12 April 2022, 21:34 WIB

Petani Kopi di Pagaralam Butuh Penguatan Akses Pasar


Dwi Apriani | Nusantara

ANTARA
 ANTARA
Ilustrasi petani kopi.

PETANI kopi di Kota Pagaralam memerlukan adanya akses pasar. Hal ini dilakukan agar memperkuat petani kopi karena petani inilah yang rentan terdampak fluktuasi harga komoditas tersebut.

Peneliti dari University of Adelaide Australia, Sacha Amaruzaman, mengatakan harga kopi yang fluktuatif membuat petani tidak bisa mengandalkan tanaman itu saja sebagai pendapatan rumah tangga. "Dampak perubahan iklim memang terasa di Pagaralam, namun petani di sana tampaknya lebih rentan terhadap perubahan harga, sehingga perlu penanganan aspek pasar terlebih dahulu," katanya saat lokakarya pertanian berkelanjutan secara ekonomi, sosial dan ekologi di Pagaralam, Selasa (12/4).

Karena itu, Sacha mengatakan, petani di Pagaralam menerapkan sistem pertanian agroforestri, di mana kopi yang ditanam dengan menggunakan sejumlah tanaman penaung. "Harga kopi ini yang membuat petani melakukan guna lahan multifungsi secara masif," katanya.

Diketahui, World Agroforestry (ICRAF) telah bekerja sama dengan University of Adelaide untuk melakukan penelitian terkait pertanian berkelanjutan melalui proyek Indogreen di Pagaralam sejak 2018.

Sementara itu, Koordinator Proyek Penelitian Indogreen Betha Lusiana mengatakan petani kopi di Pagaralam butuh kebijakan pertanian yang fokus pada penyediaan akses pasar dan pembiayaan. "Hal itu menjadi salah satu rekomendasi dari hasil penelitian selama empat tahun terakhir," katanya.

Tak kalah penting, Betha menambahkan, akses pasar yang potensial adalah kopi robusta berkualitas premium. Berdasarkan kajian Indogreen, kendala terbesar bagi petani kopi di Pagar Alam saat ini adalah terbatasnya akses ke pasar kopi premium karena ketiadaan insentif, sehingga kopi yang dijual kebanyakan masih berupa kopi asalan, yaitu kopi yang dipetik saat masih hijau atau belum matang.

Harga yang lebih sesuai dengan pasar akan menjadi insentif bagi petani untuk meningkatkan cara panen, pascapanen, dan pemasaran produksi kopi. Karena itu petani perlu mengembangkan agribisnis kopi terutama produksi biji kopi berkualitas premium.

"Agar dapat mengakses pasar kopi premium diperlukan beberapa prasyarat seperti peningkatan kualitas kopi melalui pengelolaan pascapanen serta penguatan kelembagaan petani," katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Pagaralam Gunsono Mekson mengatakan, pihaknya sudah berupaya untuk meningkatkan kualitas kopi milik petani di daerah itu. "Kami menerapkan program sambung pucuk sejak 2019," kata dia.

Teknik sambung pucuk yaitu penyambungan batang atas atau entres dari tanaman kopi produktif dengan batang bawah dari perakaran tanaman kopi yang sudah tua atau kurang produktif.

Ilman Masyhuri, Kepala Bidang Perekonomian SDA, Infrastruktur dan Kewilayahan, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Pagaralam, menambahkan pihaknya mendorong hilirisasi kopi. "Hilir ini perlu berjalan lancar, jangan sampai setelah panen petani bingung menjual kopi kemana," katanya.

Sedangkan Pegiat kopi dari Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia, Nisdiarti mengatakan secara perlahan pihaknya telah menuju ke pasar premium untuk kopi Pagaralam. "Kami telah menyiapkan empat rumah produksi untuk kualitas kopi premium, sehingga kualitas kopi ini sudah sesuai kriteria pasar ekspor," katanya. (OL-15)

BERITA TERKAIT