15 December 2021, 18:50 WIB

Mentan Saksikan Keunggulan Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan


Reza Sunarya | Nusantara

MI/Reza Sunarya
 MI/Reza Sunarya
Mentan SYL (kedua dari kiri) memantau alat pertanian yang canggih saat meninjau BBPOPT di Karawang.

MENTERI Pertanian Syahrul Yasin Limpo Kementan menyaksikan keunggulan laboratorium uji mutu buah-buahan untuk ekspor di bawah Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT). Mentan Berharap BBPOPT tidak boleh kalah oleh Petani yang tidak memiliki teknologi.

Menteri Pertanian mengklain ekspor pertanian mengalami peningkatan pada bulan November 2021. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat nilainya mencapai US$22,84 miliar atau naik 3,69% dibandingkan Oktober 2021. BPS dalam laporannya menyebutkan bahwa sektor pertanian tumbuh sebesar 4,18% atau US$0,43 miliar bila dibandingan dengan bulan sebelumnya (M-to-M).

Menurut Mentan, komoditas pertanian yang berorientasi ekspor harus memiliki kualitas standar tinggi yang berlaku di negara tujuan, terlebih lagi Kementerian Pertanian memiliki Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT).

Baca Juga: Mentan Mendorong Pemenuhan Kebutuhan Pangan Asal Ternak Tercukupi

"Inilah fungsinya tempat (BBPOPT) ini. Memastikan bagaimana produk pertanian kita memiliki standar internasional. Dan tadi saya memberi pushing kepada balai yang ada di sini, balai pengamatan dan produksial atau peramalan dari OPT, tentu harus lebih baik dari masyarakat tani karena penerapan artifisial di sini dilakukan artifisial yang tentu dengan teknologi. Inovasi-inovasi yang kuat tentu harus lebih kuat," kata Mentan Syahrul Yasin Limpo, Rabu (15/12).

Dikatakan Mentan, ke depan, konsumsi makanan sehat akan menjadi tren dan kebutuhan dunia global. Kenyang saja menurutnya tidak cukup, tapi makanan yang terserap harus sehat. Oleh karena itu, peningkatan produksi harus disertai dengan peningkatan mutu, diantaranya dengan mengurangi penggunaan pestisida secara berlebihan dan menerapkan pola pertanian organik.

"Besok, 50 tahun lagi, penduduk Indonesia diperkirakan di atas 300 juta orang. Sementara lahan di Jawa Barat ini setiap tahun menyusut, nanti anak-cucumu mau dikasih makan apa?. Tiga bulan lagi saya akan ke sini. Akan melihat hasilnya yang saya lihat hari ini apa sesuai dengan penggunaan teknlogi yang dipakai," tegasnya.

Sementara, Kepala BBPOPT, Eni Tauruslina Amarullah menyampaikan bahwa BBPOPT didirikan dilatarbelakangi karena masih rendahnya produksi.

Menurut Eni, pengelolaan pertanian modern yang terintegrasi antara lain menerapkan teknologi budidaya tanaman yang dimulai dari hulu, on farm dan sampai hilirisasi kemudian mengintegrasikan teknologi mekanisasi pertanian dalam budidaya tanaman menyangkut perlindungan tanaman. (RZ/OL-10)

BERITA TERKAIT