31 January 2022, 18:45 WIB

Memproteksi Pekerja Risiko Tinggi di Kala Pandemi


Lilik Darmawan | Nusantara

MI/LILIK DARMAWAN
 MI/LILIK DARMAWAN
Pekerja di Koperasi Nira, Banyumas, Jawa Tengah, tengah memproses pembuatan gula semut, dengan protokol kesehatan

 

 

PADA usia senja, 68 tahun, Musapii, warga Desa Pageraji,
Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, masih harus
memanjat pohon. Keharusan yang sudah ia lakukan sejak 60-an tahun lalu, saat masih berusia belasan tahun.

Musapii memanjat pohon kelapa untuk mengambil niranya. Memang, dia adalah seorang penderes. Pekerjaannya sangat berisiko.

Bulan lalu, Musapii menghadapi takdir. Dia yang sudah lanjut terjatuh
dari pohon melinjo dan langsung meninggal dunia. Meski bukan dari pohon
kelapa, tetapi jelas betapa berisikonya memanjat pohon.

Hal itu juga dialami oleh warga desa setempat, Kartun. Pria berusia 50
tahun tersebut terjauh pada saat menderes. Kartun mengalami luka cukup
serius. Hampir selama 6 bulan, dia tidak dapat bekerja menderes sehingga kehilangan penghasilan.

Masalah-masalah semacam ini sudah menjadi persoalan klasik sejak lama.
Risiko meninggal dan mengalami kecacatan, menjadi bagian tak terpisahkan bagi para penderes.

Data dari Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Banyumas menyebutkan, ada sekitar 26 ribu  penderes di Banyumas. Pada periode 2014-2019 terdapat sekitar 702 penderes gula kelapa yang jatuh.

Sejak 2017 hingga Oktober 2019 terdapat 323 kasus kecelakaan penderes terjatuh. Sebanyak 236 penderes cacat dan 87 di antaranya meninggal dunia.

Pengelola UMKM CV Agro Java Mandiri, Sani Irfan, mengakui hampir setiap
bulan ada saja penderes yang jatuh. Memang risikonya begitu tinggi,
bahkan tak jarang menimbulkan kematian.

"Dalam sebulan terakhir saja, penderes yang menjadi mitra kami ada tiga yang mengalami kecelakaan kerja. Bahkan, salah satunya yakni Pak Musapii meninggal dunia. Dalam setahun, jumlah penderes yang jatuh bisa belasan hingga puluhan," kata Sani.

Sebetulnya sudah beberapa kali ada bantuan peralatan bagi para penderes. Misalnya, dari Kantor Bank Indonesia (BI) Purwokerto tahun 2019 silam dan BRIN pada 2021 lalu.

Peralatan itu bertujuan untuk bisa melindungi para penderes ketika bekerja mengambil air nira di pohon kelapa. Tetapi pada kenyataannya, penderes tidak memakainya. Alasannya beragam, mulai dari ribet, sampai malah lebih lama bekerjanya pada waktu menderes.

Perlindungan penderes

Sani menuturkan, sebagai bagian dari proteksi terhadap penderes,
pihaknya mengikutsertakan para penderes pada program BPJS
Ketenagakerjaan. Kebetulan, dirinya juga seorang agen Persiai BPJS
Ketenagakerjaan, sehingga lebih mudah mengurus asuransinya.

"Sebagai bentuk tanggung jawab UMKM, maka seluruh mitra CV Java Agro
Mandiri sebanyak 411 petani penderes diikutsertakan dalam BPJS
Ketenagakerjaan. Para petani tidak perlu membayar angsuran, karena kami
yang bertanggung jawab. Proteksi melalui BPJS Ketenagakerjaan akan lebih mudah dan bagi pelaku UMKM juga ringan. Angsurannya murah, tetapi
kegunaannya sangat besar," jelasnya.

Ia mencontohkan, Musapii yang meninggal akibat terjatuh dari pohon
melinjo mendapatkan asuransi. Beberapa waktu lalu BPJS Ketenagakerjaan mencairkan santunan kematian kepada Musapii yang meninggal dunia karena terjatuh dari pohon.

"Meski bukan masuk dalam kecelakaan kerja, karena terjatuh pada saat
memanjat pohon melinjo, tetap saja memperoleh santunan Rp42 juta. Sudah
dicairkan untuk ahli waris. Jika kecelakaan kerja, beda lagi, lebih
besar," ujarnya.

Bayangkan dalam kondisi pandemi, di saat omset juga mengalami penurunan, tragedi masih tetap terjadi. "Masa pandemi, membuat CV Agro Jawa Mandiri, sebagai salah satu UMKM yang bergerak di bidang gula kristal organik juga terpengaruh. Pasarnya mengalami penurunan. Tentu saja hal itu berdampak pada para penderes. Makanya bagi para mitra telah kami ikutkan program BPJS Ketenagakerjaan. Mereka mendapat proteksi terutama pada masa pandemi," jelasnya.

Kepala Bidang Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Cabang Purwokerto Achmad
Ath Thobarry mengungkapkan berbagai manfaat memang sangat dirasakan oleh mereka yang telah mendapatkan santunan.

"Ada beberapa manfaat yang diperoleh ketika seseorang mengikuti BPJS Ketenagakerjaan. Di antaranya adalah dicover 24 jam kecelakaan kerja. Kalau ada yang mengalami kecelakaan kerja, kita memberikan penggantian gaji 100% selama satu tahun. Korban kecelakaan juga mendapat pembiayaan penuh sampai sembuh," tandasnya.

Bahkan, jika ada pekerja yang meninggal, anak-anaknya dibiayai
pendidikannya sampai sarjana. "Jadi kalau pekerja meninggal, maka dua
anaknya dicover pendidikannya sampai sarjana, dengan beasiswa setiap anak mendapat bantuan biaya hingga Rp87 juta. Jika meninggal pada saat
kerja, akan diberi santunan 48 kali upah. Kalau mengalami kecacatan 56
kali upah. Ini adalah bentuk kehadiran negara dalam perlindungan tenaga
kerja," ungkapnya.

Saling jaga ketika pandemi

Sani menambahkan pada saat kondisi pandemi berdampak pada merosotnya
omset gula semut, juga berdampak pada para pekerja dan penderes.

"Namun, ketika kondisi terpuruk seperti itu, ada subisidi upah yang dicairkan oleh pemerintah. Pada awal 2021 lalu, penderes yang menjadi mitra dan telah ikut BPJS Ketenagakerjaan memperoleh subsidi upah senilai total Rp2,4 juta juta yang diterimakan dalam tiga bulan," ujarnya.

Dalam situasi pandemi, pihaknya juga terus mendorong kepada petani
penderes untuk ikut vaksinasi. "Alhamdulillah, pada umumnya mereka telah mengikuti vaksinasi. Meski mereka bekerja di lapangan, namun vaksinasi tetap wajib bagi mereka," tambah Sani

Sementara Ketua Koperasi Nira Satria Nartam Andrea Nusa menambahkan
pihaknya juga mendampingi para petani penderes yang tergabung dalam
koperasi untuk ikut mendapatkan proteksi dari BPJS Ketenagakerjaan.

"Alhamdulillah, meski belum semuanya ikut, namun sudah cukup banyak.
Dari 896 petani, sudah sekitar 25%. Ini terus kami dorong, karena
proteksi bagi mereka sangat penting. Apalagi setiap hari harus bertaruh
nyawa memanjat pohon kelapa," ungkapnya.

Di saat masa pandemi seperti sekarang, koperasi juga terus berusaha ikut serta memberikan edukasi dalam menghadapi masa pandemi. Mulai dari
tertib dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes) hingga mendorong
vaksinasi.

Langkah pencegahan itu penting, supaya nanti para penderes tidak terkena covid-19 yang ujungnya memberatkan keluarga.

"Apalagi pada awal-awal pandemi, pemasaran gula kristal sangat terpengaruh. Pada 2020, masih 450 ton per tahun, tetapi anjlok pada 2021 hanya 82 ton per tahun. Sebagai bagian dari upaya agar petani penderes tidak semakin berat bebannya, maka pencegahan dengan vaksinasi dilakukan," ujarnya.

Kebetulan, kalau di Banyumas vaksinasi cukup banyak tersedia dan
menjangkau siapa saja.

"Di Banyumas, vaksinasi berjalan dengan baik dan menjangkau juga kepada para petani penderes dan pekerja di koperasi. Hampir semuanya sudah ikut serta vaksinasi. Tidak gampang sebetulnya untuk mengedukasi warga desa, tetapi alhamdulillah sekarang sudah pada mengerti pentingnya vaksinasi," ujarnya.

Kalau di dalam kantor, masker tidak pernah ketinggalan. Apalagi, di
dalam ruang penyortiran itu harus steril dan hanya terbatas orang yang
masuk. Mereka wajib mengenakan masker.

"Mereka tidak terlalu kaget pada saat wajib mengenakan masker, karena sebelum pandemi saja, masker sudah wajib bagi para pekerja," tandasnya. (N-2)

 

BERITA TERKAIT