15 February 2022, 15:10 WIB

Antara Kopi, Kongko, Bangunan Tua, dan Literasi


Benny Bastiandy | Nusantara

MI/Benny Bastiandy
 MI/Benny Bastiandy
Kafe Literasi.

DERETAN bangunan tua di kawasan Stasiun Kereta Api Cianjur, Jawa Barat, sudah tidak berpenghuni. Warna catnya pun sudah terlihat memudar pada bagian dinding temboknya.

Konon, dulunya bangunan peninggalan kolonial tersebut merupakan bagian dari kantor Perusahaan Jawatan Kereta Api (sekarang PT Kereta Api Indonesia). Warga Cianjur mengenalnya sebagai Dipo.

Namun, dari deretan bangunan tersebut salah satunya disulap jadi kafe. Ukurannya memang tidak terlalu besar. Kira-kira sekitar 6x3 meter persegi. Pada kaca pintu masuk tertulis Cafe Kilometer 95.

Cukup sensasional. Pasalnya, sambil menikmati beragam kopi ataupun kudapan, pada jam-jam tertentu, para pengunjung akan disuguhi kereta api Siliwangi jurusan Sukabumi-Cianjur-Cipapat yang melintas.

Sekarang, tempat itu dijadikan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Cianjur sebagai Kafe Literasi. Di dalamnya memang terdapat banyak buku dengan berbagai judul serta jenis.

 

Tujuannya, keberadaan kafe literasi itu diharapkan bisa mendongrak minat baca masyarakat. Terutama di kalangan milenial.

"Diresmikannya kafe literasi ini tak terlepas program Cianjur Caang. Ini (Cianjur Caang) merupakan satu dari lima program unggulan Kabupaten Cianjur. Kami ingin memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat melalui gerakan literasi," kata Herman seusai peresmian Kafe Literasi, Selasa (15/2).

Di Kafe Literasi, kata Herman yang juga manajer Kafe Literasi, terdapat berbagai jenis buku. Terutama buku-buku bersejarah yang bisa menjadi pengetahuan, terutama bagi kalangan generasi muda. "Kafe ini kan tempat berkumpulnya anak muda. Jadi, sambil nongkrong dan ngopi bisa sambil membaca-baca buku sejarah," tutur Herman.

Tersedianya ruang-ruang literasi, sebut Herman, sebagai upaya mendongkrak minat baca warga Kabupaten Cianjur. Selain terdapat Kafe Literasi, sekarang di Kabupaten Cianjur pun terdapat Bus Wisata Literasi.

"Wisatawan bisa berkeliling kota mengenal berbagai sejarah Cianjur menggunakan Bus Wara-wiri Wisata Literasi. Sambil berwisata mereka juga bisa sambil membaca karena di dalam mobil wara-wiri kami siapkan berbagai buku. Insya Allah, kami coba mengikuti tren-tren yang digandrungi kalangan generasi muda," beber Herman.

Untuk pengayaan berbagai buku, sebut Herman, warga Cianjur yang memiliki buku-buku bersejarah, bisa mewakafkannya ke ruang-ruang literasi. Herman mengaku dirinya pun sudah mewakafkan berbagai buku yang dimilikinya.

"Daripada numpuk di rumah, lebih baik saya wakafkan. Insya Allah jadi pahala dan bermanfaat. Jadi caang (menerangi) warga dengan informasi dan pengetahuan. Saya mengajak warga Cianjur agar mulai gemar membaca. Iqra. Bacalah," ungkapnya.

Kepala Dinas Perpustakaan Arsip Kabupaten Cianjur, Amad Mutawali, mengaku terus berupaya meningkatkan minat baca masyarakat. Selain meluncurkan Kafe Literasi, juga diluncurkan Bus Wara-wiri Literasi.

"Dengan inovasi ini kami mendorong masyarakat tumbuh minat bacanya. Jadi perlu ada inovasi yakni perpustakaan berbasis rekreasi," kata mantan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Cianjur itu.

Literasi mencakup kegiatan membaca, menghitung, menulis, dan mendiskusikan.  Karena itu, sebut Amad, konsep perpustakaan harus dikembangkan selangkah lebih maju.

"Kalau konsep perpustakaan hanya terdapat buku saja, mungkin masyarakat agak ogah datangnya. Makanya harus dikemas lebih rekreatif agar mereka betah berlama-lama karena bisa sambil membaca," ucapnya.

Amad tak memungkiri tingkat baca masyarakat Kabupaten Cianjur masih relatif kurang. Hasil survei yang dilakukan, minat bacanya masih di kisaran 0,2% dari jumlah penduduk Kabupaten Cianjur sekitar 2,4 juta jiwa. Penyebabnya dimungkinkan karena berbagai faktor.

"Masih sangat jauh. Apalagi dengan situasi pandemi covid-19, minat warga datang ke perpustakaan juga sangat turun drastis. Makanya, berbagai inovasi perlu dilakukan, termasuk perpustakaan digital," pungkasnya. (BB/OL-10)

BERITA TERKAIT