11 March 2022, 16:17 WIB

Resonansi, Peternakan Sapi Babel Lokasi Magang Polbangtan Malang


mediaindonesia.com | Nusantara

dok.ist
 dok.ist
Direktur Polbangtan Malang, Setya Budhi Udrayana (ke-3 kiri) dan Pak Badut (topi) di peternakan sapi di Bangka, Babel.

KEMENTERIAN Pertanian RI gencar melakukan penumbuhan petani milenial melalui upaya resonansi. Tak cuma milenial sukses, golongan 'kolotnial' pun dibidik asalkan memenuhi kriteria sebagai echo untuk menggemakan sektor pertanian menguntungkan dan menjanjikan masa depan.

Proses tidak akan mengkhianati hasil adalah bukti dari keuletan Haji Jubairi, akrab disapa Pak Badut, sosok peternak tangguh dari Bangka. Sejak 2014, memulai usaha penggemukan sapi bermodal seekor, berbekal pengalaman dan kematangan selama menjadi pengawal sapi antarpulau yang dilakoninya sebagai pekerjaan.

Kisah sukses Pak Badut menggema hingga Malang di Provinsi Jawa Timur. Resonansinya mengusik Direktur Polbangtan Malang, Setya Budhi Udrayana menyambangi Bangka, Rabu (9/3) untuk melihat langsung hasil kerja keras Pak Badut.

Direktur Setya BU beserta jajarannya di Bangka sepakat menjadikan peternakan Pak Badut sebagai lokasi magang mahasiswa Polbangtan Malang asal Babel, sebagai upaya resonansi keberhasilan putra daerah bagi petani milenial setempat.

Kisah sukses tersebut sejalan dengan seruan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa Indonesia memiliki potensi agraris yang melimpah dan saat ini komposisi penduduk Indonesia, 70% di antaranya adalah milenial maka apabila dikolaborasikan dengan baik niscaya menjadi peluang pertanian yang luar biasa.

“Pertanian itu jelas janjinya. Jelas menguntungkan. Kamu belum tahu aja. Kamu belum coba. Belum pernah saya melihat pertanian yang dilakukan secara baik dan benar membuat orangnya merugi dan kesulitan. Pertanian tidak pernah ingkar janji," kata Mentan Syahrul dalam berbagai kesempatan jumpa petani dan penyuluh.

Hal itu senada penegasan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian - Kementerian Pertanian RI (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi masa depan tonggak pertanian, saat ini dan ke depan berada di pundak generasi milenial. Kuncinya, peningkatan produktivitas untuk meningkatkan pendapatan petani sehingga masyarakat pun menikmati hasilnya dengan harga layak.

“Pertanian adalah masa depan pasti. Selama hidup, selama itu pula pertanian menjadi kebutuhan. Ayo anak muda, tunggu apa lagi untuk bergabung di pertanian, ini adalah masa kalian memimpin pembangunan pertanian Indonesia,” ajak Dedi.

Rintisan 2014

Setya BU dan jajarannya memutuskan peternakan sapi di Bangka, ke depan, sebagai salah satu lokasi magang Polbangtan Malang, yang disambut gembira Pak Badut.

Usaha ternak sapi dirintisnya sejak 2014, kini menguasai 80% pangsa pasar Babel. Diawali usaha penggemukan  bermodalkan seekor sapi kemudian berkembang hingga lebih 1.000 ekor sapi, khusus memenuhi kebutuhan lokal selama sebulan, didukung oleh 50 karyawan.

"Pakan fermentasi saya buat sendiri, dari bungkil kelapa sawit dan hijauan yang dicacah plus onggok dan dedak padi. Pakan murah dari sekitar sini mampu hasilkan bobot 0,8 kg per hari," kata Pak Badut, 39 tahun.

Setya BU mengatakan apa yang dilakukan Pak Badut sejalan arahan Kabadan Dedi Nursyamsi bahwa peningkatan produktivitas adalah hal yang mutlak harus dilakukan untuk meningkatkan pendapatan petani.

"Pertanian apabila dikelola dengan baik dan benar didukung teknologi dan inovasi akan menghasilkan cuan. Kinerja dan output yang sebanding akan memicu resonansi bagi generasi milenial menjadi followers sosok milenial tersebut," kata Setya BU mengutip pernyataan Dedi Nursyamsi pada Bertani on Cloud, Kamis (10/3).

Plt Kepala Dinas Pertanian Pemprov Babel, Haruldi menambahkan pemanfaatan sumberdaya lokal merupakan upaya mengurangi ketergantungan dari luar Babel, untuk itu butuh kreativitas, kerja keras, keuletan dan kemampuan melihat peluang pengembangan.

"Pemprov menyambut baik rencana Polbangtan Malang menjadikan peternakan Pak Badut sebagai lokasi magang mahasiswanya Pak Setya Budhi asal Babel," kata Haruldi.

Direktur Setya BU mengharapkan mahasiswa asal Babel akan menyerap ilmu dan pengalaman dari putra daerah. "Jadi setelah lulus kelak akan kembali ke kampung halamannya untuk mengembangkan potensi pertanian daerahnya," tandasnya. (OL-13)

Baca Juga: Pemkot Palembang Minta Produsen Prioritaskan 60% Minyak Goreng untuk Warga

BERITA TERKAIT