05 April 2022, 17:55 WIB

Setahun Bencana Seroja, Relokasi dan Penggunaan Dana Desa Membingungkan


Alexander P. Taum | Nusantara

MI/Alexander P.T
 MI/Alexander P.T
Warga Lembata memperingati setahun bencana badai Seroja yang meluluhlantakan sejumlah desa pada 4 April 2021 lalu.

PASCA Bencana Badai Seroja menerjang wilayah Pulau  Flores-Lembata, Nusa Tenggara Timur, 4 April 2021, setahun silam, sejumlah desa yang diterjang Banjir Bandang kini dilarang melakukan pembangunan fisik di desanya, baik dengan Dana Desa maupun ADD.

Alokasi Dana Desa bagi Desa terdampak Seroja di Lembata, hanya diperbolehkan untuk perbaikan rumah dan fasilitas umum yang rusak, tidak untuk dibangun baru.

"Iya Benar, untuk pembangunan fisik, seperti  rumah dan fasilitas umum untuk sementara belum bisa, tapi sekedar memperbaiki yang rusak bisa," ujar Onesimus Sili, Kepala Desa Waimatan, Kecamatan Ile Ape Timur, Selasa (5/4).

Onesimus Sili menjelaskan, pemerintah beralasan desanya akan direlokasi total, sehingga tidak diperkenankan membangun Desa yang terdampak banjir bandang itu.

Desa Waimatan,Kecamatan Ile Ape Timur adalah desa terparah yang terdampak badai siklon tropis Seroja, Setahun silam. Korban meninggal di desa itu sebanyak 26 orang. Delapan korban lainnya tidak di temukan sampai hari ini.

Sebanyak 136 kepala Keluarga di desa itupun diwajibkan menempati rumah relokasi yang telah di bangun Pemerintah Pusat di Tanah Merah, wilayah Kecamatan Ile Ape.

"Untuk relokasi ini, penerimaan Warga sangat antusias karena sejak 2017, warga suda sepakat untuk relokasi dengan melihat kondisi desa dan situasi alam. Warga berharap, kampung lama menjadi ruang ekonomi juga bisa di jadikan Kampung wisata Budaya, sehingga di musim dan situasi
tertentu, masyarakat bisa  berkunjung ke sana dalam berbagai tujuan kehidupan mereka," ungkap Onesimus Sili.

Namun terkait rencana relokasi hingga saat ini memasuki tahap pengundian, sehingga belum satupun warga dari 136 KK desa Waimatan, menempati rumah relokasi di Tanah Merah.

"Yang undi kami sendiri berdasarkan kondisi sosial dan Alamat Dusun dan RT. Untuk warga yang ada di kampung cukup, tapi ke tahun depan pasti tidak cukup karna berkaitan dengan warga  pulang merantau," ungkap Onesimus.

Kades Amakaka Bingung

Hal berbeda ditemui di Desa Amakaka. Desa terdampak terparah kedua dengan Jumlah korban jiwa 39 orang, 29 korban ditemukan meninggal dunia, 10 korban lainnya belum ditemukan hingga saat ini.

Kepala Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Ambrosius Boyang, menyebut, pihaknya masih bingung, sebab belum ada informasi pasti tentang rencana relokasi bagi warganya.

"Terkait instruksi relokasi oleh Bapak Presiden, kita khususnya di Desa Amakaka masih bingung karena belum ada informasi pasti dari pemerintah, apakah warga Desa Amakaka direlokasi terdampak atau relokasi total. Hal ini yang  membuat pemerintah desa bingung karena informasi yang beredar tidak ada kepastian. Sehingga setiap masyarakat punya asumsi masing masing menyikapi situasi ini," ungkap Ambrosius Boyang.

Kades Ambrosius menandaskan, 131 KK warga di desa Amakaka bingung sebab hingga saat ini tidak ada satupun dokumen tertulis oleh Pemerintah Kabupaten, Provinsi atau Pusat, tentang rencana relokasi tersebut.

"Yang ada hanya penyampaian lisan bahwa warga Desa Amakaka akan menempati rumah relokasi di Podu, wilayah Kecamatan Ile Ape," ujar Kades Amakaka Ambrosius.

Ia menyampaikan bebannya sebagai Pemerintah Desa, sebab wacana relokasi menyanderanya untuk membangun fisik di Desanya.

"Aktivitas pemerintah di desa sampai saat ini berjalan seperti biasa, saat posting APBDEs, item pembangunan fisik tahun ini dicoret karena status desa masih relokasi. Ini beban bagi kami Pemerintah Desa," ungkap Ambrosius.

Pasca bencana Seroja,  Pemerintah Pusat telah membangun 700 unit rumah di Kabupaten Lembata untuk para penyintas dengan rincian di Waesesa sebanyak 173 unit, 233 unit di Podu dan 294 unit di Tanah Merah. Semua lahan relokasi masih ada di wilayah Kecamatan Ile Ape.

Pemerintah juga mendirikan 300 unit rumah di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. Proyek di Lembata dan Adonara tersebut dikerjakan oleh PT Adhi Karya. (OL-13)

Baca Juga: Polres Mataram Gerebek Prostitusi Berkedok Salon Kecantikan

BERITA TERKAIT