07 June 2022, 17:41 WIB

TMC Sumsel dan Jambi Tingkatkan Curah Hujan 11%


Atalya Puspa | Nusantara

ANTARA/Aprillio Akbar
 ANTARA/Aprillio Akbar
Ilustrasi

CURAH hujan di wilayah Sumatra Selatan dan Jambi meningkat berkat adanya operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan di kawasan tersebut.

"Berdasarkan nilai curah hujan GsMap selama kegiatan TMC jika dibandingkan dengan curah hujan historis 2012 hingga 2021 dengan periode yang sama memberikan penambahan sebesar 11,2% untuk Sumatra Selatan dan 11.7% untuk jambi," kata Koordinator Lapangan TMC Adi Bayu Rusandi saat dihubungi, Selasa (7/6). 

Baca juga: Harga Sapi Naik meskipun PMK di Bengkulu belum Ditemukan

Adi mengungkapkan, operasi TMC yang telah berlangsung sejak 27 Mei 2022 itu telah menyasar ke wilayah-wilayah rawan karhutla di Sumsel dan Jambi dan berhasil menihilkan titik panas. Adapun, operasi tersebut menggunakan sebanyak 9.600 kilogram bahan semai yang disebar menggunakan pesawat Casa A-2013. 

"Rencananya operasi TMC Sumsel dan Jambi akan berlangsung sampai Sabtu 11 Juni 2022 jika tidak ada kendala," ungkap dia. 

Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (PPIKHL) Wilayah Sumatra Ferdian Krisnanto mengungkapkan luasan kebakaran di Sumatra Selatan mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya pada periode Januari-April.

“Tahun ini, kejadian karhutla di Sumatra Selatan terjadi agak unik karena dimulai dari Muratara, OKU, dan Pali. Kita sudah melakukan antisipasi agar tidak terjadi karhutla, juga upaya pemadaman pada lokasi yang terbakar. Di Riau operasi TMC sudah dimulai sejak April dengan penambahan curah hujan sebanyak 15%,” ungkap Ferdi.

Ferdi mengungkapkan pelaksanaan operasi TMC tahun ini sudah dilaksanakan di Provinsi Riau pada bulan April selama lima belas hari dengan dukungan PT RAPP. 

Operasi TMC berhasil menambah curah hujan sebesar 15% dibandingkan dengan curah hujan historis selama 10 tahun ke belakang (2012 – 2021). Selain itu juga, selama pelaksanaan operasi TMC di Riau tidak terpantau terjadi kebakaran hutan dan lahan serta tidak terpantau titik panas dengan confidence level > 80%.

Ferdi menjelaskan mulai tahun 2020 operasi TMC dijadikan salah satu solusi permanen pencegahan karhutla selain patroli dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Operasi TMC dilakukan dengan tujuan untuk membasahi lahan gambut agar terjaga kelembabannya, menjaga tinggi muka air tetap stabil sehingga tidak mudah terbakar.

“Operasi TMC juga dilakukan untuk mengisi kanal-kanal, embung dan kolam-kolam retensi areal guna mencegah kebakaran terutama di lahan gambut yang sering mengalami kebakaran setiap tahun,” ungkap Ferdi.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sepanjang 2022 telah terdapat seluas 33.525 hektare hutan dan lahan yang terbakar. Terluas ada di Kalimantan Barat 9.499 hektare, Sumatra Barat 8.183 hektare, Lampung 3.551 hektare, Riau 1.668 hektare dan Maluku 1.554 hektare. (OL-6)

BERITA TERKAIT