03 March 2022, 14:48 WIB

Harga Elpiji Non-Subsidi Naik, Pelanggan Lebih Memilih Tabung Melon


Lina Herlina | Nusantara

ANTARA FOTO/Arnas Padda
 ANTARA FOTO/Arnas Padda
 Pekerja membongkar muat gas elpiji tiga kilogram ke atas kapal di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan.

HARGA  liquefied petroleum gas (LPG) alias Elpiji non-subsidi naik sejak akhir Februari 2022 lalu. Di Sulawesi Selatan, pihak PT Pertamina (Persero) Regional Sulawesi menyebutkan harga gas elpiji ukuran 5,5 kilogram (kg) dibanderol Rp91 ribu, dan elpiji 12 kg mencapai Rp189 ribu.

Dari pantau di sejumlah pangkalan, harga memang sudah mereka naikkan. Seperti di pangkalan elpiji Jalan Dg Tata Makassar. Menurut pemilik pangkalan, Musa, sejak ada pengumuman harga elpiji non subsidi naik, harga langsung dinaikkan juga. "Kita menyesuaikan harga dari Pertamina," jelasnya.

Mereka pun menjual dengan harga yang sedikit dinaikkan dari harga dari pertamina. Untuk tabung 5,5 kg dijual Rp95 ribu, dan untuk tabung 12 kg dengan harga Rp195 ribu.

"Untuk gas besar itu stok tetap aman, dan selalu tersedia,karena rata-rata pembeli memilih gas 3 kg, yang harganya cuma Rp18.500 per tabung" tambah Musa.

Baca juga: Stok Aman, Harga Daging Sapi Lokal Sulsel Rp100 Ribu

Terpisah, Senior Communication and Relation PT Pertamina (Persero) Regional Sulawesi Taufik Kurniawan menegaskan kenaikan harga elpiji berlaku untuk kategori non subsidi atau non public service obligation (PSO). "Di Sulsel, ukuran 5,5 kg itu harga terbaru Rp91 ribu untuk refill (isi ulang), dan 12 kg itu Rp189 ribu," tegasnya.

Beda dengan tabung elpiji 3

"Besaran konsumsi elpiji di Sulsel hampir sama dengan jumlah konsumsi elpiji non subsidi secara nasional. Di Sulawesi maupun nasional rata-rata konsumsi hampir sama. Kalau nasional itu 6,7 persen untuk konsumsi elpiji non subsidi, sedangkan di Sulsel berkisaran sekitar 10 persen," sambung Taufik.

Dia meminta masyarakat untuk tidak menyikapi kenaikan elpiji non subsidi dengan cara berlebihan. Pasalnya, situasi global saat ini banyak dipengaruhi berbagai konflik yang terjadi saat ini.

"Konflik global, Ukraina dan Rusia tentunya akan membawa pengaruh terhadap BBM dan elpiji. Harga elpiji non subsidi itu fluktuatif," pungkas Taufik. (LN/OL-09)

BERITA TERKAIT