28 August 2022, 11:17 WIB

PPA Institute Mulai Bangun Kampung Cahaya Peradaban di Subang


mediaindonesia.com | Nusantara

Ist
 Ist
Mentor PPA Institute berbicara di hadapan para peserta.

LEMBAGA training berbasis ilmu-ilmu Al Qur’an dan hadist PPA Institute baru-baru ini telah mengakuisisi lahan sebesar 5 hektar dari target 30 hektar yang berlokasi Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat sebagai awal permulaan proyek Kampung Cahaya Peradaban.

Lokasi ini nantinya akan berkonsep agrowisata yang akan menjadi lokasi terpadu untuk membina masyarakat dari sisi spiritual, finansial dan sosial. 

Menurut Pendiri PPA Institute Rezha Rendy, Kampung Cahaya Peradaban akan menjadi pusat kegiatan untuk membangun ragam kebaikan untuk masyarakat.

Ragam kegiatan tersebut seperti One Qur’an Institute untuk mendidik santri-santri dari kalangan anak yatim, warga sekitar dan masyarakat umum untuk menjadi penghafal dan penghidup Al Qur’an. Selain itu juga akan dibangun wisata pertanian, peternakan, dan perikanan.

“Daerah ini juga akan menjadi destinasi wisata Al Qur’an Tourism yang menjadi tujuan wisata alam berbasis Al Qur’an yang teraplikasi. Di sanalah kita akan membangun pusat studi Qur’an, pusat kaderisasi untuk menjadi pemimpin-pemimpin kebaikan yang manfaatnya untuk masyarakat Indonesia, dan juga masyarakat yang mandiri secara finansial,” tuturnya  dalam keterangan, Minggu (28/8). 

Dalam fase pertama ini, PPA Institute telah menghimpun dana sebesar 6 milyar rupiah dan mulai membangun masjid dan lembaga One Qur’an Institute.

Baca juga: Wakil Bupati Subang: Produksi Padi di Bawah Mentan SYL Terus Meningkat

Tujuan dibangunnya Kampung Cahaya Peradaban ini sendiri adalah untuk menjadi solusi masalah-masalah di Indonesia yang semuanya berakar dari masalah ketauhidan.

“Seberapa kita kenal dengan diri kita sendiri, dan seberapa kenal kita dengan Tuhan. Ini adalah masalah besar. Dan yang kedua adalah menyiapkan sistem finansial dan sosial terbaik untuk kita dan generasi setelah kita. Kampung ini menjadi jalan untuk mewujudkan itu semua.”

Dituturkan Rendy, bangsa Indonesia saat ini mengalami krisis bobot kebaikan di semua lapisan masyarakat. Umat Islam mengalami degradasi moral dan masalah sosial yang sangat memprihatinkan mulai dari perzinaan yang terang-terangan, kemusyrikan, kriminalitas, kemiskinan dan kebodohan.

Berdasarkan riset Wellcome Global Monitor 2020, kutipnya, ditemukan fakta bahwa orang-orang di Indonesia memiliki tingkat kepercayaan yang sama antara ilmuwan dan dukun, khususnya pada saat pandemi yang lalu.

Dengan masing-masing 12% dan 13% mengatakan mereka sangat memercayai kelompok-kelompok ini.

Selain itu, penelitian FISIP Universitas Lampung di suatu daerah menunjukkan bahwa orang Indonesia menganggap dukun sebagai profesi terhormat dan dianggap sebagai penolong.

“Kita akan fokus pada pendidikan, dan banyak santri yang dicetak bukan hanya sebagai penghafal Qur’an tapi juga mencetak generasi-generasi Qur’an berikutnya,” kata Rezha. 

Selain pendidikan, PPA Insitute juga telah membangun beragam usaha seperti penerbitan, umroh, emas, ekspedisi, herbal serta mengelola wakaf produktif yang saat ini sudah membantu 300 orang dengan lebih dari 5000 member.

Selain itu, pada semester I 2022 kemarin, telah dieksekusi juga program Indonesia Bebas Lapar dengan menyalurkan dana lebih dari 100 juta rupiah dengan penerima wakaf sebanyak 1000 orang per bulan.

Lalu ada The Yatim Village, sebuah lokasi untuk hunian dan tempat anak-anak yatim tinggal dan bermain, telah disalurkan lebih dari 3 miliar rupiah di semester yang lalu dengan 1039 anak yatim yang dibina.

“Kami juga ada Depot Air Minum gratis yang telah kami salurkan di tahun 2022 ini dengan membangun dua tangka air dengan kapasitas 4000 liter serta mesin pengolah air minumnya," jelas Rezha.  

"Rencana kami adalah membangun 100 titik di berbagai daerah. Selain itu juga ada wakaf usaha mikro, mobil kemanusiaan, aplikasi Amazing Riyadoh, kios pangan mandiri dan sebagianya,” tutupnya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT