29 June 2022, 17:30 WIB

Mandiri Energi Terbarukan Dorong Warga Pinggiran Banyumas Lebih Sejahtera


Lilik Darmawan | Nusantara

MI/LILIK DARMAWAN
 MI/LILIK DARMAWAN
Seorang warga memeriksa aliran listrik yang dihasilkan dari PLTMH di Dusun Kalipondok, Desa Karangtengah, Cilongok, Banyumas, Jateng

PAGI masih berkabut ketika Rasim, 40, memulai aktivitas hariannya. Pemandangan kabut sudah menjadi panorama harian di dusun yang menjadi tempat tinggal Rasim.

Tidak hanya pagi hari, kadang siang atau sore hari. Apalagi selepas
hujan. Situasi itu semakin membuat sejuk kawasan Dusun Kalipondok, Desa
Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng).

Sebagai wilayah di lereng selatan Gunung Slamet, Dusun Kalipondok berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Dengan kondisi hutan yang masih bagus, sumber tidak pernah berhenti memancarkan air. Penduduk sekitar memanfaatkan air untuk keperluan setiap hari. Tidak hanya untuk kebutuhan minum dan memasak, air yang mengalir dari mata air maupun sungai dipakai untuk pembangkit
listrik.

Salah satu tampungan air ang dimanfaatkan adalah Telaga Pucung. Dari telaga yang tidak pernah kering di musim kemarau itu, masyarakat setempat memanfaatkan untuk sumber air bersih. Juga digunakan untuk pembangkit listrik.

Selama satu dekade terakhir, air dari Telaga Pucung dialirkan guna
menggerakkan turbin di pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di
dusun setempat. Kemunculan PLTMH tidak sekonyong-konyong, melainkan
melewati proses panjang.

Awalnya pada 1980-an, penerangan hanya dengan senthir atau lampu dian
yang bersumber dari minyak tanah. Lalu, pada 1990 hingga 2000, warga mulai memanfaatkan arus Sungai Prukut, Sungai Peh dan aliran
Telaga Pucung guna menggerakkan turbin. Mereka membuat turbin kayu dan
menghasilkan listrik untuk penerangan rumah. Bahannya sederhana,
memanfaatkan dinamo.

"Hampir setiap rumah mempunyai atau setidaknya dua rumah satu instalasi
sederhana. Daya penggeraknya adalah air yang mengalir. Kincir yang
bergerak itulah mengoperasikan dinamo. Dari dinamo itulah bisa
dimanfaatkan daya listriknya untuk penerangan," kata Rasim.

Warga memanfaatkan itu, karena wilayah Dusun Kalipondok terpencil dan
PLN belum mampu menjangkaunya. Namun demikian, daya listrik turbin dari
kayu tersebut terbatas, sehingga tidak bisa untuk menyalakan televisi
apalagi setrika atau kulkas.

"Meski demikian, bagi kami itu merupakan pencapaian yang baik, karena ada penerangan. Karena sebelumnya dusun gelap gulita," lanjutnya.

Perkembangan berikutnya, masuklah masa yang lebih baik lagi, yakni
pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).  Dengan adanya PLTMH,  
warga mulai meninggalkan turbin kayu. PLTMH di Dusun Kalipondok
merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng.

Ekonomi Menggeliat

PLTMH di Kalipondok pada awalnya merupakan bantuan dari TNI, yakni
Kodim 0701 Banyumas. Bentuknya masih sederhana.

Kemudian, ada bantuan dari Pemprov Jateng untuk menyempurnakan PLTMH awal. Kemudian pada 2016 lalu, ada lagi bantuan PLTMH yang kedua. Sampai enam tahun kemudian, PLTMH masih kokoh berdiri dan dimanfaatkan oleh warga tanpa kendala.

Salah seorang tokoh dusun setempat sekaligus pengurus PLTMH Kalipondok,
Narto, mengungkapkan sebetulnya PLTMH yang pertama dan kedua masih tetap dapat dimanfaatkan. Tetapi sekarang pengurus mengoptimalkan PLTMH yang kedua.  

"Saat ini, kami memang memiliki dua unit PLTMH. PLTMH pertama
merupakan pengembangan dari bantuan TNI kemudian disempurnakan dari
Dinas ESDM Provinsi Jateng. Yang kedua adalah bantuan dari Pemprov
Jateng. Ini yang kemudian dimanfaatkan oleh warga saat ini," jelasnya.

Menurutnya, kedua PLTMH, setiap instalasinya mempunyai daya 15 Kilo Watt (KW). Dengan 15 KW saja, sudah mencukupi warga dusun.

PLTMH dikelola secara swadaya oleh masyarakat dengan membentuk kelompok sejak 2012. "Kebetulan, ketika pengurus awal terbentuk, ketuanya adalah saya. Tugas kelompok adalah mengelola dan memelihara PLTMH. Pengurus juga menarik iuran sesuai dengan daya yang digunakan. Iuran ditarik sebulan sekali. Setiap rumah sudah memiliki meteran seperti PLN. Jadi tinggal melihat lalu mengalikan tarif per KWH. Kalau sekarang per KWH masih terjangkau hanya Rp500," tambah Narto.

Dia menambahkan saat ini jumlah pelanggan listrik sebanyak 80
pelanggan. Tidak hanya keluarga saja, tapi juga pengelola objek wisata
dan penginapan. Kebetulan di wilayah setempat merupakan kawasan wisata
Curug Cipendok. Ada penginapan, warung maupun tempat wisata yang juga membutuhkan listrik. Untuk jumlah rumah sendiri ada 67 unit yang dihuni 75 KK.

Narto mengakui dengan adanya PLTMH, maka ekonomi masyarakat menggeliat.
Pasalnya, dengan adanya listrik mandiri bersumber dari energi
terbarukan itu, masyarakat mulai bisa mengembangkan usaha.

"Saya juga memanfaatkan listrik untuk membuka warung. Baik untuk penerangan maupun freezer. Dulu jelas tidak mungkin sebelum ada era PLTMH," ujarnya.

Biaya per KWH jauh lebih murah daripada listrik PLN. Dengan per
KWH hanya Rp500, masyarakat tidak merasa berat.

"Masyarakat yang biasa menggunakan untuk penerangan, televisi dan setrika paling hanya membayar iuran Rp25 ribu hingga Rp35 ribu per bulan. Saya saja yang memiliki freezer untuk usaha dan kulkas, hanya Rp65 ribu per bulan," tambah Narto.

Penginapan yang berlangganan listrik dari PLTMH Kaliondok juga begitu
terbantu. Karena listrik dari PLN belum menjangkau. Meski dengan PLTMH,
mereka juga bisa menggunakan untuk berbagai keperluan, yang pasti penerangan. "Penginapan di sini masih sederhana. Tidak perlu AC
karena udaranya sudah sejuk," ungkap Narto.

Dia mengakui, kehadiran PLTMH mendorong ekonomi masyarakat ke arah
perbaikan. Karena mereka sangat terbantu dengan adanya listrik.
Kehadiran listrik menjadikan usaha masyarakat berkembang.

Contohnya saja, warga yang rata-rata adalah petani sayur, bisa bekerja melakukan pengepakan sayur sejak dinihari karena adanya listrik. Kalau dulu harus menunggu matahari terbit.

Iuran untuk Pengelolaan PLTMH

Lalu, iuran yang dikumpulkan oleh pengurus dipakai untuk apa? Narto
mengatakan setiap bulannya, iuran yang terkumpul berkisar antara Rp2,5
juta hingga Rp3 juta.

"Iuran tersebut dipakai untuk operasional pemeliharaan. Sebagian dipakai untuk honor pengurus yang melakukan penarikan iuran dan pengecekan instalasi. Sebagian lainnya ditabung dan bakal dipakai untuk pemeliharaan. Misalnya kalau ada suku cadang yang mengalami kerusakan, pengurus sudah memiliki tabungan untuk membelinya," papar Narto.  

Keberadaan PLTMH juga mengharuskan masyarakat untuk menjaga lingkungan
hutan. Bagi Narto dan warga lainnya, menjaga lingkungan hutan merupakan
sebuah keharusan.

"Seandainya hutan rusak, maka air akan hilang. Itu merupakan petaka buat kami. Air dari mata air merupakan hal yang vital. Tidak saja untuk memenuhi kebutuhan minum dan masak tetapi juga menggerakkan turbin. Warga di sini sepakat untuk selalu menjaga kelestarian hutan," tegasnya.

Penjagaan hutan agar tetap lestari, sesungguhnya juga membantu warga
yang berada di desa-desa bagian bawah di Kecamatan Cilongok. Sebab, air
dari mata air yang dipakai oleh warga tetap dialirkan ke bawah. Air
tersebut digunakan untuk irigasi sawah maupun kolam-kolam ikan. Jadi,
dengan hutan tetap lestari, maka air tetap bisa mengalir. Ekonomi
masyarakat juga bisa terus bergulir.

Secara terpisah,  Kepala Cabang Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral
(ESDM) Provinsi Jateng Wilayah Slamet Selatan Mohammad Sholeh didampingi Kepala Seksi Energi Saptono mengatakan Kalipondok merupakan salah satu dusun yang mampu menjaga dan mengelola bantuan PLTMH dengan baik.

"Kalipondok adalah satu contoh dusun mandiri energi. Konsistensi warga
dalam memelihara PLTMH menjadi kunci. Sehingga, sampai sekarang PLTMH
tetap berkelanjutan," kata dia.

Tak mengherankan jika Kalipondok yang merupakan bagian dari Desa
Karangtengah mendapat penghargaan Desa Mandiri Energi tingkat Provinsi
Jateng. Tidak hanya PLTMH. ternyata warga setempat juga memanfaatkan kotoran sapi untuk biogas.

"Cukup lengkap memang keunggulan Dusun Kalipondok. PLTMH tidak sekadar dimanfaatkan untuk penerangan semata, melainkan mendorong usaha produktif. Seperti usaha penginapan, warung dan menjahit. Biogas yang dihasilkan dari kotoran sapi bisa menjadi alternatif untuk bahan bakar saat memasak," ujar Sholeh. .

Begitulah potret Dusun Kalipondok di Desa Karangtengah. Meski berada di
wilayah pinggiran, tidak kemudian menyerah pada keadaan. Justru
sebaliknya, mereka bangga bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada
secara arif dan bijaksana demi asa masa depan yang lebih sejahtera. (N-2)

BERITA TERKAIT