05 November 2022, 09:50 WIB

Memanfaatkan Solar Cell Untuk Kelola Limbah Tempe


Dwi Apriani | Nusantara

MI/Dwi Apriani
 MI/Dwi Apriani
Joko Pitoyo, pengrajin tempe menunjukkan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal di Plaju Ulu, Palembang, Sumatra Selatan

AROMA menyengat hampir tiap hari dirasakan masyarakat di RT 06 Kelurahan Plaju Ulu Kecamatan Plaju, Kota Palembang selama puluhan tahun. Wajar saja, kawasan ini dikenal sebagai Kampung Pengrajin Tempe di Palembang. Aroma tak sedap itu pun berasal dari limbah tempe rumah tangga yang mereka produksi.

Namun, sejak akhir 2021, aroma menyengat dari limbah tempe yang dibuang ke saluran air di kawasan pemukiman padat penduduk itu perlahan berkurang. Ini terjadi setelah sentuhan Pertamina, membangun IPAL (instalasi pengolahan air limbah) secara mandiri yang diberikan kepada empat pengrajin tempe di kawasan tersebut.

Mereka yang mendapatkan bantuan itu untuk sementara ditujukan kepada pengrajin tempe yang memiliki lahan pekarangan luas. Sebab untuk membangun IPAL dibutuhkan lahan yang luas, karena instalasi itu dibangun di bawah tanah. Lewat IPAL ini, air limbah yang semula mengeluarkan aroma menyengat diolah dan disaring menjadi air yang kadarnya lebih baik dan tak menghasilkan bau.

Sentuhan Pertamina tak berhenti sampai di situ. Bulan Agustus lalu Pertamina kembali membangun IPAL komunal untuk sejumlah pengrajin tempe yang memiliki keterbatasan lahan. Ada empat pengrajin tempe yang sepakat bergabung untuk IPAL komunal.

Salah satu penikmat IPAL komunal yakni pengrajin tempe Joko Pitoyo. Ia mengatakan instalasi itu baru dipasang Agustus lalu. IPAL sudah beroperasi sekitar tiga bulan.

"Kami berterimakasih karena memang ada dampak yang cukup besar atas limbah yang kami keluarkan dari produksi tempe ini. Dari yang sebelumnya orang tahu di sini ada risiko bau menyengat. Sekarang udara cukup bagus di sini," kata Joko, Jumat (4/11).

Hadirnya IPAL ini diakui para pengrajin tempa harus menambahkan budget lebih untuk bayar biaya listrik yang cukup besar tiap bulan, yakni sekitar Rp150.000. Biaya listrik ini dibebankan kepada Joko. Sebab, instalasi IPAL ini tepat dipasang di halaman rumah Joko.

"Biasanya rumah kami sebulan bayar listrik sekitar Rp400.000, tiga bulan belakang kami bayar listrik hingga Rp650.000. Tapi beruntung, ada solusi dari Pertamina yakni lewat solar cell (panel surya) yang sejak awal Oktober kemarin dipasang di atas rumah kami," lanjutnya.

baca juga: Dorong Ketahanan Energi, Energi Terbarukan dan Green Fuel Jadi Katalis Utama

Solar cell yang dipasang ada 10 papan panel dengan kekuatan 2.200 watt. Ia berujar, jika panel surya ini sudah beroperasi tentunya akan mengikis pengeluarannya untuk biaya listrik khususnya untuk operasi IPAL tersebut.

"Listrik yang digunakan untuk IPAL ini berupa mesin blower dan mesin pompa. Jadi tiap kali kami produksi tempe, mesin ini akan menyala. Air limbah dari rumah tangga akan masuk ke saluran IPAL, dan disaring sebelum keluar ke saluran air,” ucapnya.

 Ia dan tiga pengrajin tempe yang tergabung dalam pengguna IPAL Komunal pun memanfaatkan air yang sudah disaring itu untuk menyiram tanaman, dan kolam lele. "Hasil air yang keluar dari IPAL ini terbukti bagus, karena bisa dipakai lagi untuk keperluan siram tanaman dan ternak lele kami. Kalau sebelumnya ada bau, kini sudah tak lagi keluarkan aroma menyengat," ungkap Joko.

Ketua RT 06 Plaju Ulu, Junaidi mengatakan program IPAL dan solar cell yang dibangun Pertamina membuat warganya yang tergabung dalam Paguyuban Pengrajin Tempe Plaju Ulu akhirnya melek dengan teknologi dan kelestarian lingkungan.

"Jadi bukan hanya sebatas air limbah diolah jadi air yang lebih baik. Tapi kami juga mendapatkan edukasi bahwa dari tenaga matahari bisa menjadi penghantar listrik. Sehingga empat pengrajin yang mendapat bantuan IPAL Komunal Pertamina bisa memanfaatkan solar cell untuk operasional mesin IPAL yang mereka pakai," beber Junaidi.

Junaidi berharap IPAL komunal dan IPAL mandiri bisa diperbantukan juga kepada pengrajin tempe yang lain. Apalagi di lokasi tersebut, diketahui ada sekitar 16 pengrajin tempe.

Memanfaatkan solar cell

Langkah Pertamina memasang solar cell di kawasan Plaju Ulu tersebut ternyata bukan hal baru. Solar cell juga sudah dibangun di sejumlah titik di Sumsel. Di antaranya di Rumah Sakit Pertamina Plaju dengan kapasitas 250.000 watt, dan kawasan permukiman penduduk Lorong Mari, Kecamatan Talang Bubuk berkapasitas 2.500 watt.

Terbaru, Pertamina memasang solar cell di kampung pengrajin tempe Plaju Ulu berkapasitas 2.200 watt dan Dusun Sembilang Muara Sungsang 6.000 watt. Saat ini di dua tempat ini sedang dalam proses pemasangan dan segera akan beroperasi.

"Visi dari Pertamina menjadi perusahaan energi, dimana sumber-sumber energi seperti energi fosil, panas, baru terbarukan dan energi lain bisa dikelola dengan baik. Dan memang saat ini, kami focus pada pemanfaatan energi solar cell. Kami sudah memasang instalasi solar cell di area perkantoran, kawasan mitra binaan di Palembang, dan di Dusun Sembilang Banyuasin," ujar Area Manager Communication & Relation PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III, Siti Rachmi Indahsari.

Ia menjelaskan pemanfaatan solar cell ini juga sebagai komitmen Pertamina untuk membantu pemerintah Indonesia dalam mengurangi emisi CO2 dan efek rumah kaca.

"Melihat potensi ini, solar cell jadi pilihan tepat untuk kita mendukung pemanfaatan energi terbarukan di Palembang. Sebab Palembang  didominasi wilayah permukiman, beda dengan daerah pelosok yang ada sumber air terjun, dan sebagainya yang bisa jadi sumber energi," kata Siti Rachmi Indahsari,

Untuk solar cell sendiri, kata Rachmi, difokuskan untuk mendukung aktivitas masyarakat. Seperti di Plaju Ulu, masyarakat bisa memanfaatkan energi listrik dari solar cell untuk operasional IPAL.

Begitu pun di Kampung Mari, masyarakat di kampung binaan Pertamina itu bisa menggunakan listrik dari solar cell untuk aktivitas mendukung UMKM di kampung tersebut. Sementara di Dusun Sembilang, masyarakat bisa memanfaatkan solar cell untuk penerangan di masjid dan rumah singgah.

"Untuk di Dusun Sembilang ini memang kita memasang cukup banyak panel. Ada yang dipasang di masjid dan juga di rumah singgah. Kenapa Dusun Sembilang, karena ini adalah area ring 2 RU Palembang. Dan di Dusun ini belum masuk listrik, dan jauh dari sumber energi," bebernya.

CSR diperluas

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Provinsi Sumatra Selatan, Edward Chandra menyambut baik dan mengapresiasi langkah yang dilakukan Pertamina dengan membangun IPAL dan solar cell di Palembang dan Banyuasin.

Contohnya solar cell dinilai menjadi pilihan tepat untuk mengurangi emisi dan CO2. "Ini sejalan dengan rencana pemerintah pusat, jika ada perusahaan dan stakeholder yang membangun dan menerapkan penggunaan solar cell tentunya adalah hal yang bagus. Apalagi untuk wilayah Sumsel, yang memang sudah seharusnya memanfaatkan kemajuan teknologi ini," kata Edward Chandra.

Diakui Edward, solar cell menjadi energi alternatif terbarukan yang ramah lingkungan dan dapat digunakan dengan mudah untuk  berbagai kebutuhan rumah tangga ataupun bisnis. "Kami mengapresiasi untuk mereka (stakeholder/perusahaan) yang menjadi pelopor penggunaan solar cell. Kami mendukung ini, karena memang ini sedang digalakkan, bisa kurangi emisi,' jelasnya.

Pihaknya berharap agar pemanfaatan solar cell ini semakin diperluas pemasangannya. "Tak hanya Pertamina, kami juga berharap stakeholder lain ataupun perusahaan lain agar berkontribusi, dan mengeluarkan CSR-nya untuk pemanfaatan energi ini," pungkasnya. (N-1)

 

 

 

BERITA TERKAIT