24 March 2022, 09:39 WIB

Perubahan Iklim Dikhawatirkan Ancam Ketahanan Pangan


Tosiani | Nusantara

ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA
 ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA
Ilustrasi ketahanan pangan

PERUBAHAN iklim dikhawatirkan bakal mengancam sektor pertanian. Ancaman ini menjadi lebih serius ketika jumlah populasi dunia akan terus tumbuh dan diperkirakan mencapai 9 miliar pada tahun 2050.

Hal itu dinyatakan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Tidar Usman Siswanto pada Kuliah Umum Suistanable Agriculture in Indonesia & Belarus, kerja sama antara UNTIDAR dengan Belarusia State Agriculture Academy (BSAA), Rabu (23/3).

Kegiatan Kuliah Umum kolaborasi antara UNTIDAR dan BSAA ini merupakan kuliah perdana antara kedua universitas. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari penandatangan nota kesepahaman beberapa waktu yang lalu dilaksanakan.

MoU yang ditandatangani oleh para Rektor dari kedua universitas memuat kesepakatan kerja sama dalam pengembangan Tri Dharma Pendidikan yang diwujudkan dalam berbagai bentuk, antara lain: pelaksanaan seminar/simposium bersama, pengembangan program double degree, pertukaran mahasiswa serta tenaga pengajar, pelaksanaan penelitian dan kegiatan illmiah bersama, pertukaran bahan teknis serta publikasi jurnal ilmiah, pengajaran bahasa dan pertukaran budaya.

"Bertambahnya populasi berarti bertambah pula kebutuhan pangan. Permintaan air dan energi pun akan meningkat sedangkan ancaman perubahan iklim menjadi tantangan sendiri dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ini," kata Usman.

Cuaca yang ekstrem, katanya, juga berpengaruh pada kualitas dan jumlah produksi terutama untuk kedelai, gandum, beras dan jagung. Komoditas tersebut saat ini merupakan dua pertiga dari sumber makanan populasi di dunia. Jika tidak segera ditangani maka akan menjadi permasalahan besar bagi ketahanan pangan dunia.

"Penerapan sistem dan produksi yang tepat dapat menjadi solusi seperti sistem tanaman-ternak, budidaya tanaman terpadu, pertanian konservasi, agroforestry, pertanian peka nutrisi, pengelolaan hutan berkelanjutan dan pengelolaan perikanan berkelanjutan," tambahnya.

Baca juga: FAO Peringatkan Konflik Ukraina Berdampak Pada Ketahanan Pangan Dunia

Prof. Tamara Nikolaevna Myslyva, Head of The Department of Geodesy and Photogrammetry BSAA, memaparkan kondisi lahan dan pangan dari negara Belarusia. Menurutnya, lahan pertanian di Belarusia mencapai 41% dari total area, lahan hutan 42%, lahan air dan rawa 6% serta 11% lahan lainnya. Hasil utama pertanian adalah kentang dan gandum serta hasil peternakan meliputi daging sapi dan susu.

"Belarusia juga terdampak akibat perubahan iklim ekstrem saat ini. Salah satu yang dipertimbangkan untuk mengatasi kondisi ini adalah keterlibatan teknologi moderen yang disesuaikan untuk membantu petanian dan juga peternakan".

Rektor UNTIDAR Prof. Dr. Ir. Mukh Arifin, mengatakan, Fakultas Pertanian UNTIDAR selanjutnya akan menjadi menjadi titik fokus pembahasan pengembangan action plan antar kedua universitas pada tahun 2022. Tetapi tidak menutup kemungkinan Fakultas lain akan ikut bergabung seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) serta Fakultas Ekonomi.(OL-5)

BERITA TERKAIT