26 May 2022, 10:50 WIB

Presiden Penyair Tegal Dwi Ery Santoso Meninggal Dunia


Supardji Rasban | Nusantara

MI/SUPARDJI
 MI/SUPARDJI
Proses pemakaman seniman Dwi Ery Santoso


DWI Ery Santoso, 65, seniman yang dikenal sebagai Presiden Penyair Tegalan, mengembuskan nafas terakhirnya pada Rabu (25/5). Almarhum
sebelumnya menjalani perawatan di RSUD kardinah, Kota Tegal, Jawa Tengah.

Meninggalnya Ery--demikian Almarhum biasa disapa--mengagetkan
rekan-rekan sesama seniman yang ada di Kota Bahari tersebut. Sebab, Ery
diketahui sehari sebelumnya, Selasa (24/5), masih terlihat menjalani salat Mahrib di Masjid KH Abdullah Asy'ari dI Jl Waringin, Kota Tegal.
     
Banyak kolega yang datang untuk bertakziah di rumah Almarhum di Perum
Bumi Elok Sejahtera, Blok A Nomor 40, di samping Perumahan Griya Santika Tegal, Pacul, Kabupaten Tegal.

Di antara mereka terlihat Wakil Wali Kota Tegal HM Djumadi, tokoh tiga daerah H Maufur, anggota DPRD H Sisdiono Ahmad, tokoh Muhammadiyah-NU KH Edy Priyono, Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal H Yono Daryono, Ketua PHRI Kota Tegal Saunan Rasyid bin Imron, Ketua PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia) Korwil
Pekalongan-Banyumas.

Termasuk yang mewakili keluarga Rumah Sastra Marpangat, Anggito Piek
Ardijanto Soeprijadi, Penyair Tegalan Lanang Setiawan dan Mohammad Ayyub, dari Paguyuban Sepeda Antik, H Khoirul Huda, serta rekan-rekan Almarhum dari Slawi (ibukota Kabupaten Tegal).

Almarhum Eri dimakamkan di Pemakaman Panggung Kota Tegal, yang lokasi
pemakamannya sebelah barat makam Mbah Sayyid Abdurrahman yang lebih dikenal sebagai makamnya Mbah Panggung Tegal.

Sebelumnya Almarhum disalati di masjid yang berada Komplek Griya Elok Pacul, yang diimami Pengasuh Majelis Taklim Nurul Qulub Randugunting, Kota Tegal, Habib Mohammad bin Musthofa Al-Athos.

Sesudah disalati di Masjid Griya Elok, jenazah almarhum dibawa
menggunakan ambulans LSM Hati Kita menuju Jl Waringin Kota Tegal persisnya di Masjid KH Abdullah Asy'ari. Di situ disambut para pengurus, dan diacarani isyhad atau kesaksian oleh ustad Fauzan Jamal.

Mas Nursidik yang dikenal dengan julukan Sengsong, mengaku merasa
kehilangan tokoh seniman, yang pada akhir hayatnya menjadi muazin, dan
merupakan teman ngopi bareng di masjid.

"Banyak yang meyaksikan Almarhum Dwi Ery Santoso selain suka membaca
puisi ternyata punya catatan doa untuk menyembuhkan orang sakit perut,"
tutur Sengsong.

Budayawan Pantura Atmo Tan Sidik menyebut almarhum pernah menjadi
kepala sekolah, aktif di kegiatan pramuka, aktif di kegiatan organisasi
Pemuda Pancasila. Almarhum juga juga dipercaya menjadi Komite Sastra di Dewan Kesenian Kota Tegal, dan jadi tenaga pelatih teater.

"Beliau juga meninggalkan buku-buku karya sastra yang judulnya antara lain; Nelayan-Nelayan Kecil, Muara Bercahaya, dan Brug Abang yang menjadi bahan kajian ilmiah, bahkan masuk  juara 10 besar penghargaan Kemendikbud Jakarta," terang Atmo Tan Sidik. (N-2)

BERITA TERKAIT