24 December 2021, 09:31 WIB

Belasan Perusahaan Buang Limbah, Cemari Sungai Martapura


Denny S | Nusantara

MI/Denny Susanto
 MI/Denny Susanto
Sungai Martapura

Keberadaan Sungai Martapura yang merupakan salah satu pusat peradaban masyarakat Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan, fungsinya terus mengalami penurunan. Belasan perusahaan yang beroperasi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Martapura menjadi pemicu terjadinya pencemaran sungai.

Data Dinas Lingkungan Hidup Kalsel mencatat Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar ini mengalami
pencemaran dengan kategori tercemar sedang. Sungai Martapura berada dalam sub DAS Martapura dengan hulu Sungai Riam Kanan dan Riam Kiwa. Tercatat ada belasan perusahaan yang beroperasi di wilayah sub DAS Martapura ini, tiga diantaranya adalah perusahaan tambang batubara dengan luas areal tambang 3.257 hektare.

Kemudian ada kawasan perkebunan seluas 14.326 hektare dan perusahaan lain yang bergerak di sektor home industri, karet,
perhotelan, kayu lapis dan pembekuan udang. Dari 178.179  hektare luas DTA Riam Kanan 23.815 <23815> ha kritis, agak kritis 47.768  ha dan sangat kritis 67.491 ha atau 37,88 persen.

Keberadaan belasan perusahaan ini brrpotensi memicu terjadinya pencemaran sungai martapura yang menjadi sumber air baku PDAM, transportasi, pertanian dan perikanan serta kegiatan ekonomi masyarakat lainnya.

Pencemaran Sungai Martapura ini jadi prioritas penanganan Pemprov Kalsel dengan melibatkan Pemko Banjarmasin dan Pemkab Banjar
melalui program rediscovery sungai yang disebut Sungai Martapura Bungas. Program ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi sungai sebagai sendi kehidupan bagi masyarakat sepanjang daerah aliran Sungai Martapura, di Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar.

"Kemarin kita menggelar seminar nasional Program Sungai Martapura Bungas yang bertujuan untuk menyampaikan informasi tentang program kepada masyarakat, mendapatkan pembelajaran dari pengalaman pengelolaan kawasan das citarum secara langsung dari inisiator citarum
harum. Serta mengindentifikasi permasalahan dan menghasilkan kesimpulan, rekomendasi dan rencana tindak lanjut," ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana, Jumat (24/12).

Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor yang menjadi salah satu pembicara mengatakan peran masyarakat sangat penting untuk membantu pemerintah menjaga lingkungan, khususnya perairan sungai termasuk Sungai Martapura. Sungai Martapura merupakan backbone Kawasan Metropolitan Banjarbakula, dimana sebagian besar kehidupan masyarakat di tepian sungai dihabiskan dengan menggunakan sungai sebagai tempat ‘wajib’ berkehidupan sosial dan ekonomi.

Letjen Doni Monardo sebagai Inisiator Program Citarum Harum dengan pemaparan pengalaman program Citarum Harum, menyebut pemegang kunci dalam keberhasilan membangun lingkungan adalah perubahan perilaku, dimana diperlukan komitmen dan konsistensi yang kuat para pihak.

Pembicara lain dalam seminar ini adalah Bob Arthur Lombogia, Direktur Pantai dan Sungai mewakili Direktur Jenderal Sumber Daya Air dari Kementerian PUPR dengan pemaparan Upaya Pengendalian Banjir di Daerah Aliran Sungai sebagai pembelajaran untuk upaya mereduksi banjir di Kalimantan Selatan khususnya di Sungai Martapura. Luckmi Purwandari, Direktur Pengendalian Pencemaran Air KLHK dengan pemaparan Upaya-Upaya Peningkatan Kualitas Air Sungai guna peningkatan kualitas air Sungai Martapura. (OL-12)

BERITA TERKAIT