29 March 2022, 21:05 WIB

12 Daerah di Jawa Barat Mulai Migrasi dari TV Analog ke TV Digital


Bayu Anggoro | Nusantara

 ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
  ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Warga menonton siaran olahraga bareng di televisi


PELAKSANAAN migrasi TV analog menuju TV Digital akan segera
diberlakukan tahun ini. Mulai 30 April, migrasi diberlakukan secara bertahap.

Rencananya migrasi akan diawali dengan penghentian siaran TV analog atau analog switch off (ASO) tahap pertama pada 30 April 2022.
Pada tahap pertama tersebut mutasi TV analog akan dilakukan
sejumlah bagian daerah di Jawa Barat.

Ada 12 wilayah yang masuk dalam tahap ini, yakni Kabupaten Garut, Cirebon, Kuningan, Ciamis, Pangandaran, Tasikmalaya, Cianjur, Sumedang, Majalengka, Kota Cirebon, Kota Tasikmalaya dan Kota Banjar.

Terkait program itu Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika
Rosarita Niken Widiastuti mengatakan, dengan adanya kebijakan ini maka pemanfaatan spektrum  frekuensi menjadi lebih efektif dan efisien. Bahkan kualitas gambar dan suara televisi menjadi lebih baik.

Dalam hal ini masyarakat tidak perlu membeli pesawat TV baru atau berlangganan internet untuk memperoleh siaran TV Digital. Masyarakat cukup membeli alat yang bernama set top box untuk menerima siaran TV digital terrestrial.

"Secara langsung, ini juga bisa dimanfaatkan untuk peningkatan teknologi 5 G, peningkatan dan mempercepat akses internet dan berdampak pada ekonomi digital. Lalu, ini membuka peluang kerja bagi masyarakat atau konten kreator," katanya dalam Sosialisasi Analog Switch Off dan Set Top Box secara daring, Selasa (29/3).


Jawa Barat


Kepala Bidang Komunikasi Informasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Faiz Rahman menambahkan tahap pertama SWO di Jawa Barat sangat penting. Kesuksesan yang diraih bisa berdampak pada keseluruhan secara nasional.

Literasi digital dan aksesibilitas warga terhadap dunia digital pun, lanjutnya, berada dalam kategori baik. Namun, ia mengingatkan ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Seperti mengatasi area blankspot di tengah kontur wilayah Jawa Barat yang beragam.

"Kelengkapan infrastruktur menjadi bagian pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Termasuk konten yang makin beragam, itu rentan dengan berita bohong," jelasnya.

Meski begitu, tantangan tersebut bisa diatasi dengan dukungan politis
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang berperan mempercepat perbaikan,
termasuk mendorong kurikulum penyiaran di SMK yang lulusannya bisa mudah terserap.

"Peluang sangat terbuka di sektor ekonomi kreatif. SDM harus dipersiapkan. Untuk antisipasi informasi hoaks, kami memiliki Jabar Siber Hoaks. Tapi ini tidak bisa sendiri," terang Faiz.

Sementara itu Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat
Adiyana Slamet menyebut sudah melakukan sejumlah langkah strategis
sebelum memasuki tahap ASO. Beragam kajian bersama universitas,
sosialisasi ke rumah-rumah warga, survei hingga menggelar simulasi
mengenai TV Digital.

"Kami melakukan langkah yang terukur. Kami sudah terjun sosialisasi
simulasi di 28 titik pada 2021. Secara keseluruhan Jabar siap mencoba
beralih karena ini bagian dari inovasi yang ditandai kemajuan
teknologi," pungkasnya. (N-2)

 

VIDEO TERKAIT :

BERITA TERKAIT