesuai bidangnya. Jangan melihat hambatan, tapi potensi apa yang bisa dikembangkan dari diri anak berkebutuhan khusus," ungkapnya.

Karena memiliki potensi, sebut Widi, ia pun berharap hal itu jadi peluang bagi anak berkebutuhan khusus bisa berkecimpung di dunia kerja. "Masyarakat pun harus bisa lebih 'memanusiakan' anak berkebutuhan khusus," sebutnya.

Berkecimpung di dunia pendidikan luar biasa memang harus didasari rasa tulus. Meskipun selama ini status Widi hanya sebagai guru honorer, tapi ia
selalu berupaya mensyukuri dan menikmatinya.

"Perhatian pemerintah berkaitan kesejateraan guru PLB yang saya ketahui sudah ada, terutama bagi yang berstatus PNS. Misalnya tunjangan kinerja dan lainnya. Kalau untuk guru honorer masih belum banyak upaya yang dilakukan pemerintah. Kalau honorer di SLB berstatus negeri ada gaji dari pemerintah provinsi. Sedangkan yang di swasta, tergantung kebijakan dari yayasan atau kepala sekolahnya," terang Widi menutup obrolan. (OL-13)

Baca Juga:

BERITA TERKAIT