24 November 2022, 23:15 WIB

Cegah Penyakit Mulut dan Kuku, Jawa Barat Utamakan Sanitasi dan Disinfektan


Bayu Anggoro | Nusantara

MI/BAYU ANGGORO
 MI/BAYU ANGGORO
Kabid Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Jabar Supriyanto memaparkan antisipasi penyebaran penyakit mulut dan kuku

PENYAKIT mulut dan kuku (PMK) pada ternak diprediksi belum akan hilang setidaknya hingga 2035. Ini tidak terlepas dari tingginya jumlah hewan ternak seiring tingkat konsumsi masyarakat yang juga tinggi, termasuk di Jawa Barat.

Kabid Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas
Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Supriyanto
menjelaskan, kondisi tersebut mengemuka berdasarkan peta jalan yang sudah disusun pemerintah pusat.

Di Jawa Barat, lanjut dia, jumlah ternak mencapai 750 ribu. Pada sisi lain, tingkat kesadaran peternak akan kebersihan masih dirasa sangat kurang.

"Intinya pencegahan itu dari tingkat kebersihan," katanya saat menjadi pemateri dalam seminar yang digelar Wartawan Pokja Gedung Sate dengan tema Jawa Barat Juara Menuju Bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (24/11).

Pada kesempatan itu dilakukan juga doa bersama dan penggalangan dana
untuk korban gempa Cianjur.

Supriyanto menjelaskan, penyebaran virus PMK sangat mudah terjadi, seperti melalui kandang, kendaraan saat perpindahan, dan petugas peternakan yang tidak mengutamakan kebersihan.

"Harusnya sanitasi dan disinfeksi diutamakan. Kandang dan kendaraan
harus rutin dibersihkan, termasuk dengan rutin membuang kotoran, lalu
didisinfektan," ujarnya.

Selain itu, tambah dia, petugas peternakan juga harus mengutamakan
kebersihan. "Apalagi kalau dari luar mau ke kandang, bajunya harus
didisinfektan, sepatunya juga. Agar virus-virus dari luar tidak terbawa
ke kandang."

Tak hanya itu, proses isolasi terhadap hewan kurban mutlak diperlukan.
"Hewan yang sehat harus dipisahkan. Juga ketika ada hewan datang, harus
diisolasi dulu. Ini salah satu kunci pentingnya."

Lebih lanjut Supriyanto menambahkan penyebaran virus PMK ini diperparah oleh masih sedikitnya jumlah vaksin. "Makanya yang diprioritaskan untuk divaksin adalah sapi dan kerbau, karena nilai ekonominya tinggi. Pada 2022 ini, kami optimis vaksinasi hewan ternak di Jawa Barat sudah mencakup 200 ribu lebih hewan kurban," katanya.

Untuk mencegah penularan yang lebih masif lagi, pihaknya mengingatkan
agar pengelola peternakan agar lebih mementingkan kebersihan. "Kuncinya
itu, dari kebersihan, terutama saat pengiriman/perpindahan hewan,"
katanya.

Jawa Barat, tambah Supriyanto, menjadi daerah tujuan hewan ternak dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan provinsi lainnya. "Saat pengiriman, kebersihan harus diperhatikan. Sanitasi, sebelum menaikkan hewan, pastikan kendaraannya bersih," ujarnya.


Sosialisasi


Di tempat yang sama, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Faiz Rahman, memastikan pihaknya terus mengupayakan sosialisasi kepada masyarakat tentang pencegahan PMK. "Termasuk terkait kebersihan kepada pengelola ternak."

Berbagai saluran dilakukan untuk sosialisasi tersebut seperti melalui
media arus utama, media sosial, dan kanal informasi lainnya. "Karena
memang kuncinya dari sosialisasi, penyebarluasan informasi tentang
pencegahan PMK," katanya. (N-2)

BERITA TERKAIT