26 January 2022, 11:05 WIB

Dua Desa di Banyuasin Dijadikan Uji Coba Lebah Madu dan Mina Padi


Dwi Apriani | Nusantara

MI/Ardi T Hardi
 MI/Ardi T Hardi
Uji coba budidaya ikan di sawah atau Mina Padi, padi ramah lingkungan, dan juga lebah madu.

DESA Baru di Kecamatan Rambutan dan Desa Daya Kesuma di Kecamatan Sugihan, Banyuasin, Sumatra Selatan menjadi desa terpilih untuk uji coba budidaya ikan di sawah atau Mina Padi, padi ramah lingkungan, dan juga lebah madu. Uji coba ini dilakukan oleh peneliti lembaga sosial masyarakat World Agroforestry (ICRAF) Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Banyuasin.

Semula, ICRAF memunculkan tiga model bisnis unggulan untuk desa yang berada di kawasan gambut Provinsi Sumatra Selatan. Agroforestry Modeller ICRAF, Nimatul Khasanah mengatakan tiga model bisnis yakni mina padi (budidaya ikan di sawah), lebah madu dan padi ramah lingkungan akan diujicobakan di dua desa Kabupaten Banyuasin.

"Ini berdasarkan hasil penelitian kami di sejumlah daerah di Indonesia seperti di Jatim untuk padi dan Jawa Tengah untuk lebah madu. Sebelum ke lapangan, kami menggelar lokakarya ini merupakan bagian dari kegiatan proyek peningkatan kapasitas pengelolaan lahan gambut dan kapasitas para pemangku kepentingan Indonesia, yang didukung oleh Pemerintah Jerman dari
tahun 2020-2023," jelasnya, kemarin.

Ia mengatakan tiga model bisnis ini akan disosialisasikan ke para pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah provinsi hingga pemerintah desa, masyarakat, LSM, asosiasi, perusahaan swasta dan lainnya untuk menemukan formula yang cocok untuk desa yang menjadi sasaran.

Hal ini karena setiap desa yang berada di kawasan gambut memiliki karakteristik berbeda-beda, baik dari sisi geografis, sosial dan ekonominya. Nantinya, multipihak ini akan melahirkan dokumen bersama untuk digunakan dalam membangun komunikasi dengan mitra langsung dan mitra strategis dalam penerapan model bisnis bagi desa gambut.

"Ada desa yang cocok untuk mina padi, ada desa yang cocok untuk lebah madu. Ini yang perlu disinkronkan dengan para multipihak sehingga hasil bisa optimal," kata dia.

Untuk menemukan formula ideal ini, akan dilakukan pendekatan outcome mapping yakni pendekatan secara detail disesuaikan dengan kondisi masing-masing desa. Sebagai tahap awal ICRAF dan berbagai pihak akan menginisiasi pembuatan demonstrasi plot di dua desa itu.

"Bisnis model yang akan diujicobakan di kedua desa percontohan itu yakni model usaha budidaya lebah madu dan mina padi di Desa Baru, budidaya padi ramah lingkungan dengan menerapkan pembukaan lahan tanpa bakar dan penggunaan pupuk organik di Desa Daya Kesuma," jelasnya.

Peneliti ICRAF bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Suyanto menambahkan semua pihak harus bekerja sama dalam upaya untuk mendorong kemampuan ekonomi masyarakat di kawasan gambut. "Ini penting, karena jika masyarakat masuk dalam kategori miskin maka rentan untuk merambah hutan atau mengeksploitasi alam secara tidak berkelanjutan, seperti membuka lahan dengan cara bakar. Desa gambut pilihannya terbatas, tingkat keasaman lahannya tinggi. Oleh karena itu harus ada cara lebih unik untuk mengembangkannya," kata Suyanto.

Seperti, jika ingin mengembangkan mina padi maka pengelolaan sawah yang diintegrasikan dengan pemeliharaan ikan harus didesain secara khusus karena tak semua jenis ikan bisa hidup di air yang asam.

Begitu pula jika ingin mengembangkan budidaya lebah madu, karena biasanya lebih cocok untuk masyarakat yang berada di dekat kawasan hutan.

Untuk tahap awal, demplot akan dibuat di atas lahan 3 hektare yang dapat dijadikan ruang bagi masyarakat desa dan para mitra untuk mengujicobakan model bisnis. Nantinya, jika ini berhasil diharapkan akan banyak desa di Sumsel yang mengadopsi sehingga akan lahir perubahan perilaku dalam pemanfaatan alam.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Banyuasin Kosarudin mengatakan pemerintah daerah membutuhkan dukungan untuk memperkuat perekonomian masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut. Keterlibatan pemangku kepentingan seperti lembaga penelitian, akademisi dan sektor swasta sangat diharapkan untuk menuju pengelolaan yang terpadu dan menyeluruh bagi desa-desa gambut.

Banyuasin memiliki luas 295.800 hektar, yang mana 13 persen merupakan areal gambut. Lahan gambut itu sejauh ini sudah dimanfaatkan untuk lahan pertanian, khususnya padi. Saat ini produksi beras di Banyuasin cukup tinggi, yaitu 905.000 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau menempati urutan keempat secara nasional.

"Kami ingin melihat dampak dari kegiatan model usaha ini, semisal bisa mengurangi angka kemiskinan. Karenanya, kami mendukung adanya peran serta multi pihak untuk mencapai tujuan akhir tersebut," pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: Jembatan Arawawo Diperbaiki, Warga tak Perlu Lagi Bayar Jasa Pikul

BERITA TERKAIT