29 June 2022, 11:40 WIB

Penataan Infrastruktur KTT G-20 di Bali Serap 33 Ribu Naker


Arnoldus Dhae | Nusantara

dok.Setpres
 dok.Setpres
Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke kawasan Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Kamis (2/12/2021) untuk persiapan G-20.

PENATAAN berbagai infrastruktur menjelang KTT G-20 di Bali sangat masif. Penataan berbagai infrastruktur ini menggunakan APBN menuju KTT G-20 dilakukan di 12 titik berskala besar atau mega proyek. Pengerjaan tersebut menyerap 33 ribu tenaga kerja lokal dan luar Bali.

Diantaranya, ruangan VVIP Bandara Ngurah Rai, penataan Simpang Dewa Ruci, jalan tol Bali Mandara, reservasi peningkatan jalan nasional di seluruh titik, reservasi dan peningkatan Simpang Siligita-Kempisky, reservasi kawasan Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), reservasi dan peningkatan Hotel The Apurva Kempisky, penataan kawasan Mangrove di Tahura Ngurah Rai, rehabilitasi Waduk (Estuari Dan) Suwung, pembangunan Embung Sanur, penataan kawasan GWK di Kuta Selatan, pembangunan Pelabuhan Segitiga Sanur-Nusa Lembongan-Nusa Penida.

Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan, berbagai penataan mega proyek dalam rangka persiapan KTTG-20 ini menjadi bagian positif bagi Bali dan Indonesia. Di berbagai proyek tersebut telah menyerap banyak tenaga kerja baik dari Bali maupun dari berbagai daerah lainnya di Indonesia.

"Ada sekitar 33 ribu orang tenaga kerja yang terserap dalam berbagai pembangunan mega proyek tersebut. Mereka berasal dari Bali dan dari berbagai daerah lainnya di Indonesia. Ini sangat menguntungkan bagi Indonesia," ujar Sekda Bali Dewa Made Indra, dikutip Rabu (29/6)

Menurut dia, apakah tenaga kerja berasal dari Bali maupun dari berbagai wilayah di Indonesia itu tidak menjadi masalah untuk dibahas. Asalkan anak-anak bangsa ini bisa mendapatkan kerja selama kurang lebih dua tahun menganggur akibat pandemi Covid-19.

Ia melanjutkan, serapan 33 ribu lebih tenaga kerja tersebut belum dihitung dengan dampak tak langsung lainnya. Dampak tak langsung lainnya yakni serapan material, sektor non formal seperti penjualan makanan kecil, minuman, gorengan, dan sebagainya. "Semuanya berdampak. Bila mereka datang dari luar daerah maka mereka butuh makan, butuh minum, butuh menginap, butuh transportasi. Jadi semuanya sama sama maju. Sudah saatnya tidak bisa lagi berpikir ego sektoral," urainya.

Penataan berbagai infrastruktur tersebut harus juga berdampak bagi masyarakat. Masyarakat yang paling kecil pun harus bisa ikut menikmati dampak berbagai mega proyek penataan infrastruktur jelang KTT G-20. (OL-13)

Baca Juga: Festival Sriwijaya ke XXX Pamerkan 43 Warisan Budaya Tak Benda

 

BERITA TERKAIT