28 January 2022, 11:36 WIB

Gerakan Melawan Stunting HaloPuan Digelar di Ciater, Subang


mediaindonesia.com | Nusantara

Ist
 Ist
Gerakan Melawan Stunting dilaksanakan di Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

KECAMATAN Ciater terkenal sebagai kawasan wisata alam di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Hamparan perkebunan teh, udara sejuk, dan kolam-kolam pemandian air panas yang berasal dari Gunung Tangkuban Parahu menjadi daya tarik Ciater.

Jika akhir pekan tiba, wilayah Ciater diserbu para wisatawan. Ciater di akhir pekan tak kalah padatnya dengan kawasan Puncak, Bogor.

Namun, di tengah aktivitas pariwisata tersebut, Ciater belum terbebas dari permasalahan stunting (kondisi gagal tumbuh balita karena gizi buruk kronis).

Kepala Puskesmas Palasari (wilayah kerja Ciater), Budiyana Taufik, menyebut tujuh desa di Kecamatan Ciater masih menjadi lokus dan fokus penanganan stunting

“Yang masih jadi pertanyaan bagi saya adalah mengapa tujuh desa di Ciater masih jadi fokus dan lokus, padahal secara ekonomi warga Ciater mah marampu (semuanya mampu secara ekonomi),” kata Budiyana dalam keterangan pers, Jumat (28/1).

Hal tersebut disampaikan Budiyana kala ia memberi sambutan dalam kegiatan Gerakan Melawan Stunting yang digelar oleh HaloPuan, lembaga sosial Ketua DPR RI Puan Maharani di Desa Cibeusi, Ciater.

Budiyana pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada HaloPuan yang telah berperan dalam melakukan intervensi gizi sensitif berupa penyuluhan bahaya stunting.

Baca juga : Perlu Kerja Sama untuk Atasi Stunting

“Kesadaran masyarakat tentang pemberian gizi seimbang kepada anak-anak memang perlu terus dibangkitkan,” katanya.

Ciater sendiri merupakan lokasi ke-14 di Jawa Barat dari Gerakan Melawan Stunting yang dimulai HaloPuan sekitar pertengahan tahun lalu.

Menurut koordinator HaloPuan, Poppy Astari, Gerakan Melawan Stunting merupakan wujud kepedulian Puan Maharani kepada permasalahan gizi anak-anak di Indonesia. Angka stunting di Indonesia (27,7%) yang masih di atas rata-rata dunia (20%) menjadi perhatian Puan Maharani. 

“Ibu Puan melihat masalah stunting tak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah, tapi perlu terus ditumbuhkan kesadaran warga,” ujar Poppy. “Karena itulah, HaloPuan terus bergerak untuk menyosialisasikan pemahaman tentang stunting dan cara mencegahnya.”

Stunting tak hanya menghambat pertumbuhan fisik anak-anak, tapi juga perkembangan kognitif mereka.

“Karenanya, stunting bisa berdampak pada masa depan bangsa, di mana balita-balita yang stunting pada saat ini akan menjadi sumber daya manusia yang tidak mampu belajar dan bekerja pada 23 tahun mendatang atau saat Indonesia berusia 100 tahun,” jelas Poppy.

HaloPuan juga membawa gagasan pemanfaatan daun kelor sebagai asupan super. Daun kelor itu diekstraksi menjadi bubuk, sehingga bisa diolah menjadi berbagai menu makanan yang menarik dan enak dimakan oleh anak-anak (edible). “Dengan dijadikan bubuk, maka nutrisi yang dikandung daun kelor menjadi terikat, dan tidak meluruh,” jelas relawan HaloPuan, Mohammad Chotim.

Bubuk daun kelor telah banyak dimanfaatkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Pangan Dunia (FAO) untuk mengatasi malnutrisi di Afrika. Di Flores Timur, pemanfaatan daun kelor dalam bentuk bubuk atau tepung juga telah mampu menurunkan angka stunting hingga separuhnya.

Saat mengunjungi pertanian kelor milik PT Moringa Organik Indonesia (MOI) di Blora, Jawa Tengah, HaloPuan mendapatkan penjelasan dari petani kelor, Bambang Hari Purwanto, tentang manfaat daun kelor.

Kelor setara dengan 15 kali pottasium pada pisang, 10 kali vitamin A pada wortel, 25 kali zat besi pada bayam, ½ kali vitamin C pada jeruk, 17 kali kalsium pada susu, 9 kali protein pada yoghurt, 5 kali serat lebih banyak daripada sayuran lain, dan 50 kali vitamin B2 pada sarden.

Kelor juga mengandung 90 nutrisi, 46 antioksidan, 36 antiinflamasi, dan 18 asam amino (senyawa organik penyusun protein).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, dr. Maxi menyampaikan terima kasih kepada HaloPuan yang telah menyebarluaskan informasi tentang manfaat super daun kelor untuk melawan stunting.

“Untuk melawan stunting, kita memang mesti memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita,” katanya.

Dalam Gerakan Melawan Stunting, HaloPuan selalu bekerja sama dengan kader-kader PDI Perjuangan.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat sekaligus Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Ineu Purwadewi Sundari mengatakan, melawan stunting merupakan amanat partai kepada setiap kadernya. 

“Karena itulah, kami bermitra dengan HaloPuan,” paparnya. “Terima kasih kepada HaloPuan yang terus bergerak di Jawa Barat.”

Angka stunting di Jawa Barat sendiri menurut data Riset Dasar Kesehatan pada 2019 mencapai 26,21%. Padahal, Jawa Barat menargetkan zero stunting pada 2023. 

“Ini (Gerakan Melawan Stunting) harus masif,” kata Ineu. “Pemerintah tak bisa sendiri (dalam melawan stunting).”

Kegiatan kemudian diakhiri dengan pembagian paket makanan tambahan kepada sekitar 160 warga peserta. Di dalamnya, terdapat 400 gram bubuk daun kelor. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT