28 June 2022, 20:47 WIB

Ratusan Petani Kalteng Ikuti Program tanpa Bakar dan Kimia


Mediaindonesia.com | Nusantara

DOK RMU.
 DOK RMU.
Aliansyah.

PERLAHAN tetapi pasti, kesadaran masyarakat untuk membuka lahan dan bercocok tanam secara ramah lingkungan semakin meningkat. Salah satunya di Kalimantan Tengah, tepatnya di desa-desa seputar sungai Katingan dan Mentaya. Di sana, sekitar 800 petani dari 16 desa berinisiatif mempraktikkan cara membuka lahan dan bercocok tanam secara berkelanjutan, yakni tanpa membakar dan tanpa memakai bahan kimia atau TBTK (tanpa bakar tanpa kimia).  

Dengan total lahan garapan seluas sekitar 780 hektare, para petani itu tergabung dalam program Sekolah Tani Agroekologi yang digagas oleh PT Rimba Makmur Utama (RMU) melalui Katingan Mentaya Project (KMP). Ini merupakan inisiatif restorasi dan konservasi ekosistem hutan gambut seluas 157.875 hektare di Kalimantan Tengah.

Aliansyah, seorang petani sayur dan buah dan peserta program Sekolah Tani Agroekologi, ialah salah satu contoh petani yang sudah menikmati keuntungan dari hasil panen pertanian organik yang dipraktikkannya. Ditemui di kebunnya di Desa Babaung, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotawaringin Timur, tempatnya bercocok tanam jeruk, kacang panjang, cabai dan beberapa jenis sayuran lain, Aliansyah mengungkapkan pengalamannya setelah ikut serta dalam program Sekolah Tani Agroekologi. 

Sebelum 2020, ia bercocok tanam secara nonorganik dan hasil yang dipeoleh jauh dari harapan. Kondisi tanah yang rusak akibat bahan kimia yang dipakai terus menerus menyebabkan modal yang harus ia keluarkan untuk perawatan mencapai lebih dari dua kali lipat dari hasil panen waktu itu. Saat hampir menyerah, ia diperkenalkan pada program STA oleh PT RMU dan diajak mengikuti temu lapangan di Desa Kelampan. 

"Di sana, saya melihat sendiri hasil dari para petani yang menerapkan praktik pertanian tanpa bakar dan tanpa kimia dengan panen yang sangat memuaskan. Saya pun tertarik untuk ikut serta program ini. Ternyata, hasil yang saya peroleh sangat baik. Yang paling memuaskan yaitu panen jeruk. Dalam tiga bulan saya bisa memanen 1 ton jeruk. Kini, kebun jeruk saya selalu berbuah sepanjang tahun, tanpa henti, dan tidak mengenal musim," urainya. 

Aliansyah memaparkan, satu kunci sukses dalam teknik bertanam TBTK yaitu perawatan ekstra di awal untuk mengembalikan kondisi tanah dan tanaman yang sudah rusak akibat bahan kimia yang digunakan sebelumnya. Ia juga harus lebih tekun memotong rumput, karena dalam teknik ini tidak digunakan bahan kimia apapun selama proses penanaman. Rumput yang dipotong itu kemudian menjadi pupuk organik yang baik bagi kesuburan tanah. Dengan mempraktikkan cara bercocok tanam yang ramah lingkungan, Aliansyah beserta banyak petani lain di Kalimantan Tengah menjadi bagian dari solusi mengatasi perubahan iklim.

General Field Manager RMU Taryono Darusman mengatakan ekosistem hutan rawa gambut merupakan ekosistem yang memiliki cadangan karbon tertinggi di dunia dan sangat penting dijaga sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah pemanasan global. Masyarakat yang bermukim di sekitar area hutan gambut berperan utama dalam menjaga kelestarian hutan, dan upaya konservasi seperti apapun tidak akan efektif tanpa peran serta mereka. "Itulah yang menggerakkan kami di RMU untuk bekerja sama dengan masyarakat untuk memberikan alternatif cara bercocok tanam yang lebih ramah lingkungan, yakni tanpa membakar dan tanpa menggunakan bahan kimia," tuturnya.

Baca juga: Sembilan Perusahaan Sawit di Kalimantan Selatan Kembangkan Ternak Sapi

Sekolah Tani Agroekologi ialah salah satu wujud dari kerja sama tersebut. Melalui program ini, pihaknya bersama para mitra dan warga bahu membahu untuk memberikan solusi bagi para petani untuk dapat terus mempertahankan dan meningkatkan penghasilannya melalui cocok tanam sambil memastikan bahwa ekosistem hutan tetap terjaga. Dalam program ini, petani diberi pelatihan mengenai cara bertani yang berkelanjutan dan mendapat akses ke pendanaan mikro yang disiapkan oleh RMU. 

Seperti diketahui, pembukaan lahan yang sering dilakukan selama ini, yakni dengan metode slash and burn (babat dan bakar), berisiko besar terhadap terjadinya kebakaran hutan yang lebih luas. Selain itu, lahan yang dibuka dengan cara dibakar atau dengan menggunakan bahan kimia tanpa kendali akan kehilangan kesuburannya dalam jangka panjang, sehingga tidak akan efektif lagi untuk kegiatan cocok tanam. Akibatnya, petani terpaksa membuka lahan baru. 

"Dengan cara bertani tanpa bakar dan tanpa kimia, hal ini dapat diatasi. Lahan yang dibuka serta dikelola secara ramah lingkungan memang tidak memberikan hasil yang instan, tetapi akan dapat terus digarap dan memberikan hasil yang berkelanjutan, sehingga dalam jangka panjang akan lebih menguntungkan bagi petani. Petani tidak perlu membuka lahan baru dan ekosistemnya pun akan tetap terproteksi," kata Taryono. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT