26 March 2022, 19:35 WIB

Metode Sunat Terus Berkembang, Tekno Klem Sebagai Penyempurnaan


Mediaindonesia.com | Nusantara

Dok.Tekno Klem Indonesia
 Dok.Tekno Klem Indonesia
Ilustrasi. Dokter tengah melakukan khitan pada seorang anak.

METODE sunat saat ini kerap menjadi pertimbangan orangtua ketika ingin menyunatkan anak mereka. Kenyamanan anak, alat yang digunakan, proses pemulihan menjadi beberapa faktor pertimbangan.

Dahulu sunat dilakukan secara konvensional yang kadang membuat anak merasa takut. Apalagi dengan proses penyembuhan yang lama sehingga aktivitas anak terhambat.

Namun Kini metode sunat sudah sangat berkembang. Salah satunya yang cukup  diminati adalah klem. Namun sayangnya ketersediaan dan harga kadang menjadi kendala. Tidak hanya itu, kadang klem yang harus tetap terpasang pada penis selama beberapa waktu seusai sunat, juga menjadi pertimbangan.

Baca juga: 52 Anak Ikuti Khitanan Massal

Berangkat dari itu, dr. Darsono dan dr. Anwar Indra Syafrudin bersama PT Tekno Klem Indonesia, mengembangkan alat sirkumsisi klem berteknologi tinggi agar dapat mengatasi masalah tersebut.

“Keunggulan utama klem yang kami kembangkan atau Tekno Klem adalah klem ini tidak perlu terpasang setelah sunat. Jadi saat anak pulang ke rumah, tidak ada lagi klem yang masih terpasang, jadi anak akan merasa nyaman,” papar dr. Darsono pada acara grand launching Tekno Klem Indonesia New Innovation of Hi-Tech Circumcision Method di Yogyakarta, pekan lalu.

Metode berteknologi tinggi anak karya bangsa itu, kata dia dibuat sedemikian rupa dan disesuaikan dengan anatomis anak di Asia. Desainnya juga mengedepankan kemudahan pemakaian, kemanan, dan kenyamanan baik untuk praktisi maupun untuk anak.

“Tekno Klem adalah alat sirkumsisi terbaru dengan metode Tekno Sealer yang menyempurnakan semua metode sunat yang sudah ada di Indonesia selama ini,” papar Ketua Umum Asosiasi Dokter Khitan Indonesia (ASDOKI) itu. Dibandingkan dengan metode sunat terdahulu yang sudah ada di Indonesia, seperti klem, atau sunat konvensional, lanjut dia, Tekno Klem  lebih unggul.

”Sunat dengan klem baru berteknologi baru ini sudah kami lakukan pada sekitar 5000-6000 anak di Indonesia selama periode 2020 hingga 2021. Selama periode tersebut menunjukkan angka keberhasilan tinggi dan risiko kejadian pasca-sunat sangat minimal, sehingga para praktisi sudah dapat merekomendasikan metode sunat baru ini,” tambah dr. Anwar Indra Syafrudin.

Selain itu, dari hasil uji klinis tersebut juga dapat disimpulkan, Tekno Klem dengan metode Tekno Sealer dapat menjadi jawaban atas keresahan dan kondisi masalah persunatan di Indonesia, seperti klem yang harus menempel setelah sunat, keterbatasan ketersediaan klem, risiko perdarahan dan lainnya.

Menurutnya, kehadiran klem sebenarnya menyempurnakan semua metode sunat yang sudah ada di Indonesia. Keunggulan lainnya adalah hasil sunat lebih rapi dan estetis, proses pemulihan cepat, tidak ada jahitan atau balutan kasa, pasca-sunat tidak ada klem yang menempel, setelah sunat, anak bisa bebas mandi setiap hari

“Setelah selesai proses sunat, dokter akan melepas klem dan memberikan lem pengganti jahitan atau dikenal dengan skin adhesive. Jadi tidak ada jahitan sama sekali,” papar dr. Darsono.

Efektivitas penggunaan sealer sebagai pengganti jahitan, juga termuat dalam jurnal International Journal of Research in Pharmaceutical Sciences and Technology. Dalam jurnal tersebut, KV Swathi Krishna dkk (2018) menyimpulkan, skin glues atau lem merupakan salah satu metode yang paling efektif dan efisien untuk menutup luka karena proses penjahitan memerlukan waktu yang tidak sebentar. Hasilnya juga lebih estetis.

” Klem berbahan kuat dan ringan, tepi tabung lebih halus dan datar sehingga hasilnya lebih rapi, memiliki daya kunci yang kuat sehingga penis tidak mudah tergelincir, dan berkonsep desain sekali pakai,” ujar dr. Anwar.

“Inovasi anak bangsa yang berteknologi tinggi dan berkualitas tinggi ini dibuat dengan menggabungkan alat Tekno Klem dan metode Tekno Sealer sehingga bisa menjadi pilihan metode sunat anak terkini dan menjadi penyempurna alat sirkumsisi di Indonesia,” lanjut dr. Darsono.

Ia pun menjelaskan manfaat terhadap kesehatan, yakni menjaga kebersihan penis dan sekitarnya, mencegah infeksi, mencegah risiko terjadinya kanker penis, menurunkan risiko penularan penyakit menular seksual, seperti HIV, dan menurunkan risiko terjadinya kanker serviks pada wanita pasangan. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT