04 July 2022, 19:48 WIB

Sandiaga Uno Turut Ikuti Tradisi Rambut Gimbal di Desa Sembungan 


mediaindonesia.com | Nusantara

Ist
 Ist
Menparekraf Sandiaga Uno turut melakukan wisata budaya Potong Rambut Gimbal merupakan daya tarik yang fantastis di Wonosobo, Jateng.

BERWISATA ke Wonosobo tidak lengkap tanpa menikmati sunrise di Puncak Sikunir. Destinasi wisata yang berada di Jawa Tengah (Jateng) tu terkenal dengan keindahan pemandangan matahari terbit.

Maka, tidaklah heran, objek plesiran yang berada di Desa Sembungan tersebut masuk dalam 50 desa terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (/Baparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno berkesempatan bertandang ke desa tersebut pada Minggu pagi (3/7).

Dalam keterangan pers, Senin (4/7), Sandi mengungkapkan, perpaduan antara destinasi wisata alam Telaga Cebong dan wisata budaya Potong Rambut Gimbal merupakan daya tarik yang fantastis.

Untuk meningkatkan potensi wisata di desa tersebut, Kemenparekraf berkolaborasi dengan perusahaan Astra.

Baca juga: Surga Tersembunyi di Gianyar, Desa Taro Raih BCA Desa Wisata Award

”Saya ingin berikan tepuk tangan kepada Astra yang telah menjadikan ini Tunas Kampung Berseri Astra. Sebagai mitra kita untuk membangkitkan ekonomi, menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya,” kata Sandi didampingi Wakil Bupati Wonosobo Drs.M Albar saat kunjungan ke di Desa Sembungan, Kabupaten Wonosobo, Jateng.    

Desa Wisata Sembungan, terletak di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Desa itu merupakan desa tertinggi di pulau Jawa, berada pada ketinggian sekitar 2.300  Mdpl.

Lokasi Desa Sembungan sangat mudah dijangkau dari arah Wonosobo yaitu sejauh 24 kilometer atau dapat ditempuh dengan waktu 55 menit.

Puncak Sikunir merupakan destinasi ikonik yang menjadi unggulan. Objek wisata tersebut menawarkan keindahan pemandangan matahari terbit yang tiada duanya.

Untuk dapat menikmati sunrise di sana, wisatawan  dapat mengunjunginya pada musim kemarau di mana cuaca cenderung lebih cerah dan tak berkabut.

Dalam perjalanan menuju puncak bukit, wisatawan akan disuguhkan pemandangan yang indah. 

Salah satunya adalah pemandangan Telaga Cebong yang merupakan telaga yang terjadi dari bekas kawah purba.

Ddulunya telah Cebong memiliki luas sekitar 18 hektare, tetapi lama-kelamaan mulai menyempit dan tersisa sekitar 12 hekttare.

Lokasi Telaga Cebong berada di sebelah barat Gunung Sikunir dengan bentuk menyerupai cebong/berudu mungkin dari bentuk itulah akhirnya telaga ini diberi nama telaga cebong.

Kemudian, ada air Terjun Sikarim. Itu merupakan curug tertinggi yang ada di Pulau Jawa karena memiliki ketinggian sekitar 125 meter.

Airnya mengalir melewati tebing batu yang sangat tinggi, terdapat beberapa aliran air di tebing tersebut. Air yang mengalir tersebut berasal dari Telaga Cebong.

Sementara soal potensi seni dan budaya, desa tersebut memiliki beragam tarian dan salah satunya, tari Angguk.

Tari Angguk merupakan hiburan atau pendukung untuk menyemarakkan perhelatan, pernikahan atau nadir (membayar janji).

Lalu ada budaya Ruwatan Cukur Gimbal. Budaya ini merupakan upacara pemotongan (cukur) rambut pada anak-anak berambut gimbal (gembel).

Ritual ruwatan yang diadakan pada tanggal 1 Suro menurut kalender Jawa ini bertujuan untuk membersihkan atau membebaskan anak-anak berambut gimbal dari sukerta atau sesuker (kesialan, kesedihan, atau malapetaka).

Soal kuliner, wisatawan dapat berburu Carica, Terong Belanda, dan Purwaceng. 

Di desa ini, para wisatawan juga dapat bermalam. Tersedia 40 homestay dengan biaya sewa per kamar antara Rp 250 ribu – 400 ribu. 

Kepada awak media, Sandi merespons pertanyaan wartawan terkait berapa persen kenaikan kunjungan wisata di Tanah aAr di tengah pandemi.

” Sebanyak 30% berdasarkan big data yang dikumpulkan dari berbagai sumber yang menjadikan suatu momentum kebangkitan kita. Di tengah-tengah pandemi justru desa wisata ini menjadi pilihan,” terang Sandi. (RO/OL-09)

 

BERITA TERKAIT