12 December 2021, 14:35 WIB

Pasar Inklusi Dua Wutun agar Peduli Disabilitas


Alexander P. Taum | Nusantara

MI/Alexander P. Taum
 MI/Alexander P. Taum
Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday Membantu Mendorong kursi roda salah satu disabilitas asal Desa Dua Wutun.

LAIKNYA aktivitas di pasar, ratusan pengunjung tampak sibuk melihat, menawar kemudian membeli barang-barang yang dijajakan di lapak sederhana itu, pada Minggu petang (12/12)

Ada beras hitam, beras merah, beras jagung dalam kemasan, aneka kerajinan batok kelapa, anyam-anyaman dari daun lontar, ada tas sarung serta beragam kreasi sarung tenun, hingga sayur mayur bebas bahan kimia, dipasarkan di Pasar Inklusi Dua Wutun.

Seluruh produk yang dijajakan di pasar inklusi Desa Duawutun, merupakan hasil karya kelompok disabilitas dan rentan di Desa Dua Wutun, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Eksistensi kelompok ini didukung penuh oleh Pemerintah Desa, Kecamatan hingga Kabupaten dalam berbagai hal.

Kelompok rentan itu terdiri dari kaum difabel, perempuan kepala keluarga serta jompo, saat ini telah memiliki ruang untuk menjajakan hasil kerja mereka, demi peningkatan ekonomi berkelanjutan. Pasar Inklusi Desa Dua Wutun itu dibuka Setiap hari, diramaikan aneka kuliner.

"kelompok rentan ini kami advokasi dengan menggali pilihan usaha, putuskan dalam proses negosiasi bersama, Kemudian dibuat kontrak dalam masa pendampingan 8 bulan," ujar Eky Habel, Penanggung jawab program dari Lembaga Humanity & Inclusion (HI), Minggu (12/12).

Selain itu, HI juga menggalang dukungan pengusaha lokal yang tergabung dalam Perhimpunan Pengusaha Hotel dan Resto Indonesia (PHRI), Dekranasda, Bank NTT untuk menyerap sumber daya penyandang disabilitas yang selama ini didampingi.

"Berkat kerjasama dengan PHRI, ada beberapa sahabat difabel, direkrut menjadi karyawan pada rumah makan dan restoran. Mereka bahagia karena bisa menghasilkan uang untuk menopang ekonomi keluarga mereka," ungkap Eky Habel.

Dalam kerja-kerja advokasi nya, HI dan Cis Timor bersama CSO, antara lain Forum Penanggulangan Resiko  Bencana, LSM Mensa, Forum Komunikasi Difabel dan Keluarga, komunitas Tuli Lembata.

Advokasi juga dilakukan bersama badan penelitian dan pengembangan pembangunan daerah (Bapelitbangda), Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (koperindag), Dinas pertanian dan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD), agar hasilnya lebih inklusif," ujar Eky Habel.

Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday saat meresmikan beroperasinya pasar inklusi ini, Kamis (9/12) berjanji akan mereplikasi pembukaan pasar Inklusi di wilayah lain di Lembata, sebab menurut orang nomor satu di Lembata itu, pasar inklusi memiliki misi kemanusiaan yang mulia.

"Ada 33 pasar di Lembata, satu satunya pasar inklusi  hanya ada di Dua Wutun. Kalau ada pasar Inklusi maka ada juga yang eksklusif.Pembangunan di negara dengan pasar ekslusif, pembangunan berorientasi pada pertumbuhan, orientasi untung, untung dan untung, bila perlu menginjak injak yang lain. Itu orientasi pasar ekslusif. Pertumbuhan dinikmati beberapa orang. Apakah mereka bicara tentang anak putus sekolah," ujar Bupati Langoday.

Ia menyebutkan, Pembangunan ekslusif sangat jahat. Hutan dirusak saja, laut, mangrove dirusak, tanpa memikirkan bahaya.  "Terimakasih HI dan Cis Timor mengajak kita untuk berpikir tentang pasar dengan nilai nilai kemanusiaan, adat dan budaya, agama dan kearifan lokal. Memulai dengan apa yang ada pada rakyat. Difabel bisa diberi ruang, dan pasarkan karya mereka. Anak putus  sekolah, perempuan KK diberi ruang," ujar Bupati Langoday. (OL-13)

Baca Juga: Tersangka Pencurian Ternak di Sumba Barat Meninggal di Sel Polsek

 

BERITA TERKAIT