24 July 2022, 21:55 WIB

Orangtua Mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB Tuntut Penyelesaian Kemelut


Naviandri | Nusantara

DOK/FORUM ORANGTUA MAHASISWA SBM ITB
 DOK/FORUM ORANGTUA MAHASISWA SBM ITB
Forum Orangtua Mahasiswa SBM ITB saat mengadu ke Kementerian Pendidikan

 

Sejumlah orangtua mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut
Teknologi Bandung (SBM ITB) bersiap menempuh jalur hukum terkait
permasalahan yang terjadi di SBM ITB. Permasalahan itu tak kunjung selesai meski sudah berjalan delapan bulan.

Perwakilan orang tua mahasiswa SBM ITB, Ali Nurdin, menyampaikan sejak
awal Desember 2021 kualitas pendidikan di SBM ITB hingga saat ini
menurun. Padahal, pihak rektorat ITB mengatakan sudah membentuk tim
transisi dan transformasi SBM ITB pada 18 Maret 2022, yang terdiri atas
unsur rektorat dan unsur SBM ITB.

Mereka bekerja hingga Juni 2022 untuk mencari solusi  atas permasalahan yang ada di SBM ITB. "Sampai sekarang tak ada informasi sedikit pun soal apa hasil rekomendasi dari Tim Transisi dan Transformasi SBM ITB. Kami juga tidak pernah dapat informasi soal sikap rektor ITB pada rekomendasi dari tim  transisi," kata Ali di Bandung, Minggu (24/7).

Ali mengatakan, Rektor ITB tak pernah memberikan keterangan bagaimana
menyelesaikan permasalahan yang terjadi di SBM ITB dengan efektif.
"Padahal, kami sudah berulang kali minta rektor mengundang kami sebagai
orang tua mahasiswa untuk menjelaskan secara resmi perkembangan
penyelesaian permasalahan yang ada di SBM ITB," ujarnya.

Ali mengatakan, pihak orang tua mahasiswa sudah melayangkan somasi
pertama pada 12 Mei 2022. Namun, somasi itu tak mendapat respons hingga
kemudian melayangkan kembali somasi kedua pada 16 Juni 2022. Tetapi,
tetap tak ada!respons sama sekali dari rektor.

"Kami kecewa dan sangat menyesalkan sikap rektor ITB ini yang
memperlihatkan tak mampu dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di
SBM ITB. Situasi ini jelas kami khawatir berisiko pada menurunnya mutu
dan moral pendidikan di SBM ITB dan ITB secara keseluruhan, " ucapnya

Menurutnya, ada tujuh faktor yang dapat menurunkan mutu pendidikan di
SBM ITB, seperti penurunan pagu anggaran pendidikan di SBM yang semual
Rp 103 miliar di 2021 menjadi Rp 94,5 miliari di 2022, hilangnya
beberapa kegiatan pendidikan, adanya unifikasi alokasi anggaran untuk
semua fakultas/sekolah/prodi dengan pnstur yang sama padahal
kebutuhannya berbeda-beda dalam mencapai standar nasiomal atau
Internasional.

Kemudian rantai birokrasi administrasi pendidikan yang terpusat
(sentralisasi) di ITB sampai tak efisien dan menghambat pelayanan
pendidikan bagi mahasiswa ITB, berkurangnya para dosen senior dan dosen
praktisi atau profesional, menurunnya semangat para dosen SBM ITB dan
tenaga kependidikan yang tersisa, hingga adanya wacana melibatkan dosen
dari fakultas lain di luar SBM ITB tanpa prosedur kompetensi dan
kepantasan yang jelas, dan belum adanya pejabat dekanat SBM ITB yang
definitif sampai sekarang.

"Kami, forum orangtua mahasiswa SBM, dengan tekad untuk menjaga dan
memajukan kualitas pendidikan yang ada di SBM ITB, ajukan somasi terbuka ke Rektor ITB, MWA ITB, dan Mendikbud RI untuk segera menyelesaikan permasalahan yang ada di SBM. Bila sampai akhir Juli ini tak ada penjelasan bagaimana cara menyelesaikan permasalahan yang ada, maka dengan sangat terpaksa kami akan ambil upaya hukum untuk perjuangkan hak-hak kami dan anak-anak kami yang dilindungi dan dijamin oleh konstitusi UUD 1945," jelasnya.

Ketika disinggung upaya hukum semacam apa, Ali mempertegas semisal
melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri Bandung serta mengadukan dan
menyampaikan masalah tersebut ke Ombudsman. "Pada intinya, kami ingin
SBM ITB ini berada pada jalurnya lagi, tidak ingin kualitasnya. Kami kami juga tidak ingin mempermalukan ITB." (N-2)

BERITA TERKAIT