23 January 2022, 10:55 WIB

Mahasiswi Akper Lela Maumere, Kuliah Sambil Jualan Pisgor


Gabriel Langga | Nusantara

MI/Moat Angga
 MI/Moat Angga
Mahasiswi Akper Santa Elisabeth Lela Maumere, Maria Ernesta Pola, di depan lapak pisgor di kantin kampusnya, Sabtu (22/1)

UNTUK meraih cita-cita butuh perjuangan, keringat dan airmata, hal itu ditunjukkan mahasiswi Akademi Keperawatan (Akper) Santa Elisabeth Lela Maumere, Maria Ernesta Pola. Demi meraih cita-cita untuk mengubah nasibnya, dia kuliah sambil menjalankan usaha kecil-kecilan dengan berjualan pisang goreng (pisgor).

Tangannya sangat terlihat cekatan melayani pembeli yang ingin mencicipi pisgor buatannya. Rata-rata pembelinya adalah mahasiswa-mahasiswi Akper Santa Elisabeth Lela Maumere. Termasuk dosen di sana menjadi konsumen pisgorg buatan mahasiswi semester II ini.

Meski terlihat kerepotan melayani para pembeli, namun, senyum tetap terpancar dari wajahnya. Usaha kecil-kecilan yang ia lakoni itu mendapatkan dukungan dari pihak kampus yang memberikan tempat di dalam kampus.

"Sambil kuliah saya jualan pisang goreng. Saya jualan di kantin kampus. Karena kantin ini, pihak kampus yang buat. Jadi saya diizinkan untuk jualan di kampus ini," ujar Nesta yang sudah delapan bulan menjalani usaha pisang goreng ini.

Kepada mediaindonesia.com, Sabtu (22/1) kemarin di Kabupaten Sikka, NTT, Nesta menceritakan sebelum ada kantin kampus ia berjualan pisgor di halaman kampus. Itupun kalau sudah selesai kuliah. Selanjutnya ketika pihak kampus mendirikan kantin, ia diminta untuk berjualan di kantin saja.

Dalam sehari, jelas Nesta, dia membuat pisang goreng di rumahnya sebanyak 50 potong. Pisgornya dijual Rp1.000 per potong itu, dibawa untuk dijajakan di kantin kampus.

"Saya bersyukur setiap hari ini pisang goreng habis terjual," ujar Nesta yang memiliki tekad yang kuat untuk membahagiakan kedua orangtuanya di kampung, pantang pulang sebelum meraih gelar sarjana ini.

Keuntungan dari jualan pisgor ini, jelas Nesta, ditabungnya untuk keperluan perkuliahannya.  "Saya berjualan pisang goreng ini sudah dari semester I. Sekarang saya sudah semester II. Keuntungan dari jualan bisa goreng ini saya tabung. Kalau ada keperluan di kampus seperti untuk print tugas saya gunakan uang itu dan juga untuk keperluan saya seperti beli
pulsa data dan sebagainya," ungkap gadis asal Kabupaten Ngada ini.

Dia mengaku tidak merasa minder atau malu dalam menjalani usahanya ini. Terpenting bagaimana mencapai cita-cita dan membahagiakan orangtuanya tercapai. "Saya ada skala prioritas, jualan pada siang hari sampai sore. Malamnya untuk belajar dan kerja tugas dari dosen. Kalau tidak ada pembeli, saya gunakan untuk baca buku," pungkas dia. (OL-13)

Baca Juga: Limbah Sisa Makanan di Bali Rata-Rata 150 Kilo Perhari/TPS

BERITA TERKAIT