24 June 2022, 23:29 WIB

Kemenparekraf Lanjutkan Sosialisasi Sadar Wisata di Kabupaten Simalungun dan Toba


Mediaindonesia.com | Nusantara

Dok. Kemenparekraf
 Dok. Kemenparekraf
Kegiatan sosialisasi Sadar Wisata di Simalungun dan Toba

RANGKAIAN kegiatan Sosialisasi Sadar Wisata kepada para pelaku pariwisata terus berlanjut. Digelar sejak pertengahan Maret 2022 dengan mengambil tempat di Desa Wisata yang ada di 6 Destinasi Prioritas Pariwisata, kali ini sosialisasi berlanjut di 4 desa yang ada di wilayah Kabupaten Simalungun dan Toba, Sumatra Utara. 

Sosialisasi berlangsung serentak di Desa Sibaganding (Kab.Simalungun), Desa Lumban Silintong (Kab.Toba), Desa Siboruon (Kab.Toba) dan Desa Silalahi Pagar Batu (Kab.Toba).

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan kemenparekraf Frans Teguh mengatakan, sosialisasi Sadar Wisata menjadi program strategis di tengah situasi pandemi yang tengah bergerak menuju endemi. 

"Kita perlu menata dan memastikan upaya-upaya untuk mewujudkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan,” ucapnya.

Frans menegaskan, kekuatan pariwisata saat ini berada di wilayah pedesaan, sehingga hal paling mendasar dan diperlukan dalam mewujudkan pariwisata berkualitas adalah standar pelayanan sebagai tuan rumah 

“Para pelaku pariwisata tentu berharap para wisatawan merasa betah, nyaman, berkunjung dalam durasi yang lama bahkan akan datang kembali. Untuk itu aktivitas wisata yang ditawarkan harus memberikan pengalaman terbaik dan unik sehingga menarik bagi wisatawan,” tuturnya.

Sosialisasi Sadar Wisata menjadi bagian dari rangkaian Kegiatan Kampanye Sadar Wisata yang diinisiasi oleh Kemenparekraf dan didukung oleh Bank Dunia dan menyasar sebanyak 65 Desa Wisata di tahun 2022 dan 90 Desa Wisata di tahun 2023.

Direktur Pengembangan SDM Pariwisata Kemenparekraf Florida Pardosi mengatakan, selama ini Sadar Wisata telah lama menjadi landasan pengembangan kepariwisataan dengan pilar utama Sapta Pesona, namun perbedaannya dengan Kampanye Sadar Wisata kali ini adalah program dilakukan secara lengkap, komprehensif, lebih kekinian dan adaptif sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dengan adanya elemen pelayanan prima dan CHSE, 

“Selain itu, kegiatan ini juga bersifat berkelanjutan dan berkesinambungan yang dilakukan dari hulu ke hilir, mulai dari sosialisasi, pelatihan, pendampingan, penyusunan program pengembangan desa wisata, pendampingan, penilaian hingga apresiasi. Kami juga menyasar warga yang mayoritas belum pernah mengikuti kegiatan sadar wisata sebelumnya,” jelas Florida.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Simalungun M Fikri Fanani Damanik berharap para pelaku pariwisata yang telah dididik nantinya dapat menjadi contoh dan inspirasi dalam pengembangan pariwisata desa.

“Wilayah Simalungun yang terdiri dari 32 kecamatan memperoleh banyak berkah dengan dianugerahi banyak potensi wisata alam yang luar biasa, mulai dari kebun kopi, hingga wilayah perbukitan yang indah dengan pohon-pohon pinus. Potensi wisata budaya yang bisa dikembangkan oleh masyarakat juga sangat beragam di setiap desa. Semuanya harus dimaksimalkan untuk memberi kesejahteraan bagi warga masyarakat,“ harapnya.

Baca juga : Dukung Program Kementan, Bupati Tala Genjot Regenerasi Petani

Sementara itu Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Toba, Rusti Hutapea menyampaikan harapannya bahwa dengan adanya edukasi terkait sadar wisata, setiap warga desa yang ada di wilayahnya dapat melayani wisatawan layaknya keluarga, 

“Mari kita sambut wisatawan itu layaknya tulang dan nan tulang (keluarga),” ucapnya. 

Sosialisasi Sadar Wisata di Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Toba diikuti para penggerak pariwisata desa yang meliputi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), perangkat desa, Kader PKK dan Karang Taruna dan pelaku usaha pariwisata desa lainnya. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan, mengatakan sosialisasi sadar wisata bertujuan membangun kesadaran para pelaku pariwisata dalam mengembangkan potensi pariwisata desa melalui 3 pilar utama yakni Sapta Pesona, Pelayanan Prima dan CHSE (Cleanliness, Health, Safety dan Environment Sustainability). 

“Pandemi Covid-19 berdampak signifikan khususnya bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kita terus mendorong pariwisata berkualitas yang menawarkan experience atau pengalaman unik yang membawa kenyamanan bagi para wisatawan. Desa Wisata menjadi salah satu alternatif destinasi wisata alam yang dapat menghadirkan keunikan, melalui ciri khas produk lokal, atraksi daerah, serta pelayanan berkualitas,” ucap Sandiaga.

Tidak hanya mengembangkan produk dan atraksi unik dari setiap desa, Menparekraf juga menegaskan pentingnya penerapan Sapta Pesona dan CHSE, 

“Saat ini terjadi pergeseran tren pariwisata menjadi low mobility, low touch, less crowd dan hygiene. Wisatawan lebih memilih perjalanan domestik dan destinasi wisata yang tidak terlalu ramai dan aktivitas kebugaran di ruang terbuka dengan pilihan atraksi wisata alam dan budaya. Standarisasi CHSE menjadi terpenting untuk meyakinkan wisatawan, karena wisatawan cenderung memilih destinasi yang mengedepankan rasa aman, nyaman, bersih, sehat dan seiring keberlanjutan lingkungan,” ucapnya.

Untuk itu ia mengajak seluruh pelaku pariwisata desa untuk mendorong minat wisatawan berkunjung ke desa wisata, 

“Desa wisata dapat menarik wisatawan karena menawarkan berbagai pengalaman unik dan atraksi menarik. Hal ini akan membuka lapangan kerja, peluang usaha baru ekonomi kreatif, dan menjadi alternatif ketahanan pangan, energi dan ekonomi Indonesia,” ucapnya.

Sosialisasi Sadar Wisata terus berlanjut di 6 Destinasi Prioritas Pariwisata (DPP) Indonesia lainnya yang meliputi Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur-Yogyakarta-Prambanan (Jawa Tengah dan DI Yogyakarta), Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), Lombok (Nusa Tenggara Barat), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Labuan Bajo/Taman Nasional Komodo (Nusa Tenggara Timur).

Setelah rangkaian sosialisasi, para pelaku pariwisata terpilih akan mengikuti pelatihan lebih lanjut terkait pengembangan potensi produk pariwisata, homestay, kuliner, cinderamata serta kewirausahaan dan manajemen bisnis. Ke depan diharapkan dari masing-masing desa dapat lahir local champion atau penggerak dalam pengembangan pariwisata di desa wisata masing-masing. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT