29 September 2022, 14:00 WIB

Tiga Bulan Menangkap Teripang untuk Kebutuhan Setahun


Palce Amalo | Nusantara

MI/Palce Amalo
 MI/Palce Amalo
Bobby Hida, nelayan di kampung pesisir Desa Oelaba, Kecamatan Rote Barat Laut, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur memperlihatkan teripang

BELASAN karung berisi teripang yang sudah dikeringkan, diletakan di lantai rumah Bobby Hida, nelayan di kampung pesisir Desa Oelaba, Kecamatan Rote Barat Laut, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, akhir pekan lalu. Ada jenis nenas, koro batu, koro susu, cera, dan bintik polos.

Hewan invertebrata Holothuroidea ini ditangkap dari dasar laut perairan Pulau Datu, Haring Utara, Haring Selatan dan Karang Saringapatan, Australia yang berjarak sekitar 200 mil dari Pulau Rote. Negara Kanguru itu memang mengizinkan nelayan tradisional Indonesia yang mengunakan layar, menangkap teripang dan lola atau siput besar yang cangkangnya berbentuk kerucut. Mereka juga boleh menangkap ikan tetapi terbatas untuk kebutuhan makan di tempat.

Harga jual teripang yang lumayan tinggi mendorong nelayan Rote berbondong-bondong melaut ke perairan Australia. Saban tahun, mulai Juli-September, perahu milik Bobby yang yang diawaki sembilan orang termasuk juragan, bersama 30 perahu lainnya bertolak menuju perairan Australia. Setiap perahu dilengkapi alat global positioning system (GPS) dan bekal yang cukup untuk kebutuhan selama tiga bulan di laut.

Dari ujung timur Rote, kelompok nelayan teripang ini berlayar menuju perairan Pulau Pasir. Jika muncul angin timur yang mendorong perahu layar melaju lebih cepat, waktu tempuh ke Pulau Pasir hanya semalam. Dari sana, mereka melanjutkan pelayaran menuju Pulau Datu dan karang sekitarnya selama satu siang dan dua malam.

"Kalau perahu sudah meninggalkan pelabuhan, setiap hari kami berdoa karena di sana tidak ada sinyal telepon, kami tidak tahu kondisi mereka seperti apa, sengsara atau senang," tutur Bobby Hida yang sudah dua kali menangkap teripang di perairan Pulau Datu.

Di pasaran, teripang jenis koro susu dan bintik polos paling mahal yakni Rp600 ribu per kilogram (kg), kemudian koro batu dijual Rp400 ribu per kg dan cera Rp350 ribu per kilogram, sedangkan harga jual lola hanya Rp15 ribu per kilogram. Pada 2021, pendapatan bersih satu perahu teripang sebesar Rp100 juta, yang dibagi untuk pemilik perahu sebesar 40% dan 60% untuk juragan dan nelayan.

Baca juga: Kelompok Tani Budidaya Teripang Riung Terima SK Hutan Sosial

Jika ditotal, pendapatan dari 31 perahu yang menangkap teripang sekitar Rp3 miliar. Pendapatan sebesar itu dibagi ke hampir 300 awak perahu dan 31 pemilik perahu. Uang sebesar itu dimanfatkan untuk kebutuhan mereka selama satu tahun, sebab nelayan baru kembali menangkap teripang pada Juli tahun depan.

Bobby menyebutkan, menangkap teripang merupakan pekerjaan utama nelayan setempat.

Arifin Kota, juragan berusia yang berusia 46 tahun, sudah sejak usia 15 tahun bekerja sebagai koki di perahu yang menangkap teripang yang beroperasi di perairan Pulau Datu. Menangkap teripang bukan pekerjaan mudah. Nelayan harus menyelam ke dasar laut pada kedalaman antara 3-5 meter tanpa alat bantu pernapasan.

Setelah ditangkap, teripang dijemur di perahu yang selanjutnya dikemas dalam karung yang disiapkan.

"Teripang ada di atas pasir di dalam air, dan juga di dalam pasir, tidak bergerak sehingga langsung ditangkap. Satu kali menyelam, saya mengambil dua sampai tiga teripang," kata Arifin Kota.

Tak selamanya menangkap teripang berjalan mulus. Nelayan harus berjuang melawan ganasnya gelombang Laut Timor. Pada Maret 2022, sebuah perahu yang mengangkut 12 nelayan asal Desa Holama, Rote Barat Laut, tenggelam di perairan Kepulauan Cunningham, Australia Barat, karena dihantam gelombang tinggi. Musibah itu mengakibatkan sembilan nelayan hilang dan tiga orang selamat.

Di tahun yang berbeda, perahu milik Bobby Hida terbawa angin kencang dan gelombang tinggi sampai Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Beruntung seluruh nelayan selamat.

Meskipun tangkapan teripang tahun ini melimpah, Bobby dan nelayan lainnya masih menanti dengan was-was, sebab sampai akhir bulan ini, belum ada saudagar yang datang membeli teripang hasil tangkapan periode Juli-September 2022.

"Kami simpan menunggu sampai pembeli datang," tukas Bobby Hida.(OL-5)

BERITA TERKAIT