27 October 2022, 17:29 WIB

Pemerintah Perkuat Pengendalian Karhutla di Wilayah Timur


Atalya Puspa | Nusantara

MI/Palce Amalo
 MI/Palce Amalo
Potret kebakaran hutan di wilayah Nusa Tenggara Timur.

POLA kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia diprediksi akan bergeser. Dari yang awalnya mayoritas terjadi di bagian barat Indonesia, menjadi lebih banyak di Indonesia bagian timur. 

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Basar Manullang menyebut pihaknya terus berupaya untuk memperkuat pencegahan dan penanggulangan karhutla di wilayah timur.

"Pada awal Oktober, kami melakukan rapat koordinasi antisipasi karhutla untuk wilayah Jatim, Bali, NTB dan NTT, utamanya menjelang penyelenggaraan KTT G20 di Bali. Pemangku kepentingan terkait akan lebih memperkuat sinergitas dalam penanganan karhutla," ujar Basar saat dihubungi, Kamis (27/10).

Baca juga: Luas Karhutla Turun 97,3% dalam Tujuh Tahun Terakhir

Menurutnya, pemantauan hotspot sebagai upaya deteksi dini juga akan semakin diintensifkan. Serta, mengaktifkan pengawasan terhadap indikasi kejadian karhutla melalui pengecekan lapangan (groundcheck) dari hasil pemantauan hotspot.

Pada 2022, berdasarkan penghitungan luas karhutla sampai September yang dilakukan KLHK bersama BRIN, luas karhutla di wilayah timur dengan luasan mencolok adalah wilayah NTT, yaitu seluas 67.272 hektare. Karakteristik karhutla di wilayah tersebut berbeda dengan wilayah barat, seperti Sumatera dan Kalimantan.

"Di wilayah seperti NTT, kebakaran lebih banyak terjadi di kawasan padang savana. Tipe kebakaran di atas permukaaan dan bahan bakaran berupa vegetasi rumput savana. Rehabilitasinya juga menjadi bagian dari proses suksesi pada tipe vegetasi tersebut," imbuh Basar.

Selain melakukan koordinasi di tingkat pimpinan, pihaknya juga mengupayakan sosialisasi dan kampanye penyadartahuan. Kemudian, pembentukan dan pembinaan masyarakat peduli api (MPA) dan patroli pada daerah rawan karhutla.

Baca juga: KLHK Tetapkan Tersangka Perusakan Cagar Alam di Gorontalo

"Perlu juga terus meningkatan kapasitas SDM dan kesiapsiagaan sarana-prasarana pengendalian karhutla. Berikut, penyebarluasan informasi hotspot sebagai indikator kemungkinan terjadinya karhutla secara rutin dalam rangka antisipasi," pungkasnya.

Manggala Agni di wilayah timur berada di empat daops, yaitu wilayah Sulawesi Selatan (Gowa dan Malili), Sulawesi Tenggara (Konawe) dan Sulawesi Utara (Bitung), dengan total jumlah sebanyak 180 personel. Kendati demikian, upaya pengendalian karhutla di Indonesia juga dilakukan satuan tugas di tingkat tapak.

Dalam hal ini, baik di bawah pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, seperti halnya oleh Brigdalkarhut pada Balai KSDA, Taman Nasional, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), BPBD dan perangkat daerah lainnya pada pemerintah daerah.(OL-11)

BERITA TERKAIT