21 August 2022, 21:20 WIB

Tasikmalaya Fashion Week Kampanyekan Kebaya Goes to UNESCO


Kristiadi | Nusantara

MI/KRISTIADI
 MI/KRISTIADI
Ratusan perempuan dari sejumlah komunitas di Tasikmalaya, Jawa Barat, memeragakan busana kebaya mereka, Minggu (21/8).

HUJAN deras yang mengguyur berbagai wilayah di Tasikmalaya, Jawa Barat, tidak menyurutkan bagi ratusan perempuan di kota ini untuk menggelar kebaya fashion week di halaman Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Ratusan perempuan yang dipimpin langsung oleh istri Wali Kota Tasikmalaya itu tetap memeragakan busana mereka di atas catwalk plastik.

Pantauan di halaman Kantor Disdukcapil Jalan Pemuda Kota Tasikmalaya, sejumlah komunitas perempuan yang telah mengenakan kebaya itu terpaksa harus berteduh di dalam bangunan kantor setelah hujan deras menguyur. Namun, kegiatan tetap berjalan setelah hujan mereda.

Beberapa di antara mereka juga melakukan orasi untuk memperjuangkan kebaya goes to UNESCO, dilanjutkan dengan berlenggak-lenggok memperkenalkan busana kebaya.

Panitia pelaksana, Anne Yuniarti, mengatakan, hujan deras yang menguyur wilayahnya tidak menyurutkan ratusan perempuan untuk mengampanyekan bentuk kepedulian kebaya goes to UNESCO melalui gerakan mendukung agar kebaya ditetapkan menjadi warisan dunia.

Menurut Anne, kebaya merupakan warisan bangsa yang tidak boleh punah tetapi harus terus diwariskan kepada para generasi selanjutnya.

"Kebaya adalah sebagai warisan bangsa dan tidak boleh punah, tapi harus terus diwariskan kepada generasi selanjutnya. Karena, selama ini tidak hanya kebaya khas Sunda, melainkan juga kebaya dari berbagai wilayah Indonesia. Memang acara tadi sempat kehujanan tapi tetap berjalan hingga selesai. Kami akan terus mengampanyekan gerakan ini, tidak menutup kemungkinan kami akan mengenakan kebaya ke pasar, kantor, dan tempat lainnya," katanya, Minggu (21/8).


Baca juga: Emak-Emak di Lampung Kompak Dukung Ganjar Presiden 2024


Aktivis perempuan Tasikmalaya, Ipa Zumrotul Falihah, mengatakan, gerakan perempuan di Tasikmalaya mendukung Kemendikbudristek yang tengah berusaha untuk mendaftarkan warisan budaya tak benda menjadi warisan dunia melalui kebaya goes to UNESCO. Karena, kata dia, kebaya menyampaikan cinta, kebinekaan, toleransi, organisasi, kepemudaan perempuan, dan telah menyatukan aura cinta.

"Kami perempuan Tasikmalaya mendukung kebaya goes to UNESCO hingga ditetapkan sebagai warisan tak benda. Karena, kebaya digunakan oleh semua lapisan masyatakat di Indonesia berbagai suku, agama, dan lainnya. Ke depan kami juga mengampanyekan agar digunakan oleh pegawai negeri, BUMN, BUMD, pegawai mal, toko, dan lainnya agar terbiasa," ujarnya.

Sementara, seorang model Indonesia, Fiona Sukapura, mengatakan, gerakan perempuan di Tasikmalaya dalam mendukung program kebaya goes to UNESCO menjadi warisan dunia luar biasa. Karena, kebaya ini adalah identitas nasional maupun lokal harus ada generasi selanjutnya terutamanya yang menjaga meski sekarang ini sudah modern harus ada penyesuaian.

Istri Wali Kota Tasikmalaya yang juga putri mendiang seniman Affandi, Rukmini, mengatakan, pihaknya mengapresiasi puluhan komunitas perempuan di Tasikmalaya yang mengampanyekan kebaya goes to UNESCO. Meski cuaca kurang mendukung, para peserta tetap bersemangat untuk menampilkan diri. Menurutnya, kegiatan positif itu harus dijaga dan dilakukan sesering mungkin agar tidak punah.

"Mereka sangat cantik-cantik semua dengan mengenakan kebaya dan berlenggak-lenggok memperkenalkan busana kebaya. Apalagi, di sini banyak yang mengenakan kebaya dengan bordir atau batik Tasikmalaya dan sekaligus mempromosikan produk UMKM berasal dari Kota Tasikmalaya," katanya. (OL-16)

BERITA TERKAIT