26 September 2022, 18:15 WIB

Brimob Polda NTT Distribusikan Air Bersih Di Wilayah Yang Kekeringan


Palce Amalo | Nusantara

MI/Palce Amalo
 MI/Palce Amalo
Warga membawa air bersih bantuan Satbrimob Polda NTT.

SATUAN Brimob Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mendistribusikan air bersih dan siap minum secara gratis kepada warga yang dilanda kekeringan di Kabupaten Kupang, Senin (26/9). Distribusi air bersih itu merupakan kedua kalinya dalam dua pekan terakhir. 

Untuk distribusi air pada Senin siang, difokuskan di Dusun I, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah yang berpenduduk 1.000 keluarga. Di dusun yang bersebelahan dengan Kampus Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ini, tak kurang dari 1.000 warga termasuk mahasiswa menderita krisis air sebagai imbas dari kekeringan.

Untuk memenuhi kebutuhan air, warga dusun setempat membeli air bersih seharga Rp60 ribu per tangki ukuran 5.000 liter untuk kebutuhan mandi dan cuci. Sedangkan, untuk kebutuhan minum, mereka membeli air galon dengan harga bervariasi mulai Rp5.000 sampai Rp10.000 per galon untuk air reverse osmosis (RO).

Brimob Polda NTT mendistribusikan air mengunakan mobil water treatment  yakni unit pengolahan air bersih yang biasa dioperasikan untuk menyiapkan air siap minum kualitas RO di daerah bencana atau daerah yang dilanda kekeringan. Ada juga mobil watergen yang berfungsi mengisap air dari udara kemudian diolah menjadi  air dingin maupun air panas yang disiap diminum.

"Prosesnya dimulai dari menyedot air dari mobil tangki ke wadah yang disiapkan kemudian disedot ke water treatment untuk diolah. Air yang kotor dibuang sedangkan air yang bersih dimasukan ke dalam galon siap diminum," kata Wakil Komandan Batalyon A Pelopor, Satuan Brimob Polda NTT, AKP Rudi Silvester kepada wartawan.

Menurut Rudi, pihaknya masih terus mendistribusikan air siap minum kepada warga di tengah kekeringan saat ini yang berimbas kepada krisis air. "Siapa yang minta air, kami datang untuk melayani," ujarnya.

Kepala Dusun I Desa Penfui Timur, Eduard Taetio yang sudah bermukim di wilayah itu sejak 2003, mengatakan krisis air yang dialami warga sudah lebih dari 20 tahun.

"Wilayah kami berada di ketinggian sehingga tidak bisa dilintasi pipa air (milik PDAM), padahal sumber air untuk kebutuhan warga di Kota Kupang berasal dari Kabupaten Kupang," kata Eduard.

Kondisi tersebut yang membuat kesulitan air yang dialami warga belum berhasil diatasi. "Kami perhatian penuh dari pemerintah untuk mengatasi kesulitan air di sini," harapnya.

Warga setempat, Titin Suri yang juga pemilik kosan mahasiswa di wilayah  itu mengatakan, distribusi air siap minum sangat membantu mahasiswa. Pasalnya, harga air galon dinilai mahal. "Saya bawa lima galon untuk diisi air di sini," kata Titin.

Setiap bulan sepuluh mahasiswa tinggal di kosan miliknya membeli empat tangki air bersih untuk kebutuhan mandi dan cuci, belum termasuk air galon. "Bantuan air ini sangat membantu kami, apalagi diberikan secara cuma-cua," tutupnya. (OL-15) 

BERITA TERKAIT