17 December 2021, 07:11 WIB

Mbay, Kota Sepedanya Flores, Gelar Festival Kota


Ignas Kunda | Nusantara

MI/Ignas Kunda
 MI/Ignas Kunda
Sejumlah pengendara sepeda ambil bagian dalam festival di Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT.

SEJUMLAH anak-anak Kota Mbay ikut dalam parade sepeda mengelilingi Kota Mbay, di Kabupaten Nagekeo, NTT,  memeriahkan Festival Kota Mbay Sehat dan Hijau, Kamis (16/12). 

Sejumlah anak-anak dari tingkat sekolah dasar hingga SMP dari sekitar 5 sekolah di Kelurahan Danga ambil bagian dalam parade sepeda sebagai rangkaian acara festival kota yang baru pertama digelar di Kota Mbay. 

Sekitar 50 anak ini mulai mengayuh sepeda mereka pada pukul 15.00 WITA dari lapangan sepeda Tozupazo, memasuki jalan Soekarno Hatta, jalan Soeharto, hingga berakhir kembali di titik awal start. 

Baca juga: Jemaah Ibadah Natal di Kota Kupang Dibatasi Hanya 50% Kapasitas Ruangan

Enzo Lamanepa, siswa SMP St Theresia, mengaku sangat senang mengikuti parade itu karena bisa bersepeda bersama teman dari sekolah lain. 

Baginya, bersepeda di Kota Mbay sangat cocok karena kontur jalan yang cenderung rata dan tidak membutuhkan banyak energi sehingga bisa lebih santai. 

"Senang rasanya bisa bersepeda bareng teman dari sekolah lain. Saya baru mendengar Mbay mempunyai sejarah kota sepeda dan ini tentu menarik karena selama ini bersama teman kota ini cocok untuk bersepeda tidak terlalu lelah untung dayung karena cenderung rata dan jalan yang lebar dan saya tertarik untuk mencoba bersepeda di persawahan, " ungkapnya. 

Parade sepeda ini juga merupakan yang pertama kali digelar di Pulau Flores yang memiliki 8 kabupaten. Festival itu merupakan kolaborasi komunitas warga Danga, Kota Mbay dengan Pemda Nagekeo dalam mewujudkan kota sehat. 

Menurut ketua panitia festival itu, Kanis Laking, parade sepeda ini sebagai acara yang ditunggu-tunggu para peserta dalam Festival Kota Mbay karena sejarahnya Kota Mbay merupakan kota yang sejak 1990-an terkenal dengan sepeda sebagai mobilisasi andalan apalagi ke sawah dan pasar untuk mengangkut padi dan hasil panenan. 

Keberadaan sepeda akhirnya tergusur seiring mudahnya warga membeli sepeda motor dengan harga terjangkau. 

"Di era 90-an, transportasi orang Danga menggunakan sepeda. Kegiatan ini untuk mengangkat kembali, sepeda itu transportasi itu murah dan ramah lingkungan, kita berharap menggunakan transportasi sepeda di Danga demi mengurangi emisi gas buang. Kota Mbay dekat sekali daerah persawahan, jalan inspeksi di persawahan bisa untuk bersepeda, ini tentu bisa membuat wisatawan di Mbay lebih lama.  Kota Mbay harus jadi kota sepedanya Flores, kebijakan pembangunan harus dilihat dan diarahkan oleh para pengambil kebijakan agar Kota Mbay sebagai kota sepeda, " ungkapnya. 

Sebelumnya Rabu (15/12), telah dilakukan pembukaan festival dengan sejumlah pagelaran acara berupa pementasan seni dan budaya oleh sanggar-sanggar tari di antaranya oleh sanggar-sanggar di kelurahan Danga seperti Tari Dero kreasi dari SD Waturedu, sanggar seni Dhengi Dhawe dari SD Wolorae yang membawakan tarian Mesi Ae. 

Festival juga diisi dengan penanaman 100 anakan pohon pada beberapa pada lingkungan sekolah di sekitar kelurahan Danga. 

Ke depan, rencananya akan dilakukan penanaman 1 pohon sekali dalam seminggu dalam dalam mewujudkan Kota Mbay yang hijau. 

Menurut Kanis, soal ekologi, lingkungan kota diharapkan bersih, sejuk, indah. 

"Untuk sejuk kita usahakan tanaman produktif seperti buah-buahan. Kita manfaatkan lahan yang selama ini belum terpakai untuk bangunan, sehingga bisa menciptakan ruang terbuka hijau daripada harus mencari lokasi baru, maka dimanfaatkan lokasi sekolah," ungkapnya.

"Tanam 100 anakan pohon di SDK Wolorae, ke depan akan udahan bisa tanam 1.000 pohon mangga di lingkungan sekolah di Kelurahan Danga. Daripada cari lahan baru untuk area terbuka hijau lebih baik manfaatkan lahan sekitar sekolah yang umumnya luasnya sampai 2 hektar," pungkasnya. 

Festival akan berlangsung dari 15 Desember - 18 Desember 2021 dalam mendukung Kabupaten Nagekeo sebagai destinasi impian. (OL-1)

BERITA TERKAIT