08 June 2022, 07:50 WIB

Harga Telur Ayam Melambung, Lembata Upayakan Mandiri Telur Ayam


Alexander P. Taum | Nusantara

MI/Alexander P. Taum
 MI/Alexander P. Taum
 Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata, NTT, Kanisius Tuaq.  

MELAMBUNGNYA harga telur ayam belakangan ini, mendorong pemerintah Kabupaten Lembata, NTT untuk membuat program mandiri telur ayam pada 2018. Namun program ini belum berhasil menekan harga telur ayam, karena belum serius ditanggani sehingga belum optimal.

Saat ini, harga telur ayam di Kabupaten Lembata, berkisar antara Rp55 ribu hingga Rp65 ribu per papan berisi 30 butir telur. Harga ini melonjak drastis dari harga sebelumnya Rp35 ribu per papan sejak dua pekan lalu. Namun demikian, sejumlah pedagang mengaku terbantu oleh pasokan harga telur yang dibudidaya peternak lokal.

Kondi, pedagang pasar TPI kota Lewoleba, Rabu (8/6/2022) menuturkan, pihaknya kini terbantu oleh pasokan telur yang di produksi oleh warga setempat, berkat program mandiri telur ayam yang diluncurkan Pemda setempat.

"Kalau beli telur langsung di peternak lokal harganya Rp50 ribu rupiah per papan. Namun kalau beli di kios dan Toko, harga berkisar Rp55 ribu sampai Rp65 ribu per papan," ungkap Kondi, pedagang di pasar TPI kota Lewoleba.

Mandiri Telur Ayam

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata, Kanisius Tuaq menyebutkan, pihaknya telah menggagas program mandiri telur ayam sejak tahun 2018.

Program mandiri telur ayam di Lembata sendiri di dorong Pemda setempat dengan memperbanyak populasi ternak ayam petelur lokal hingga 31 ribu ekor, guna memenuhi kebutuhan telur ayam sebanyak 11 juta butir per tahun.

Tekad tersebut disampaikan Kepala Dinas Peternakan kabupaten Lembata, Kanisius Tuaq, di Lewoleba, Rabu (8/6).

"Lembata butuh 11 juta butir telur ayam per tahun, karena itu, Inovasi mandiri telur ayam, kita Kampanyekan sejak 2018 sampai sekarang. Kita bersyukur saat ini dari Dana Desa mendorong banyak Bumdes mulai giat giatnya mengusahakan ayam petelur," ungkap Kanisius Tuaq.

Ia menyebut, populasi ayam di Lembata saat ini, 15 ribu ekor. Namun untuk mencukupi kebutuhan telur ayam, Lembata masih membutuhkan sekitar 31 ribu ternak ayam agar bisa mandiri ayam petelur.

Ia menghitung, pengeluaran setiap tahun warga Lembata untuk kebutuhan telur ayam yakni sebanyak 11 juta butir dengan menghabiskan uang Rp2 miliar per tahun.

Dalam program mandiri telur ayam, pihaknya terus mendorong petani  untuk memelihara unggas lokal yang cocok dengan iklim dan suhu lokal.

"Namanya unggas ini tidak perlu bawa dari luar, harusnya kita kembangkan ayam kampung, bukan ayam ras. Kalau ayam ras itu nanti nomboknya di pakan yang harus dibeli dari toko. Kalau ayam lokal kita bisa berdayakan jagung dan pakan yang banyak ditemui di tingkat lokal," ujar Kanisius Tuaq. (OL-13)

Baca Juga: Polres Jember Gagalkan Peredaran 1,3 Kg Sabu Senilai Rp1,5 Miliar

 

 

BERITA TERKAIT