22 April 2022, 21:39 WIB

Gangguan Keamanan Jadi Kendala Pemasangan BTS 4G di Papua, BAKTI Kominfo Minta Pengawalan TNI-Polri 


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Nusantara

MI.Susanto
 MI.Susanto
Menara BTS di Jayapira, Papua

SEBANYAK delapan pekerja BTS 4G-Bakti jadi korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kabupaten Puncak, Papua, pada Maret silam. 

Para korban diserang KKB saat memperbaiki tower base transceiver station (BTS) 3 Telkomsel. 

Direkur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo Anang Latif menuturkan, usai adanya kejadian tersebut pihaknya langsung melakukan konsolidasi dengan aparat TNI dan Polri. 

Hal ini dilakukan mengingat pembangunan BTS 4G di wilayah 3T masih diberlakukan, khususnya di wilayah Papua. 

“Kami perintahkan konsorsium ke depan agar melakukan koordinasi dengan pihak keamanan, dan memastikan ada pengawalan khususnya di daerah yang punya isu cukup tinggi,” ungkap Anang, Jumat (22/4). 

Baca juga : Pemkab Klungkung Ajak Puputan Perangi Sampah Plastik

Menurut Anang, pihaknya tentu membutuhkan pengawalan dari proses pembangunan hingga saat operasional BTS 4G telah berjalan di pelbagai daerah. 

“Banyak seperti lokasi kami yang ada palapa ring itu terganggu memang dilakukan sabotase atas sebuah kelompok yang menginginkan Pemerintah tak bisa menjalankan fungsinya secara normal, ini tentunya pengamanan pasca pembangunan menjadi penting agar layanan ini bisa berlangsung secara baik,” tuturnya. 

“Kami sudah melakukan hal-hal yang dirasa diperlukan, yakni berkoordinasi dengan TNI-Polri,” tegasnya. 

Sebelumnya,.pada 2 Maret 2022 silam, terjadi serangan penembakan di Kabupaten Puncak yang menewaskan 8 pekerja BTS telekomunikasi. Dari insiden tersebut, pekerjaan implementasi di hampir seluruh di Propinsi Papua dihentikan atas instruksi dari otoritas di Papua. 

Adapun pembangunan BTS 4G oleh BAKTI di Papua telah mencapai sekitar 86% dari total fase pertama atau target tahun 2021. (OL-7)

BERITA TERKAIT