08 September 2022, 09:18 WIB

Balida Menyulap Lahan Rawa Menjadi Kawasan Wisata


Denny Susanto Ainan | Nusantara

MI/Denny
 MI/Denny
Wisata Pasar Budaya Racah Mampulang di Desa Balida Kabupaten Balangan.

BELAKANGAN ini bermunculan obyek-obyek wisata baru di Kalimantan Selatan, sebagai bentuk inovasi dan upaya pemerintahan desa meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan warganya. Salah satunya adalah destinasi wisata alam dan budaya Desa Balida di Kabupaten Balangan yang dikenal dengan nama Pasar Budaya Racah Mampulang.

Destinasi wisata yang lagi hits ini menawarkan wisata alam dengan suasana khas kawasan persawahan seperti di Pulau Jawa, dilengkapi berbagai fasilitas saung, pendopo serba guna, out bond, titian bambu di tengah sawah dan spot-spot foto instagramable. Meski sempat tutup akibat
pandemi Covid 19, namun perlahan obyek wisata ini mulai bangkit.

"Sempat tutup akibat pandemi. Namun perlahan mulai kita benahi lagi dan pengunjung pun mulai banyak yang datang," ungkap Syahridin, Kepala Desa Balida. Pada 2021 obyek wisata yang dikelola Bumdes-Pokdarwis Balida ini mampu menghasilkan PAD bagi desa mencapai Rp100 juta. Biasanya jumlah pengunjung akan meningkat saat tanaman padi sawah mulai ditanam hingga menjelang panen.

Tidak sekadar menyajikan pemandangan dan suasana alam perdesaan, obyek wisata Pasar Budaya Racah Mampulang juga memadukannya dengan festival budaya yang diadakan setiap bulannya. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar bahkan wisatawan luar daerah untuk
datang berkunjung ke obyek wisata ini.

"Beberapa waktu lalu puluhan wisatawan mahasiswa Australia juga berkunjung kesini. Mereka cukup antusias menyaksikan festival budaya yang kami gelar," kata Syahridin yang memang dikenal sebagai sosok seniman di Desa Balida. Syahridin yang pernah meraih penghargaan Pemuda Pelopor seni budaya tingkat nasional bidang seni budaya 2010 ini mengatakan pengembangan desa wisata ini menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat dimana hampir semua warga ikut terlibat.

Desa Balida sendiri merupakan desa yang berada di area terdekat (ring 1) dengan perusahaan tambang batubara PT Adaro Indonesia. Sementara kawasan yang dijadikan obyek wisata ini dulunya hanya hamparan lahan basah yang selalu tergenang dan semak belukar. Istilah Racah Mampulang berasal dari Bahasa Banjar. Racah artinya genangan air, sedangkan Mampulang adalah kawasan terbuka seperti rawa.

Yang menarik dari obyek wisata ini adalah penggunaan alat tukar (transaksi) berupa potongan bambu juga disebut "koin" racah, untuk berbelanja di kawasan wisata ini. Ada dua nominal koin racah yaitu Rp1.000 dan Rp5.000. Dengan koin racah ini pengunjung dapat berbelanja di pasar
kuliner yang menjual aneka panganan lokal.

Sementara even bulanan di obyek wisata Pasar Budaya Racah Mampulang ini juga menyuguhkan berbagai atraksi budaya dan kesenian seperti Kuda Kepang, Madihin Mamanda, Musik Panting, Wayang Gong hingga seni bela diri tradisional Kuntau.

"Desa kami juga dikenal dengan desa seni. Ada delapan sanggar kesenian. Obyek wisata ini juga sekaligus sebagai sanggar mereka berlatih dan beratraksi di depan pengunjung," ungkap salah seorang pegiat seni Desa Balida. (OL-13)

Baca Juga: Dilarang Beraktivitas Radius 5 Km dari Kawah Gunung Anak Krakatau

 

 

 

BERITA TERKAIT