11 June 2022, 07:50 WIB

Lava Meluber Dari Kawah Ile Lewotolok, BPBD Siapkan Skenario Evakuasi Laut


Alexander P. Taum | Nusantara

dok.PPGA Ile Lewotolok.
 dok.PPGA Ile Lewotolok.
Lava Yang Memenuhi Kawah Gunung Ile Lewotolok. Sebagian Meluber ke arah Timur Tenggara Kawah hingga mengancam 5 Desa di lereng.

AKTIVITAS vulkanis Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali menunjukan peningkatan. Terpantau, sejak 2 Juni 2022, kawah gunung tersebut dipenuhi aliran lava, bahkan mulai meluber keluar kawah 500 meter arah timur tenggara puncak.

Kini Pemda setempat mempersiapkan sejumlah skenario evakuasi warga di lima Desa yang berpotensi terkena dampak awan panas maupun banjir lahar dingin di Timur Tenggara puncak jika sesewaktu keadaan memburuk.

Guna mengantisipasi memburuknya situasi di puncak kawah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lembata menggandeng BPVMBG Bandung dan PPGA Ile Lewotolok untuk menyampaikan hasil evaluasi teknis terbaru tentang aktivitas fulkanis Gunung Ile Lewotolok kepada Lima Kepala Desa yang berpotensi terancam bencana guguran awan panas dan banjir lahar dingin, akibat penumpukan lava.

Dalam rapat bersama di kantor BPBD kabupaten Lembata, Jumad (10/6/2022), tim dari Badan Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (BPVMBG) Bandung dipimpin ketua tim tanggapan darurat erupsi G. Ile Lewotolok dari BPVMBG Bandung, Umar Rosadi, ST.

BPVMBG memperingatkan warga yang bermukim di lereng gunung Ile Lewotolok untuk mewaspadai guguran awan panas dan banjir lahar dingin yang sesewaktu dapat terjadi akibat aliran lava yang telah memenuhi kawah bahkan Meluber ke arah Timur Tenggara sejak 2 Mei 2022 lalu. Namun, pihak BPVMBG menjelaskan, pergerakan lava melambat pada 9 Juni.

Potensi ancaman terbesar terjadi di Lima Desa di wilayah Timur Tenggara puncak Gunung Ile Lewotolok, tepatnya di Kecamatan Ile Ape Timur yakni Desa Jontona, Desa Lamawolo, Desa Lamatokan, Desa Baolaliduli dan Desa Lemau.

Umar Rosadi, ST, Ketua tim tanggapan darurat Erupsi G. Ile Lewotolok, dari BPVMBG Bandung, menjelaskan, peningkatan aktivitas lava di puncak Ile Lewotolok, terpantau sejak 23 Mei melalui citra satelit.

Kemudian pada 2 Juni, aliran  lava meluber keluar dari kawah ke arah timur tenggara hingga mencapai jarak 500 m. Di titik itu, terdapat 5 Desa di lereng Ile Lewotolok yang perlu meningkatkan Kewaspadaan.

"Kita tidak tau percepatannya seperti apa. Yang jelas sejak 2 Juni, percepatan aliran lava per hari, 40 meter sampai tanggal 9 Juni. Setelah tanggal 9 Juni, apakah terus melambat, tergantung desakan dari dasar kawah. Pergerakan lava ini setiap malam kita pantau. Kita sudah pasang CCTV," ujar Umar Rosadi.

Umar Rosadi menyebut, Lava ini sudah mengeras atau mendingin. Namun Potensi bahaya ada dua yakni awan panas guguran serta banjir lahar.

"Dari material lava menumpuk menjadi menjadi awan panas. Dan kedua, material lava ini terbawa hujan, ia menjadi lahar. Dua dua nya berbahaya. Kecepatan awan panas 600 km per jam. Kendaraan mana yang kecepatannya melebihi kecepatan awan panas," ungkap Umar Rosadi.

Hal senada disampaikan Ahmad Basuki, S.Si., M.Si. Sub Koordinator Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api dari BPVMBG Bandung.

"Sepanjang dia hanya mengalir saja dan masih diatas, tidak berbahaya. CCTV sudah dipasang di sana. Setelah 6 Juni dan 9 Juni, tidak ada penambahan aliran lava lagi. Kita inginkan aliran lava itu berhenti, namun siapa yang berani memerintah alam," ungkap Akhmad Basuki.

Ia menjelaskan, potensi munculnya awan panas jika aliran lava itu membentuk gundukan besar dan berpotensi longsor sekaligus. Disitu letak berbahayanya. Namun, jika aliran lava itu berhenti dengan membentuk sudut (menyudut), dipastikan aliran masih lambat.

"Desa Lamawolo dan Desa Lamatokan perlu dikhawatirkan. Kawasan rawan bencana di 4 km. Saat ini warga desa Lamawolo dan Lamatokan belum perlu dievakuasi. Aktivitas di atas 4 km, aman," ungkap Akhmad Basuki.

Namun dirinya menegaskan warga tidak perlu panik. "Saat ini tidak harus panik, Jagan percaya hoax. Saat ini kita sedang hadapi aliran lava yang merayap lambat, tidak terjadi sekaligus, kita bisa lihat dari jauh. Tidak seperti awan panas yang kecepatannya 600 km/jam," ungkap Akhmad Basuki.

Kontigensi Mitigasi

Potensi ancaman awan panas dan banjir lahar pun direspon cepat oleh pihak BPBD Lembata. Menurut Kabid Kedaruratan dan Kesiapsiagaan BPBD Lembata, Andris Koban,  pihaknya mempersiapkan skenario evakuasi dan penguatan kelembagaan di desa berpotensi terdampak.

Dihadapan 5 Kepala Desa berpotensi terdampak yang hadir, Andris Koban mengingatkan pentingnya Kesiapsiagaan desa, keluarga siaga erupsi dan desa siaga erupsi.

"Saat ini di Desa perlu kembangkan 3 hal penting, titik kumpul keluarga, pembagian peran keluarga di masa tanggap darurat dan tas siaga bencana, kemudian ke titik kmpul desa.10 kesiapsiagaan Desa untuk erpusi Ile Lewotolok ini harus sepakati agar memudahkan koordinasi," ungkap Andris Koban.

Ia pun menegaskan untuk segera mengaktifkan rantai komando di desa di sekeliling Ile Ape, terutama 5 desa paling beresiko. Termasuk meminta Pemerintah Desa setempat segera mempersiapkan perangkat radio, menyeting frekwensi kebencanan bersama BPBD.

Selain itu, BPBD setempat mempersiapkan dua skenario evakuasi yakni evakuasi laut apabila jalur evakuasi terputus aliran lava atau aliran awan panas juga evakuasi darat apabila jalur tidak terputus.

"Evakuasi laut, di lima desa, kita akan mobilisasi kapal cepat, kapal milik Basarnas, serta perahu warga. Jalur evakuasi laut ke arah Jeti Nuhanera. Pos pengungsian di dua kecamatan, Lebatukan dan Nubatukan. Jika 21 desa di seluruh Ile Ape terpaksa  mengungsi, kita terapkan sistim sister village. Desa mengungsi ke desa," ungkap Andris Koban.

Hingga saat ini, BPVMBG dan PPGA Ile Lewotolok terus memantau perkembangan aliran lava di puncak melalui CCTV maupun pengamatan visual. (OL-13)

Baca Juga: Polri Akan Kawal Pemulangan Jasad Eril dari Soetta ke Rumah Duka

BERITA TERKAIT