29 January 2022, 13:10 WIB

Penamaan Nusantara sebagai IKN Momentum Kembalikan Mentalitas Bangsa


mediaindonesia.com | Nusantara

Ist
 Ist
 Dosen Pascasarjana Bidang Ilmu Politik dari Universitas Muhammadiyah Jakarta Wachid Ridwan.

PENAMAAN Nusantara pada ibu kota negara (IKN) baru sebagai gambaran bangsa ini yang disatukan oleh semangat persatuan sebagai benteng kokoh dari keragaman budaya, suku, etnis, bahasa, dan agama. Hal itu dikatakan dosen Pascasarjana Bidang Ilmu Politik dari Universitas Muhammadiyah Jakarta Dr Wachid Ridwan.

Ia juga mengemukakan bahwa nama IKN ini juga menyiratkan makna cita-cita untuk mengembalikan spirit kejayaan Nusantara dan mentalitas bangsa sebagai bangsa yang unggul dan berjaya seperti dahulu kala.

"Mentalitas itu yang harus terus kita bangun karena tantangan bangsa ke depan akan lebih bervariatif dan kompleks," ujar Wachid seperti dilansir Antara di Jakarta, Jumat (28/1).

Ia mengatakan bahwa mentalitas yang perlu kembali dibangun ialah mentalitas bangsa yang sama seperti pada saat founding fathers bangsa ini memperjuangkan hingga memproklamasikan kemerdekaan. Menurutnya, semangat yang tecermin pada saat itulah yang perlu menjadi pijakan untuk mengembalikan mentalitas bangsa.

"Pijakan utama itu menurut saya, ya, semangat kejiwaan, semangat kebersamaan, semangat keberagamaan, dan semua yang terjadi selama proses bagaimana founding fathers kita itu yang memproklamasikan kemerdekaan. Nah, spirit itulah yang perlu kita bangun lagi," katanya.


Baca juga: Budayawan: Nusantara Punya Makna Spiritual dan Historis


Terkait pro dan kontra Undang-Undang (UU) IKN, Sekretaris Badan Pencegahan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) ini menilai sebagai sebuah hal yang wajar dalam dunia demokrasi.

"Saya kira dalam dunia demokrasi seperti ini, polemik-polemik yang semacam itu adalah sesuatu yang biasa. Akan tetapi, jangan sampai ada kekerasan," ujarnya.

Menurut dia, rencana pemindahan IKN bukanlah hal yang mudah. Namun, bagaimana pun UU IKN telah disahkan menjadi sebuah konsensus oleh Pemerintah.

Wachid memandang perlu masyarakat mendukung dan berpartisipasi terkait dengan kebijakan tersebut. "Kita semua perlu mendukung, perlu ikut serta berpartisipasi. Yang saya maksudkan ini adalah adanya pengawasan. Jadi, tetap harus ada pengawasan dan harus ada kritik yang membangun," katanya.

Ia berpendapat bahwa dukungan berupa pengawasan yang baik dari masyarakat dapat menjadi pemicu keberhasilan yang akan menjadi goresan sejarah bangsa yang sangat baik.

"Insya Allah, kalau kita semua dan semua elemen bangsa ikut bertanggung jawab atas keberhasilan nanti, akan jadi goresan sejarah yang betul-betul ingin Indonesia ini baru dan kita berkomitmen untuk mewujudkan," katanya. (Ant/S-2)

 

BERITA TERKAIT