12 May 2022, 14:30 WIB

Barometer Kebhinekaan dari Timur


Gana Buana | Nusantara

DOK IST
 DOK IST
Webinar Eid Traditions In Papua and Religious Tolerance.

PERAYAAN Lebaran di Papua disambut penuh sukacita oleh semua kalangan masyarakat tanpa terkecuali. Meskipun Islam bukan agama mayoritas namun tetap dirayakan dengan meriah oleh seluruh orang yang ada di Bumi Cenderawasih. 

Menurut Koordinator Mahasiswa Papua di Jabodetabek Moytuer Boymasa, Papua secara umum mementingkan persaudaraan antarumat beragama, suku, dan unsur-unsur lain yang ada di  tanah Papua. Setiap suku bahkan secara geneologis memiliki hubungan kekerabatan sehingga bangunan hubungan kerja sama terus terjaga erat.

“Antara umat Kristiani dan Islam hidup saling berdampingan sejak awal kedua agama masuk di Papua, senantiasa sejalan dengan budaya yang ada di masyarakat, saling melengkapi, saling menguatkan sehingga lahir lah tatanan masyarakat yang harmonis,” ungkap Moytuer, Kamis (12/5).

Menurut dia, wujud toleransi umat beragama di Papua terwujud dalam pembangunan tempat ibadah, saling membantu dalam membangun masjid dan gereja. Papua memiliki budaya toleransi yang kuat.

“Salag satunya tradisi Bakar Batu dari Suku Dani. Juga menjadi media untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai,” jelas dia.

Kabid Pemuda dan Pendidikan FKPT/BNPT Papua Ali Kabiay menyatakan, Papua adalah barometer kebhinekaan di Indonesia. Di papua terjadi perkawinan kebudayaan yang sangat indah dan harus dipertahanakan karena bisa menjadi barometer di daerah lain. 

“Kami selalu menjaga saudara-saudara kami yang muslim untuk beribadah, buka puasa, bahkan ikut takbiran. Kerenanya, Saya dari Papua berharap Pancasila bukan hanya sebagai ideologi tetapi juga digunakan sebagai falsafah hidup karena di dalam pancasila sudah ada semua yang kita butuhkan untuk menjadi manusia Indonesia yang bermartabat dan memiliki moral,” kata dia.

Baca juga: Kemenparekraf Perkuat Pariwisata Berkualitas di Biak Numfor Papua

Budayawan dan akademisi UI Ngatawie al Zastrouw menyatakan, bangsa Indonesia harus banyak belajar dari Papua. Papua itu bagaikan gadis cantik yang masih lugu. "Semua orang ingin menguasai dan menikmati, sehingga perlu untuk diberi pemahaman,” kata dia.

Menurut dia, Toleransi pada Idul Fitri di Papua, tergambar pada Pawai Hadrat, suatu upacara merayakan Idul Fitri masyarakat Kaimana. Pawai ini dimeriahkan dengan tetabuhan kendang, tifa, rebana untuk mengiring shalawat. 

Warga yang mengikuti pawai akan menari bersama sambil berkeliling silaturahmi. Selain di Kaimana, tradisi pawai Hadrat juga dilaksanakan di Jayapura. Meski tradisi ini untuk merayakan hari besar Islam, namun banyak melibakan umat nonmuslim di dalamnya, sehingga menjadi momentum membangun toleransi dan moderasi.

“Masyarakat Papua tidak hanya memiliki kekayaan alam yang melimpah tetapi juga kekayaan budaya dan tradisi yang jika dikembangkan bisa dijadikan modal membangun kesejahteraan warganya,” lanjut dia.

Dia juga mengajak agar kita berguru, belajar dari warisan tradisi, warisan nilai-nilai yang sudah diwariskan oleh para leluhur. 

“Sudah begitu banyak intan permata berlian yang diwariskan para leluhur tetapi lupa dan tidak tau karena kita tidak pernah mengasah dan menggalinya. Mari kita gali, kita asah, supaya intan permata berlian kebudayaan yang diwariskan oleh para leluhur itu bisa menjadi pedoman dan sesuatu yang mahal dan bermanfaat dalam kehidupan kita. Berhentilah berebut sebutir pisang sambil menyia-nyiakan butiran permata yang diwariskan kepada kita,” tandas dia. (R-3)

BERITA TERKAIT